Harta Karun Kampung Bagian 1

Shalawat Dan barzanji sudah selesai dibawakan.
Hidangan sudah terhampar, dimakan Dan dibereskan kembali. Aku bolak-balik membawa piring Kotor, melipat tikar, membersihkan halaman masjid Dan tugas lainnya mulai merasa jadi petugas penghidang tidak selalu menyenangkan.
Orang-orang dewasa sudah menaiki atap masjid, mengambil posisi masing-masing. Anak-anak kecil sudah berhenti berlarian. Ibu-ibu Dan anak gadis juga antusias melihat, Kepala terdongak ke atas.
Aku ikut bergabung dengan Nur, menaruh tangan di dahi, berusaha melindungi Mata. Silau, matahari pukul sepuluh menyinari wajah-wajah kami.
“Kalian siap, Juhro, Pendi?” Bapak meneriaki Juhro Dan Pendi yang berdiri di anak tangga, yang diteriaki mengacungkan jempol. Bakwo Jar juga mengangguk, Dan Wak Putin yang berada di puncak atap masjid juga melambaikan tangan, tidak Ada masalah.
Perbaikan masjid kampung kami dimulai.
Dimulai dengan membongkar atapnya.
Saat kepala-kepala terdongak, asyik menonton, saat Wak Putin mulai membongkar penutup paling puncak atap yang mengerucut, bayangan raksasa Itu datang.
“OI!!! APA ITU?” Nur, yang berdiri di sebelahku berseru kencang.
Seruan yang tidak perlu, karena seluruh Kepala terdongak penduduk juga melihatnya. Awalnya tidak menyadari kehadiran ‘monster’ Itu, karena semua Mata tertuju ke atap masjid. Tetapi karena matahari persis Ada di atasnya masjid, monster Besar Itu terlihat sudah.
“Oi, apa Itu?” Amel yang berdiri di sebelahku bertanya tertahan, dengan suara mencicit. Ismail terloncat mundur. Seruan-seruan gentar. Anak-anak yang lebih kecil dari Amel bahkan loncat berlindung di balik punggung ibu masing-masing.
Ketakutan dengan cepat menyebar di halaman masjid.
Lihatlah, di atas sana, Ada bayangan raksasa yang bersiap menelan matahari. Persis seperti nampah Besar, bentuknya hitam legam, garisnya mulai bersentuhan, pinggiran matahari sudah mulai ditelannya. Aku meneguk ludah, kakiku gemetar, menyerahkan sekali.
“JANGAN LIHAT KE ATAS!!!” Pak Bejo yang Ada di atap masjid berteriak panik. “JANGAN LIHAT KE ATAS!! BERBAHAYA!!”
Pecah sudah keributan di halaman masjid. Selepas teriakan Pak Bejo, semua kocar-kacir. Ibu-ibu mencari anak masing-masing Dan sebaliknya anak-anak mencari ibunya.
“Maak….” Amel sudah lari memeluk Mamak, ketakutan. Bukan hanya karena takut melihat monster yang bersiap menelan matahari, tetapi karena Mamak bergegas menyeretnya, menutup matanya, mencegah mendongak.
Anak-anak kecil mulai menangis. Ismail di sebelahku masih sembunyi-sembunyi mendongak, mencoba mengintip, aku sudah membawanya ke kolong masjid. Berlindung. Meaning aku tidak mengerti, perintah Pak Bejo barusan harus dituruti.
“BERBAHAYA!!! JANGAN LIHAT KE ATAS!! Oi, Dullah, kau suruh pemuda segera turun dari atap masjid. Putin, astaga, kau bergegas turun, jangan dilihat, kau nanti bisa buta!” Pak Bejo meneriaki beberapa orang.
“Jangan dilihat Ismail. Jangan dilihat!” Aku ikut menahan Ismail yang entah apa di pikirannnya, malah berontak hendak keluar dari bawah masjid.
Ibu-ibu sibuk menenangkan anak masing-masing, membawa mereka ke kolong masjid.
“Mak… Apakah kiamat sudah datang?” Ismail dengan suara bergetar, bertanya. Seram sekali memang melihat raksasa hitan Itu berangsur menelan matahari.
“Oi,” suara tua Nek Kiba terdengar menyergah Ismail, “Kau seperti orang tidak beragama, tidak ber-Tuhan. Kau seperti tidak pernah belajar mengaji padaku. Kiamat tidak Akan datang sebelum matahari terbit dari barat, dajjal sudah keluar. Tidak Ada manusia, buku, benda atau binatang sekalipun yang bisa menebaknya.”
“Ta-pi… Ta-pi Itu apa?” Ismail mencicit, sekarang lebih takut menahan air muka marag Nek Kiba, takut tongkat rotan Nek Kiba dipukulkan kepadanya.
“Itu gerhana, Ismail… Gerhana matahari.” Mamak menjelaskan. “Meski jarang sekali terjadi, gerhana matahari normal-normal Saja. Gejala Alam biasa.”
“Mak, tapi kenapa semua terlihat gelap.” Amel merapat, mencengkram paha Mamak.
“Memang Akan gelap, Amel.”
“Bagaimana kalau selamanya gelap?”
Mamak menggeleng, berusaha menenangkan.
“Bagaimana kalau mataharinya jatuh, Mak?” Ismail yang sekarang bertanya.
“Kalian berhenti bertanya yang bukan-bukan. Nim, suruh semua anak-anak berwudhu.” Nek Kiba menyela Ismail, tertatih dengan tobgkatnya, “Bejo, oi, kau suruh salah satu pemuda dewasa adzan di atas sana,” enteng meneriaki Pak Bejo, “Kita akan menggelar shalat gerhana. Hentikan semua kekacauan, tangisan, semua baik-baik Saja… Aku bahkan sudah delapan puluh tahun selalu berharap bisa melakukan shalat seistimewa ini.”
Hari Itu, siang Itu, gerhana matahari total membungkus kampung kami saat renovasi masjid Akan dimulai. Jaman Itu tidak Ada yang memberikan kabar lewat televisi hitam putih punya Bapak kapan tamu spesial ini Akan datang. Tidak Ada juga yang menjelaskan seperti apa rasanya gerhana matahari, kecuali buku-buku pelajaran yang seadanya.
Aku gentar sekali saat melihat seluruh kampung mulai gelap. Suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Lenguh binatang dari dalam hutan terdengar nyaring, mungkin anjing liar. Kelelawar (atau mungkin juga burung) yang terbang memenuhi langit-langit kampung. Kelepak sayap mereka seperti orkestra seram. Tetapi Demi melihat langkah tua Nek Kiba yang tertatih mengambil wudhu dari pancuran Bambu, suara adzab diserukan dari atap masjid, aku tahu, Ada yang lebih spesial dibandingkan gerhana Dan gejala Alam ini.
Bergegas menarik Ismail untuk ikut berwudhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *