Badim Bagian 1

Amsterdam – Jakarta, 14 tahun kemudian
Aku tahu Kalian pasti penasaran, bukan? Oi, Kalian sepertinya sama seperti Ismail, malas berpikir, tidak mau capai-capai menghubungkan kisah ini Satu sama lain, lantas berusaha sendiri menyimpulkan jawabannya apa. Kalian sepertinya lebih suka bertanya, menunggu jawaban Itu datang dari orang lain.
Terus terang saja, aku juga tahun-tahun terakhir tidak terlalu memikirkan teka-teki Itu, terbenam dengan kesibukan sekolah Dan kuliahku.
Sekali-dua kenangan tentang kampung datang menyela aktivitas, membuat tersenyum, tertawa sekaligus terharu. Masa-masa kecil yang istimewa. Sayang, Itu hanya sejenak, tugas penelitianku sudah menumpuk menunggu. Aku konsentrasi penuh mengejar gelar doktoral secepat yang bisa kulakulan.
Aku tidak seberuntung Ismail yang punya teman Tuan Nakamura, hingga SMA aku masih sekolah di Kota kabupaten. Jalan baru terbuka bagiku ketika kuliah, aku diterima universitas terbaik di Jakarta, Dan apa kata bijak itu? Sekali pintu Pertama terbuka, maka kunci-kunci pintu berikutnya juga diperoleh. Kesempatan Itu datang susul-menyusul, termasuk melanjutkan kuliah di negeri kincir angin.
Speaker pesawat mengumumkan sebentar lagi Airbus jumbo yang aku tumpangi Akan mendarat di Jakarta. Aku menghela nafas pelan, melipat Surat dari Ismail, memasukannya ke saku. Melemaskan kaki Dan tangan. Penerbangan Dua belas jam tanpa jeda Amsterdam-Jakarta cukup melelahkan, apalagi dengan bangku kelas ekonomi.
Dua Hari lalu Dua lembar surat Ismail tiba. Sepertinya tidak Ada bedanya dengan surat-surat dia selama ini, mengabarkan Tokyo sedang bersalju di mana-mana juga sedang bersalju, tidak penting. Ismail juga bilang proses pendaftaran kuliah dia lancar, Satu fakultas dengan Keiko yang cantik, Tuan Nakamura Dan istrinya baik hati mengajak dia ke perfekture Hokaido, mengunjungi banyak tempat. Menganggapnya sudah seperti keluarga sendiri bahkan Isnail menulis suratnya, Tuan Nakamura malah sudah bicara soap pernikahan. Aku tertawa, membayangkan wajah Ismail bersanding dengan Keiko. Oi, adik kecilku yang sok tahu Itu memang sudah Besar.
Yang membuatku tersentak lantas terdiam lama adalah, ternyata Ismail menulis sepotong kisah yang telah kami lupakan, sepotong kisah kenapa Bapak bersumpah Demi Allah tidak Akan pernah menembak lagi. Awalnya aku pikir cerita ini tidak terlalu penting, tidak Ada konteksnya selain urusan tembak-menembak. Ternyata aku keliru, cerita ini Menjadi petunjuk paling jelas app maksud teka-teki paling hebat Wak Yani. Oi, akhirnya Aku berhasil menghubungkan seluruh rangkaian cerita. Aku tahu jawaban teka-teki harta kampung paling berharga Itu.
Berikutnya kutuliskan ulang Surat dari Ismail:
“Malam Itu, hujan deras membasuh kampung. Jalanan becek, beranda Rumah panggung tampias, seluruh lampu canting Dan obor diparamkan. Seluruh kampung dicekam ketakutan. Tubuh-tubuh meringkuk di kamar, wajah-wajah pias. Satu saja suara letusan terdengar di Luar, bisa membuat anak-anak Dan remaja tanggung terpentingnya di celana.
“Mereka tidak hanya membawa uang masjid, menguras habis harta benda penduduk, mereka juga membawa beberapa anak-anak…” Wak Yani menggelengkan Kepala, bibirnya berdarah-darah, dahinya lebam terkena pukulan benda tumpul.
“Lantas kemana pemuda kampung, hah?” Bapak berseru marah, “Bagaimana mungkin mereka membiarkan Itu terjadi.”
“Laki-laki kampung tidak berani melawan, mereka lari menyelamatkan diri ke hutan-hutan. Jumlah kawanan Itu puluhan, membawa senapan angin Dan pisau Besar.” Wak Yani meringis menahan perih, suaranya bergetar, “Kawanan Itu tidak segan membunuh… Zarnubi, kakak kau meninggal karena melawan. Mereka juga membawa Dua anakki pergi.”
Bapak memukul tiang balai-balai kampung, mengeluarkan suara puh keras. Zarnubi Itu adalah suami Wak Yani, sedangkan Dua anak Wak Yani masing-masing berusia tiga belas Dan enam belas tahun. Bapak diyemani Bakwo Jar baru tiba dari perjalanan jauh, pulang dari merantau. Sudah tidak sabar hendak bertemu sanak-kerabat, waktu Itu Bapak belum menikah. Tidak pernah menduga justeru kesedihan yang menyambutnya. Kampung terlihat gulita, seolah tidak Ada Kehidupan, Rumah terkunci rapat, tidak Ada siapa-siapa di sana Dan suara tangisan terdengar kencang dari balai-balai kampung.
Bapak menatap seluruh ruangan, hanya Ada beberapa laki-laki dewasa, pemuda tanggung serta ibu-ibu yang menangis, meratapi anak-anak mereka yang dibawa pergi.
“Ambilkan senapan anginku.” Bapak menyuruh Bakwo Jar yang mematung melihat beberapa mayat terbujur Kaku di tengah ruangan.
“Apa yang hendak kau lakukan?”
“AMBILKAN SENAPAN ANGINKU!” Bapak meneriaki Bakwo Jar.
“Kau tidak Akan menyusul Kawanan perampok Itu?”
“Ya, aku Akan melakukannya. Demi Allah, mereka boleh Saja mengambil uanh masjid, seluruh harta Kita, membawa binatang ternak, perhiasan, apa Saja, tetapi mereka jangan coba-coba menculik anak-anak Kita… Mereka tidak bisa melakukannya.” Bapak menyeka ujung matanya, rahangnya mengeras, giginya bergemeretuk.
Bakwo Jar terdiam, juga laki-laki dewasa lain.
“Kau ikut atau tidak, Kalian Akan membantu atau tidak, malam ini juga hidup-mati aku Alan mengejar Kawanan perampok Itu.” Bapak menabalkan niat, kalimatnya mantap sudah, lantas dengan gagah Bapak berlarian keluar dari balai-balai kampung, menembus gerimis yang semakin menderas.
Jaman Itu, Kampung-kampung pedalaman memang sering didatangi gerombolan perampok. Kalau dirunut panjang ke belakang, mereka masih sisa-sisa dari gerakan pemberontak yang marak terjadi belasan tahun sebelumnya. Mereka bertahan hidup dengan menjarah harta penduduk Dan menculik anak-anak tanggung agar bisa dididik Menjadi Bagian dari gerombolan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *