Badim Bagian 2

Malam Itu, bersama Bakwo Jar Dan beberapa laki-laki dewasa yang keberaniannya muncul kembali, Bapak menerobos hutan, mengejar Kawanan Itu. Mereka belum jauh, dengan harta rampasan Dan anak-anak, gerakan mereka terbatas.
Persis ketika semburat Pertama matahari menyentuh dasar hutan, perampok Itu berhasil dikehar. Jumlah mereka tujuh Kali lipat, tetapi di tengah hutan lebat, jumlah tidak penting lagi. Bapak menggigit bibir, menyiapkan puluhan peluru di kantongnya, mengokang senapan Dan dimulailah pembantaian. Apa yang dulu pernah dibilang Bakwo Jar? Tidak Ada yang mengalahkan Bapak soal melepas tiga tembakan dalam waktu Lima belas detik tanpa meleset sesenti pun. Kawanan perampok Itu jatuh bertumbangan. Panik berseru-seru, membalas menembak, percuma, di tengah remang pagi, mereka tidak tahu persis dari Mana tembakan berasal.
Setengah jam berlalu, sisa Kawanan Itu mulai berhitung dengan situasi, mereka melarikan diri ke hutan lebat. Dari sepuluh anak yang diculik, delapan diantaranya selamat. Dua meninggal tertembus timah panas, Dan dua-duanya adalah anak Wak Yani. Tidak Ada yang tahu, senapan angin siapa yang telah mengenai Dua anak Wak Yani, yang pasti sejak itulah Bapak bersumpah tidak Akan lagi menembak. Dan sehak saat itulah Wak Yani hidup sendiri.
Kegembiraan sekaligus kesedihan Besar mengungkung seluruh kampung saat Bapak pulang bersama delapan anak-anak. Wak Yani terisak lama, memeluk Bapak yang juga menangis tidak bisa membawa anak-anak Wak Yani dengan selamat, “Tidak mengapa… Tidak mengapa… Anak-anakku meninggal Demi yang lain terselamatkan. Kau telah melakukan Hal yang benar… Mereka-lah harta sejati milik kampung Kita. Mereka-lah sungguh harta Karun paling berharga kampung Kita.”
Aku melangkah takjim di sepanjang lorong garbarata, menatap beberapa pesawat yang terparkir dekat belalai keberangkatan. Tentu saja jawaban teka-teki Itu tidak seperti yang kubayangkan, Wak Yani tidak sedang bicara tentang ‘harta karun’ seperti yang selama ini dipahami banyak orang. Itu bukan tentang berjuta ton batubara yang terpendam di bawah tanah kami, beribu kilogram emas Dan perak, ribuan hektar hutan-hutan kami yang sekarang dibabat habis untuk lahan kelapa sawit, Itu juga bukan tentang koin-koin emas keluarga Van Houten yang ditemukan di loteng masjid kampung atau celengan indah Naga Dan peri-peri milik Nek Kiba.
Kamilah harta Karun paling berharga kampung.
Anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan Alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampung. Kamilah generasi berikut yang bukan hanya memastikan apakah hutan-hutan kami, tanah-tanah kami tetap lestari, tetapi juga apakah Kejujuran, harga diri, perangai yang elok serta kebaikan tetap terpelihara di manapun kami berada.
Aku langsung memasukan beberapa pakaian ke dalam tas saat selesai membaca Surat Ismail. Lupakan soal penelitianku, lupakan tugas kuliah yang menumpuk. Aku bergegas menelpon agen perjalanan, memesan karcis pulang ke Jakarta. Aku pernah berjanji kepada Wak Yani, sekali saja aku tahu jawaban teka-teki hebatnya, maka aku Akan berlari datang kepadanya. Menjawabnya kencang-kencang tidak peduli meski Itu hanya di atas pusara kuburannya.
Aku memang berhasil menjawab teka-teki ini, tetapi sebenarnya aku tidak tahu semua Hal. Aku tetap tidak tahu apa yang dilakukan Mamak sehingga membuat seluruh kampung bersinar seperti yang diceritakan Nek Kiba saat memperlihatkan celengan Naga Dan peri-perinya. Mungkin Esok-lusa Amel atau Ayuk Lia yang tahu jawabannya.
Bandara terlihat ramai.
Mataku silau terkena cahaya matahari.
“Oi, kambing… Apa kabar?” Suara khas Itu menyapaku.
Aku menoleh, lalu lalang orang di lobi kedatangan menahanku.
“Lihat, si kambing sepertinya sudah mulai melupakan teman baiknya.” Pemuda gagah Itu tertawa di depanku, mengenakan seragam penerbangan angkatan udara, tangannya terlentang.
“Oi, Rajo!” Kaukah Itu?” Aku tersedak.
“Siapa lagi yang mau bercapai-capai menjemput kau di bandara selain aku?” Rajo tergelak, lompat memelukku erat-erat. “Kau may kuterbangkan sekarang juga menuju kampung Kita?”
Aku tertawa memeluknya.
“Kau tidak membawa bagasi, Badim?” Suara merdu Itu menyapa.
“Bunga?” Mataku membulat, melihat gadis cantik bersweater biru, berdiri di belakang Rajo.
“Itu bukan Bunga, kawan.” Rajo memotong, “Itu istriku yang cantik.”
Aku meninju bahu Rajo. Pandai sekali dia berkelakar.
“Penerbangan kau terlambat sekali dari Amsterdam, Badim. Rasanya sudah jadi Batu Saja kami menunggu. Hampir ku telpon balik Amel, hendak memarahinya, siapa tahu dia jahil salah memberikan jadwal. Beruntung Ismail lebih dulu memastikan kau memang terlambat. Ayo, Kita bergerak. Kau ingin tiba di kampung sebelum matahari terbenam, bukan?”
Aku tertawa, mengangguk, merengkuh erat bahu Rajo. Sungguh tidak menyangka Rajo Dan Bunga yang Akan menjemputku di bandara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *