Gendong Bagian 1

Karena lelaki itu hampir selalu menghabiskan sepanjang harinya untuk tidur mlungker di serambi masjid, orang pun menjulukinya Gendon. Ia adalah lelaki tunanetra yang tidak begitu jelas asal usulnya. Tiba-tiba saja dia sudah berada di masjid kampungku dan menyerahkan seluruh hidup matinya pada warga di sekeliling masjid.

Tidak seorang pun tahu pukul berapa ia datang, diantar siapa, dan berasal dari mana. Orang-orang kampung hanya mencatat dalam ingatan masing-masing, bahwa pagi itu, ketika waktu subuh tiba, mereka dikejutkan oleh suara adzan yang sangat aneh dari mesjid tua di tengah kampung itu.

Suara adzan yang dikumandangkan dengan bantuan corong dari seng itu segera membangunkan warga sekitar masjid kecil yang lebih layak disebut sebagai mushalla. Orang-orang kaget karena sudah cukup lama masjid itu sepi dari suasana azan subuh. Bahkan, hampir tidak pernah digunakan untuk sembahyang berjamaah kecuali pada hari jumat.

Begitu azan terdengar, Bu Rahmat, menantu almarhum Kiai Hasan yang rumahnya bersebelahan dengan masjid, langsung terbangun. Ia merasakan seperti ada suara malaikat yang terdengar begitu keras di telinganya dan menghentak seluruh syarafnya. Suara adzan yang melengking tinggi itu seperti mengiris-iris hatinya sampai ngilu.

Bu Rahmat lantas menengok suaminya. Ia rupanya juga sudah terbangun oleh suara adzan itu. Dalam keremangan cahaya listrik lima watt, Pak Rahmat, anak tertua Kiai Hasan, tampak duduk memeluk lututnya sambil memperhatikan suara aneh itu. Akan tetapi, kemudian dia menguap dan tidur lagi samba menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

Karena penasaran pada suara adzan itu, Bu Rahmat keluar menuju masjid. Tanpa diduga, beberapa tetangganya yang tinggal di kanan kiri masjid juga ikut keluar untuk mengintip pemilik suara aneh yang menggetarkan hati itu.

“Suara siapa itu, Bu,” Tanya seorang tetangganya.
“Saya tidak tahu. Saya mau melihatnya,” jawab Bu Dani sambil bersijingkat ke jendela samping masjid.
“Siapa, Bu?” Tanya tetangganya lagi.
Bu Rahmat hanya menggeleng.

Para tetangganya kemudian ikut mengintip pemilik suara aneh itu. Namun, tidak seorangpun mengenal lelaki kurus bersarung, berhem putih dan berpeci lusuh yang dengan penuh perasaan mengalunkan adzan subuh.

Selesai adzan, lelaki itu membaca shalawat Nabi, Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Ya rabbi shalli ‘alaihi wa salim… cukup lama. Karena tidak ada seorang pun yang datang untuk berjamaah subuh, baik imam maupun makmum, akhirnya lelaki itu mengumandangkan qomat.

Bersamaan dengan geletar suara qomat, tiba-tiba muncul degupan aneh di dada Bu Rahmat. Degupan itu kemudian dengan begitu kuat menyeret langkahnya ke tempat wudhu dan menggerakkan tangannya untuk berwudhu serta melangkah kembali ke masjid. Ia lalu mengambil mukena di lemari masjid dan berdiri di belakang lelaki asing itu untuk menjadi makmumnya.

Langkah Bu Rahmat rupanya diikuti oleh beberapa tetangganya yang ikut mengintip di jendela masjid. Mereka pun melakukan shalat subuh untuk pertama kali di masjid itu sejak meninggalnya Kiai Hasan tiga tahun lalu.

Usai shalat, orang asing itu menyalami Lek Sodik, salah seorang tetangga Bu Rahmat yang ikut berjamaah. Mereka pun kaget melihat mata lelaki itu. Orang asing itu ternyata tuna netra.

“Lho, Bapak tidak bisa melihat?” Tanya Bu Rahmat.
“Ya, Bu,” jawab lelaki itu.
“Bapak dari mana?” Tanya Lek Sodik.
“Mengapa Bapak tiba-tiba ada di sini?” Tanya yang lain.
“Saya sendiri tidak tahu, saya ini berasal dari mana. Sejak kecil saya hidup dari masjid ke masjid. Sehabis sembahyang malam di masjid terakhir tempat saya tinggal yang tidak saya ketahui namanya dan daerah mana, tiba-tiba ada seseorang yang membawa saya. Saya dibawa naik mobil dan diturunkan di sini. Ketika saya Tanya, siapa dia dan akan membawa saya ke mana, dia hanya bilang bahwa saya akan tahu sendiri nanti dan saya dilarang bertanya lagi. Setelah saya diturunkan dia hanya berkata, di sinilah tempatku yang baru,” cerita lelaki buta itu.

“Lantas, siapa namamu?” Tanya Bu Rahmat.
“Namaku Raharjo, Bu.”
“Lalu, keluargamu di mana?”
“Saya tidak punya siapa-siapa, Bu. Tidak punya keluarga, tidak ada yang tahu saya anak siapa. Sejak kecil saya buta dan sejak kecil pula saya tinggal dan hidup di masjid. Sejak kecil saya hhidup dari belas kasihan orang-orang di sekitar masjid yang tiap hari secara bergiliran member makan saya,” cerita Raharjo.
“Kalau begitu, tinggal saja di masjid ini. Sudah lama masjid ini tidak ada yang mengurus. Kalau waktu shalat tiba juga tidak ada yang adzan. Soal makan, jangan khawatir. Saya akan memberimu setiap hari,” kata Bu Rahmat.
“Saya juga bersedia memberimu makan,” sambung Lek Sodik.
“Saya juga,” ujar yang lain.
“Kalau begitu kami akan member makan secara bergiliran,” ujar Bu Rahmat sambil menyentuh dengkul lelaki buta itu.