Gendong Bagian 2

Maka, sejak hari itu hidup mati Rharjo pun menjadi tanggungan warga di sekitar masjid kampungku. Bu Rahmat mengatur giliran member makan Raharjo sehari tiga kali. Mula-mula di mata warga setempat lelaki itu tampak menyenangkan. Ia sangat wajin mengurus masjid, adzan setiap waktu shalat tiba dan mengaji hampir sepanjang hari. Masjid yang semula sepi dan terbengkalai itu menjadi ramai kembali.

Anggapan masyarakat terhadap Raharjo pun terus berkembang. Ia tidak lagi sekedar dianggap sebagai muazin dan pemakmur masjid, tetapi juga dianggap sebagai wali tiban. Orang-orang pun berebutan memberinya makan dan memanjakannya. Raharjo semakin lama bertambah gemuk saja.

Bukan begitu saja. Raharjo, sebagai wali tiban, juga menjadi tempat tumpahan suka dan duka warga kampung. Bahkan, juga semacam konsultan agama, keluarga, dan segala macam persoalan kampung.

Semakin lama Raharjo semakin sibuk melayani orang-orang kampung. Setiap hari selalu ada persoalan yang diadukan kepadanya. Bahkan, kemudian banyak juga yang menanyakan nomor buntut SDSB yang bakal keluar. Hal yang paling membuatnya tidak tahan adalah semakin banyaknya orang yang suka memancing-mancingnya untuk ngrasani warga kampung yang dianggap punya borok, ngrasani Lek Somad yang anaknya menjadi perawan tua, Surinah yang hamil tanpa suami, Pak Mulyawan yang kayaa mendadak dan dianggap punya tuyul, Pak Kusno yang korupsi, atau Pak Kadus yang memanipulasi uang proyek irigasi, dan banyak lagi. Inilah yang membuat dia terpaksa memutuskan untuk menutup forum konsultasi gratisnya dan memilih tidur untuk mengisi waktu luangnya.

Raharjo segera minta tolong seorang pemuda kampung untuk menulis ‘ Mulai hari ini tidak terima tamu’ pada selembar kertas karton. Kertas ini ia pasang pada dinding serambi masjid. Setiap habis makan pagi, makan siang, dan makan malam dia tidur di bawah tulisan itu. Ia hanya bangun tiap waktu adzan tiba, kemudian sembahyang, amkan dan tidur lagi. Ini berjalan sampai berbulan-bulan hingga warga kampung menjulukinya ‘Gendon’.

“Untuk menghindari dosa lebih baik saya tidur,” jawab Raharjo ketika Bu Rahmat menanyakan perubahan kebiasaannya yang mendadak itu, tanpa mau menjelaskan dosa apa yang dimaksudnya.

Semula orang-orang kampung maklum saja atas perubahan kebiasaan Raharjo itu. Karena, mereka terlanjur menganggapnya sebagai wali tiban. Mereka menganggap wajar, bahwa seorang wali kadang-kadang memang suka berbuat yang aneh-aneh. Mereka ingat, misalnya, Wali musafak dari desa sebelah yang kalau berjalan selalu menunduk sambil menyingkirkan apa saja dari batu-batu sampai sampah dan daun kering dari tengah jalan. Atau, Wali Hasbullah, yang selalu mengunjungi keluarga yang dililit hutang dengan sekantung uang yang kadang-kadang bercampur kertas dan daun-daunan.

Karena itu, warga kampung dengan suka rela tetap member makan pada Raharjo sesuai giliran masing-masing. Sampai pada suatu ketika desa mereka dilanda musim paceklik, sawah-sawah diserang hama wereng, dan panen gagal total. Warga kampung mulai keberatan untuk member maakan Raharjo. Konflik tentang Raharjo pun mulai muncul.

“Maaf, Bu Rahmat, mulai besok saya tidak sanggup lagi member makan Raharjo,” kata Mbok Sodik di serambi rumah Bu Rahmat. “Sawah saya kena wereng semua, tidak bisa dipanen. Untuk makan sendiri saja kurang, Bu.”
“Saya juga tidak bisa lagi, Bu,” sambung Bu Parman.
“Saya juga tidak bisa,” timpal yang lain lagi.
“Aduh! Apa harus saya yang menanggung semuanya sekarang. Sawah saua juga kena wereng. Ibu-ibu ini bagaimana? Beban saya kan terlalu berat nanti. Apalgi sekarang Raharjo makannya semakin banyak. Ibu-ibu dulu kan sudah sanggup untuk membantu,” jawab Bu Rahmat dengan nada kecewa.
“Habis bagaimana lagi, Bu? Keadaan kami sedang benar-benar paceklik,” Kata Mbok Sodik.
“Bagaimana kalau Raharjo kita suruh pindah saja ke masjid lain,” usul Bu Parman.
“Ya, kita suruh pindah saja. Lagi pula dia sekarang kerjanya Cuma tidur saja, mlungker seperti gendon,” kata yang lain.
“Apa tidak kasihan dia?”
“Kasihan bagaimana? Kita sendiri sedang kekurangan makan.”
“Salah kita, dulu kita sanggup member makan dia.”
“Sudahlah! Biar saya saja yang member makan,” kata Bu Rahmat akhirnya.

Akan tetapi, keputusan Bu Rahmat itu menimbulkan konflik tersendiri dengan suaminya. Pak Rahmat keberatan untuk menanggung seluruh kebutuhan hidup lelaki tunanetra itu. Bahkan, Pak Rahmat kemudian memutuskan untuk memindahkan Raharjo ke masjid lain secara diam-diam.

Malam itu, sehabis waktu isya, Pak Rahmat bermaksud ‘membuang’ Raharjo ke luar kampung. Ia mengambil sepedanya untuk memboncengkan lelaki itu. Akan tetapi, begitu dia memegang stang sepedanya, tiba-tiba terdengar suara derum mobil yang berhenti di depan masjid. Sesaat kemudian, derum itu mengeras dan lenyap tiba-tiba.

Pak Rahmat cepat-cepat memburu suara itu, tetapi tidak menemukan apa-apa di depan masjid. Dengan penasaran dia lantas menengok ke masjid. Tidak ada siapa-siapa. Raharjo, yang biasanya tidur di serambi masjid, juga tidak kelihatan lagi. Ia lantas mencarinya ke seluruh sudut masjid, ke WC, kamar mandi, dan tempat wudhu. Tetap saja lelaki tuna netra itu tidak ditemukan.

“Bu, Raharjo hilang!” teriak Pak Rahmat.

Bu Rahmat pun segera ikut mencari Raharjo, begitu juga orang-orang sekitar masjid. Bahkan, mereka juga mencarinya ke seluruh sudut kampung. Raharjo tetap tidak ditemukan. Anehnya, tidak ditemukan jejak ban mobil di depan masjid, padahal tanah di depan masjid basah dan agak lebek karena baru saja turun hujan, hujan yang juga aneh karena tiba-tiba turun di tengah musim kemarau.

Warga kampung makin terheran-heran ketika kemudian menemukan pesan Raharjo tertulis pada selembar kertas yang tergeletak di pintu masjid:

Assalamu ‘alaikum,
Bapak-bapak dan ibu-ibu tidak perlu repot-repot memikirkan makan saya lagi. Juga tidak perlu susah-susah memindahkan saya ke masjid lain. Sebab, sang Gendon kin telah berubah menjadi Kwangwung. Dengan sayapnya kini sang Kwangwung terbang ke langit. Terima kasih atas semua makanan yang diberikan kepada saya selama ini. Semoga Allah membalasnya dengan setimpal.
Wassalam.
(Raharjo)

Warga kampung semakin yakin bahwa lelaki tunanetra itu benar-benar wali thiban yang raib kembali karena tugasnya di masjid tua tersebut telah selesai.

TAMAT