Harta Karun Kampung Bagian 3

“Frankly speaking, schat, aku justru berharap kau tidak Akan pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan harta Karun paling berharga Itu. Dengan demikian kau Akan selalu berpikir, selalu menghargai prosesnya.” Wak Yani terkekeh, membuka tutup panci, aroma kolak Ubi tercium lezat.
Ismail Dan Amel sudah loncat dari tempat duduknya, syukuran Besar di masjid tadi pagi tidak mengurangi nafsu makan mereka. Aku menghela nafas pelan, baiklah, aku Akan menjadikan tebakan ini PR yang hebat. Wak Yani sepertinya tidak Akan pernah menyerah memberikan jawabannya.
Suara denting sendok terdengar, kami sedang asyik menghabiskan kolak Ubi, Wak Yani juga asyik menggoda Ayuk Lia soal pacaran, cinta Dan ‘dunia remaja’, ketika anak tangga Rumah panggung Wak Yani berderak, beberapa pasang kaki seperti berebut menaikinya. Dan belum sempat Ada yang bertanya, “Apa Itu?” Juhro Dan Pendi sudah berdiri di depan pintu, dengan nafas tersengal Dan peluh mengucur.
“Oi, oi… Wak, kami menemukan sesuatu.”
“Wak… Wak Yani harus bergegas ke masjid.”
“Sekarang juga!”
Sepertinya kalau diijinkan, mau rasanya Juhro Dan Pendi menggendong Wak Yani. Aku, Ismail Dan Amel juga ikut bergegas ke masjid, Ayuk Lia tidak mau meninggalkan tenunannya. Matahari terik membakar Kepala, debu berterbangan, rombongan sapi di pinggir jalan malas-malasan berlindung di bawah pohon jarak.
“Kalau sudah tua nanti, kalian Akan tahu memakai tongkat Itu tidak mufah.” Wak Yani mengomeli Juhro Dan Pendi yang jalan di depannya Dan berkali-kali menoleh gemas, tidak sabaran.
Halaman masjid sudah dipenuhi penduduk kampung, sama ramainya dibanding syukuran tadi pagi, berkerumun mengelilingi sesuatu. Kabar ditemukannya sesuatu Itu menyebar cepat ke seluruh kampung. Juhro Dan Pendi menyibak keramaian, “Minggir… Minggir… Kasih jalan, Wak Yani datang.”
Aku menelan ludah melihat hamparan benda-benda Itu di atas tikar. Pak Bejo Dan Bakwo Jar mengangkat Satu kotak lagi dari anak tangga, perlahan meletakkannya.
“Masih Ada di atas?” Mang Dullah bertanya.
“Habis, Mang!” Salah Satu pemuda yang berada di atas masjid menjawab. Atap masjid sudah kosong, hanya menyisakan kaso kayu melintang, tumpukan genteng tua menumpuk di sudut halaman. Beberapa pemuda turun dari atap, menepuk-nepuk debu di pakaian, ikut bergabung.
“Ini semua kami temukan di loteng masjid, Wak.” Mang Dullah jongkok, menunjuk empat kotak kayu sebesar kardus televisi. Mengelap kotak yang baru diturunkan Pak Bejo Dan Bakwo Jar. Setelah debunya dikusai, ukiran kotak Itu terlihat indah, halus Dan cemerlang ditimpa terik matahari.
Dua kotak sudah terbuka karena memang tidak Ada kuncinya. Dari dalamnya bertumpuk koin perak, perhiasan, benda-benda berharga Dan uang yang tidak kami kenali. Kemilau perhiasan Itu berpendardi wajah-wajah penduduk. Menilik isinya, kotak ini berharga sekali, aku menelan ludah. Satu kotak lain isinya penuh dengan buku-buku yang terlihat menguning di makan usia. Manh Dullah membuka kotak terakhir, isinya juga buku-buku. Kali ini disertai gulungan kertas tua, seperti daun lontar.
“Ini pasti bahasa Belanda, Wak.” Mang Dullah menjulurkan salah satu buku dari kotak, “Karena di kampung ini hanya Wawak satu-satunya yang bisa bahasa Itu, maka kami memanggil Wak Yani.”
“Oi, Dullah,” Wak Yani mendadak melotot sebal, “Kalau kau hanya memintaku membaca buku-buku ini, kenapa tidak kau suruh Pendi atau Juhro mengantarkannya ke Rumah. Bukan perkara mudah berjalan ke masjid di tengah Hari, lantas disuruh lari-lari kecil pula.”
Mang Dullah menggaruk rambut, salah tingkah. Benar juga, seharusnya bisa begitu, tetapi mereka tidak bisa menahan rasa ingin tahu Dan antusiasme saat menemukan kotak-kotak kayu jati Itu. Berpuluh tahun shalat di masjid tua Itu, tidak pernah Ada yang terpikirkan Ada harta Karun tersembunyi di atas kepala. Pendi duduk jongkok, jahil mengeduk kotak yang berisi perhiasan. Butiran berkilau Itu seperti mengalir di tangannya.
“Apa yang kau kerjakan.” Pak Bejo mendelik.
Pendi mengangkat bahu, hanya ingin tahu.
“Oi, kau tidak boleh menyentuhnya. Ini semua harus dilaporkan ke petugas Kota. Akan datang peneliti Dan orang pintar memeriksa semua kotak.” Pak Bejo menarik tangan Pendi.
Kerumunan tertawa melihat Pendi yang pura-pura memegang kotak, tidak mau dilepaskan.
“Isinya apa, Wak?” Mang Dullah bertanya tidak sabaran.
“Mana aku tahu, aku buka Saja belum.” Wak Yani menjawab ketus, dia masih kesal disurih bergegas, “Setidaknya aku mau duduk berteduh dulu, kotak-kotak ini bisa menunggu sebentar. Pemiliknya pasti sudah lama mati. Tidak Akan bisa kemana-mana lagi.” Wak Yani melangkah ke bawah kolong masjid, membawa buku tua di tangannya.
Aku ikut bergegas mengikuti Wak Yani juga penduduk lain yang ingin tahu. Wajah-wajah kami tidak sabaran, saling dorong mencari posisi paling dekat. Setelah meluruskan kaki, memperbaiki tudung di Kepala, Wak Yani mulai membuka halaman pertamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *