Ayam Dan Kambing Bagian 1

Kampung ramai. Janur kuning terpasang di sudut-sudut jalan. Semua tetangga, besar-kecil, tua-Muda, laki- perempuan, berkumpul di halaman Rumah Wak Putin. Menonton tetabuhan rebana, berebut uang receh bercampur beras yang dilemparkan, ikut mengarak rombongan besan dari kampung jauh yang sekarang siap beradu silat, berusaha menembus barisan pendekar tuan rumah.
Menembus gerbang pagar rumah Wak Putin.
“Langit selatan berjuta bintang
Gemerlap cahaya bagai pusaka
Jauh kaki melangkah datang
Hendak meminang anak paduka”
Kepala pendekar dari rombongan besan melantunkan pantun. Dia berdiri gagah, tangannya tersilang di dada. Matanya menatap berwibawa, tubuhnya tinggi besar, yakin sekali dengan mudah bisa menembus pertahanan keluarga mempelai putri, anak sulung Wak Putin.
“Langit selatan berjuta bintang
Gemerlap cahaya bagai pusaka
Sebelum jelas emas atau loyang
Tak boleh lewat anak paduka”
Kepala pendekar kampung kami berseru tidak kalah lantang, membalas pantun. Penduduk kampung yang ramai menonton riuh bertepuk tangan, memberikan semangat. Sial benar si mempelai pria, meski pendekarnya terlihat gagah, di hadapannya persis berdiri pendekar paling jumawa kampung kami. Lihatlah, pendekar kampung kami mengenakan pakaian adat terbaik, berdiri laksana tembok benteng, sama sekali tidak berkedip mengawasi mereka. Kalau sampai pertahanan kampung kami tidak tembus, bisa menangis pulang si mempelai pria, gara-gara urung kawin.
Aku Dan Ismail yang duduk menonton di atas pohon jambi di halaman Rumah Wak Putin ikut berseru-seru menyemangati. Siapa lagi pendekar gagah kampung kami kalau bukan Bapak.
“Air terjun tinggi tempat tujuan
Berhias pelangi indah Tak terkira
Kami datang baik-baik duli tuan
Jangan memancing muncul perkara”
Kepala pendekar rombongan besan melempar pantun lagi. Rebana Dan kendang dipukul lebih kencang, seruan-seruan semakin ramai. Situasi mulai tegang. Kepala pendekar dari kampung besan terlihat mendengus, memasang kuda-kuda. Dia terlihat again marah, terganggu dengan jawaban pantun Bapak barusan yang disampaikan dengan intonasi merendahkan.
“Air terjun tinggi tempat tujuan
Berhias pelangi indah Tak terkira
Apa pula maksud duli tuan
Rombongan tuanlah penyebab perkara”
Bapak menjawab pantun Itu sambil menggerakkan kakinya, ikut memasang kuda-kuda, bersiap dengan segala kemungkinan. Aku Dan Ismail semakin ribut berseru-seru, juga penonton lain. Kalau sudah begini, pertunjukan adu silat hanya soal waktu, bisa kapan Saja dimulai.
“Oi, tidak pernah dalam acara seperti ini, tuan rumah lancang menggunakan potongan pantun dari tamunya. Kau sungguh tidak tahu adat.” Entah apa pasalnya, Kepala pendekar rombongan besan berteriak kasar, melupakan tatakrama pantun.
“Kalau tidak pernah bukan berarti tidak boleh. Kau jangan merasa yang paling tahu adat.” Bapak menjawab ringan, juga melipat basa-basi pantun.
“Oi, kau seharusnya mengarang sendiri bait awal pantun, tidak mengulang. Kau seharusnya lebih cakap membuat rima pantun sendiri. Atau kau sengaja menghina mempelai pria dengan melakukannya.”
“Tidak Ada yang menghina siapapun.” Bapak menjawab kalem.
Aku Dan Ismail saling tatap. Astaga? Sepertinya situasi berjalan tidak lazim. Bukankah adu silat baru dimulai saat bertukar pantun selesai. Sekarang, mereka seperti bersiap bertarung bebas? Aku menggaruk kepala, Bapak juga tadi membalas pantun tidak seperti biasanya, Bapak sengaja mengambil seluruh potongan rima awal dari rombongan besan, menjawabnya langsung tanpa simbol-simbol atau sindiran-sindiran.
“Kau tidak menghargai rombongan besan!”
“Siapa yang tidak menghargai?” Bapak mendengus, kuda-kuda tangannya kokoh, bersiap menerima serangan kapan Saja. “Justru kaulah yang tidak menghargai kami. Berteriak-teriak macam ini.”
“Biarkan kami lewat!” Ketua pendekar mendelik.
“Silahkan Saja, kalau kau bisa.” Bapak tersenyum tipis.
Penduduk kampung yang bersorak-sorak sudah terdiam sejak pantun-pantun disingkirkan. Rebana Dan kendang diturunkan. Semua mata tertuju ke halaman Rumah Wak Putin. Tidak mengerti kenapa Dua Kepala pendekar jadi beradu mulut.
“Menyingkir! Jangan halangi kami!”
“Sepertinya kau mulai takut berkelahi denganku. Sayangnya, rajukan mesra kau ini tidak berguna. Jangan sampai kau membuat mempelai pria pulang menangis, Kawan.” Bapak jangankan menyingkir, berkedip pun tidak matanya.
“Dasar ular licik, makan jurusku!”
Sering dengan teriakan kencang Itu, Kepala pendekar rombongan besan sudah loncat mengirin jurus-jurus. Tubuh tingginya menyerbu ke depan. Bapak sudah menunggu, menangkis serangan today kalah gesitnya. Lincah bergerak Kiri kanan. Berhasil menangkis yang Pertama, juga yang kedua, PLAK! Tangan ketua pendekar rombongan besan berhasil menghantam dagu Bapak, membuat tubuh Bapak terjajar ke belakang tiga langkah.
Aku Dan Ismail berseru tertahan, juga penduduk kampung yang menonton. Astaga, mereka berkelahi sungguhan. Bukankah seharusnya Dua pendekar di belakang mereka yang beradu juris terlebih dahulu, berpura-pura saling mengalahkan hingga skornya sama, 1-1, lantas baru Kepala pendekar yang beradu silat, menutup acara ‘buka jalan’, dengan hasil yang gampang ditebak, pendekar tuan rumah pasti kalah (mengalah). Tetapi sekarang? Ini tidak sesuai scenario lagi.