Ayam Dan Kambing Bagian 3

Tenda belakang Rumah Wak Putin dipenuhi panci-panci besar. Uap mengepul mengeluarkan aroma lezat, beberapa ibu-ibu tetangga cekatan mengisi mangkok-mangkok, mengaduk-ngaduk masakan, sementara yang lain menambah kayu bakar, menjaga nyala api tungku tetap menyala. Ke sanalah aku Dan Ismail melangkah.
Di atas Rumah panggung, setelah akad nikah selesai, tidak henti-henti hidangan makanan dikerumuni tamu Dan kerabat. Hampir seluruh penduduk kampung hadir. tua-Muda, besar-kecil, laki-perempuan, keluarga dekat, keluarga jauh, semua diundang. Termasuk musuh besarku, Rajo. Dia bersama Malik, terlihat melangkah mendekati tenda masakan. Membawa piring kosong. Aku yang juga membawa piring kosong, bergegas hendak mengurungkan diri, balik kanan, tetapi terlanjur, kami sudah saling lihat, Ismail juga menyeretku agar bergegas. Aku terpaksa tetap mendekati Makwo Jar yang sedang mengurus panci-panci gulai.
Tiba bersamaan dengan Rajo.
“Kalian mau gulai apa?” Makwo Jar menyeka peluh di dahi, uap panci membuatnya berpeluh. Baju kurung Dan tudung kepalanya terlihat basah, sudah sejak dari tadi pagi dia bertugas di tenda masakan. Tangan Kiri Makwo Jar merapikan anak rambut yang mengenai mata, tangan kanan memegang centong besar.
“Kambing, Mak.” Aku menjawab cepat, tidak mau didahului Rajo. Menyebut gulai kesukaanku.
“Ayam, Mak.” Rajo juga menyela cepat, tidak mau kalah, menjulurkan piringnya.
“Kau apa?” Make mengangkat kepalanya, memastikan permintaan kami, di depannya memang Ada Dua panci gulai yang berbeda.
“Kambing, Mak.”
“Ayam, Mak.”
“Oi, oi?” Malik Dan Ismail sejenak saling tatap Satu sama lain, menyadari Ada yang keliru dengan dialog barusan. Sejenak, lantas meledak sudah tawa mereka, memukulkan sendok ke piring plastik. Ismail menyikut perut Malik, “Lihat, ternyata mereka mengaku sendiri ‘kambing’ Dan ‘ayam’.”
Aku Dan Rajo yang tidak menyadari apa yang kami katakan menoleh ke mereka. Terdiam sejenak. Hingga kesadarannya Itu datang, astaga… Apa yang baru kami bilang. Makwo Jar bertanya ke kami, “Kau apa?” Lantas kami masing-masing menjawab, Kambing Dan ayam. Muka kami merah padam seiring kembalinya ingatan kalau sudah Dua bulan lebih kami bertengkar hanya gara-gara saling olok soal Itu.
“Kalian masih mau gulainya, tidak? Masih banyak yang menunggu di belakang Kalian.” Makwo Jar memukulkan centong besarnya ke panci, menyeringai galak.
Aku Dan Rajo sudah tersenyum canggung. Menyeringai salah tingkah Satu sama lain. Meski lebih mirip seringai kuda, Itu jelas seringai perdamaian.
Akhirnya setelah dua bulan tidak saling tegur, kami berbaikan.
Sayangnya, esok Lusa, persis Dua minggu kemudian, aku Dan Rajo berpisah selamanya. Padahal, benarlah kata orang-orang bijak, selepas sebuah pertengkaran, Dua musuh bisa Menjadi teman baik. Apalagi Dua sahabat, selepas pertengkaran, mereka bisa Menjadi sahabat sejati.
Takdir, semua seperti terlambat datang.