Ayam Dan Kambing Bagian 2

“Kau tidak Akan pernah bisa melewatiku jika hanya begitu Saja jurusmu, Dasar Babi bunting!” Bapak meludah ke tanah becek, sisa hujan semalam.
Penonton berseru, Ada gumpalan darah dalam ludah Bapak. Dan belum habis seruan penduduk, Bapak sudah loncat menyerang. Tangannya cepat mencari celah, kakinya lincah menendang. Tubuh Bapak memang lebih pendek sepuluh senti, kalah kekar, jika dia memaksakan beradu fisik, dia pasti kalah. Kecepatan adalah kuncinya.
Tiga jurus terlewati. PLAK! Kaki Bapak dengan telak menghantam lutut ketua pendekar rombongan besan. Tubuh kekar Itu tersungkur, pakaian adatnya yang tadi bersih wanting, sekarang penuh lincak tanah.
“Lihat, dengan kemampuan serendah ini kau Akan membuat mempelai pria Pias.” Bapak tertawa tipis, mendengus ke arah seruan-seruan cemas di gerbang Rumah Wak Putin. Beberapa ibu-ibu yang Ada dalam rombongan besan terlihat panik, bagaimanalah ini? Kenapa jadi berkelahi sungguhan? Mempelai pria sudah melepas topinya, menyeka peluh di dahi, terlihat gugup.
Aku yang duduk di dahan pohon jambu juga melihat keributan kecil di atas Rumah panggung, ibu-ibu di sana tidak kalah paniknya. Mempelai wanita, anak sulung Wak Putin bahkan ikutan berdiri menonton, tegang. Bagaimanalah ini? Bisa urung menikah kalau pendekar tuan rumah tidak mau mengalah, Dan pendekar besan tidak berhasil menembus benteng pertahanan tuan rumah.
Kepala pendekar rombongan besan berdiri sambil menyeka licak di dada. Dia jauh dari kalah, dia masih segar bugar, maka tanpa ba-bi-bu lagi, dengan ganas menyerang Bapak. Perkelahian berlanjut. Dua pendekar Itu seperti tidak peduli dengan teriakan-teriakan cemas, tidak peduli kalau semuanya hanya ritual adat pernikahan.
Terlepas dari situasi yang tidak lazim ini, sebenarnya adu silat Bapak Dan Kepala pendekar besan sungguh memesona. Sejak aki paham Dan selalu menonton acara-acara ini, dari belasan pernikahan tetangga, baru sekarang aku melihat adu silat dalam artian sebenarnya. Juga bagi penduduk kampung lain, Pendi misalnya anak Lik Lan, Kepala stasiun kampung yang Menjadi salah Satu pendekar di belakang Bapak, setelah belasan jurus berlalu, mulai berseru-seru memberikan semangat. Dia mulai tertawa serunya pertarungan, padahal Pending ini bukan pendekar Melayu asli, dia seperti pegawai stasiun lainnya, datang dari Pulau Jawa.
Rebana Dan Kendang juga mulai dipukul kembali. Dengan irama yang tidak beraturan. Teriakan-teriakan menyemangati Bapak.
PLAK! Tubuh ketua pendekar besan terjatuh, lututnya berdebam ke licak tanah. Pukulan Bapak menghantam telak dadanya. Seruan-seruan kembali terdengar, aku bahkan hampir jatuh dari dahan pohon jambu karena kaget. Itu telak sekali. Pukulan sungguhan.
“Hentikan, hentikan…” Mempelai pria berusaha mendekati halaman Rumah Wak Putin, tetapi sesepuh kampungnya yang ikut dalam rombongan bergegas menahan. Selama benteng belun tertembus, jangankan mengucap ijab kabul, memasuki halamannya pun tidak boleh.
“Oi, oi… Bagaimana ini?” Mempelai pria berseru panik, terlihat benar dia cemas urung menikah, “ini sudah gila! Mereka harus dihentikan.”
PLAK! Sekali lagi Kepala pendekar besan terjatuh.
“Kau benar-benar Akan membuat mempelai pria menangis, Babi bunting!” Bapak mendesis tanpa ampun, melangkah mendekat, bersiap mengirimkan pukulan pamungkas.
“TIDAK AKAN!” Ketua pendekar rombongan besan berteriak kalap, loncat berdiri, “Kau tidak Akan pernah bisa mengalahkan aku, ular licik.”
SRET! Astaga? Kali ini aku benar-benar terjatuh dari dahan pohon, beruntung Ismail sempat menyambar tanganku. Penduduk yang menonton juga berseru, ibu-ibu dari mempelai pria Dan wanita menjerit, pukulan rebana Dan kendang terhenti, si Pendi lompat Dua langkah ke belakang, terperanjat. Lihatlah, Kepala pendekar rombongan besan telah mencabut pisau besar di pinggangnya. Berdiri dengan tubuh belepotan Lumpur, menatap garang Bapak.
SRET! Bapak juga mencabut pisau di pinggangnya.
“Hentikan! Hentikan perkelahian!” Ibu-ibu kampung kami berteriak, menuruni anak tangga.
“Oi, tahan mereka!” Beberapa pemuda mendekat.
“Pisahkan! Pisahkan!”
Terlambat, Bapak Dan ketua pendekar sudah saling mendekat, pisau-pisau terhunus, wajah-wajah bengis, dengusan napas. Aku meneguk ludah ngeri, Ismail di sebelahku memejamkan mata, tidak berani melanjutkan menonton perkelahian.
“Kau Babi bunting!”
“Kau ular licik!”
Kedua orang yang sama-sama Kotor oleh licak tanah itu loncat ke depan, Dan… Tertawa Satu sama lain. Bapak melemparkan pisaunya, Kepala pendekar besan juga menjatuhkan pisaunya, lantas mereka berpelukan erat sekali.
Oi? Aku sejenak tidak mengerti apa yang baru Saja terjadi. Ismail membuka matanya, menatapku meminta penjelasan. Aku mengangkat bahu, Mana aku tahu. Beberapa sesepuh kampung dari rombongan seberang ikut tertawa, menggoda mempelai pria, “Tentu Saja kau Akan menikah Hari ini, Buyung . Mereka berdua teman baik sewaktu kecil. Begitulah mereka memanggil Satu sama lain, Babi bunting Dan ular licik. Mereka dekat bagai saudara, akrab bagai kerabat. Bukan main, pandai sekali mereka berpura-pura berkelahi, hingga membuat kau berpeluh macam begini.”
Aku menghela napas Lega. Rebana Dan Kendang kembali dipukul berirama, shalawat Dan barjanzi memenuhi langit-langit halaman Rumah Wak Putin. Bapak Dan Kepala pendekar besan Itu terlihat tertawa-tawa sekarang, berbincang hangat. Bahkan berpelukan sekali lagi, seperti Dua sahabat lama yang kembali berjumpa. Ismail sudah meluncur turun. Aku ikut meluncur dari dahan pohon jambu, Ada yang lebih penting diurus. Selepas akad nikah, maka gulai kambing, gulai ayam mulai dihidangkan, perutku lapar, aku tidak mau kehabisan oleh anak-anak lain.