Harta Karun Kampung Bagian 4

Misteri empat kotak Itu dengan cepat terpecahkan.
“21 Desember 1994, aku sudah bisa mencium bau mereka. Sudah dekat sekali. Tentara-tentara Jepang Itu sudah di belakang punggung kami. Anakku, Anne merengek dalam gendonhan ibunya, sementara Elizabeth Dan Albert semakin sering bertanya kapan tiba kapal yang Akan membawa mereka pulang ke Amsterdam. Pelayan Dan tentara yang mengawal sudah kelelahan setelah sepuluh Hari terus memaksakan berjalan tanpa henti.
Aku tahu, kami mungkin tidak Akan pernah berhasil tiba di pelabuhan tujuan. Dan bila Itu terjadi, maka seluruh rombongan Akan binasa. Kabar dari Malaka bilang, mereka kejam sekali. Tidak Ada ampun bagi tahanan. Entah apa yang Akan terjadi. Benteng di Palembang sudah jatuh Dua minggu lalu, sebagai komandan benteng, Itu jelas salahku. Pelabuhan Boom baru sudah mereka kuasai. Kami harus berjalan memutar ke pelabuhan lain, melewati lembah Dan hutan pedalaman. Mayor Kjuit menjanjikan Ada kapal jemputan. Kami harus secepat mungkin meloloskan diri dari serdadu Jepang.”
“Tanggal 23 Desember 1944, Hari ini Elizabeth jatuh sakit. Tidak Ada yang membawa obat. Siapa pula yang sempat berpikir membawa obat saat kapal-kapal Itu melontarkan peluru meriam. Kami tiba di kampung kecil, sempat bersitegang dengan penduduk setempat. Mereka menghadang dengan pisau besar, mereka benci sekali melihat orang asing yang selama ini menjajah mereka. Syukurlah, Ada seorang pemuda kampung, Salehuddin Pasai.” Wak Yani terdiam, seperti Ada kalajengking yang menggigit pantatnya, kepalanya terdongak, buku di tangannya hampir terlepas.
“Ada apa, Wak?” Aku bertanya.
“Salehuddin Pasai, Itu nama kakekmu. Bapak yang menjawab, air mukanya juga terlihat berubah, juga Bakwo Jar di sebelahnya.
“Anak muda ini berbilang tiga puluh tahun, masih muda untuk ukuran seorang Kepala kampung, tetapi dia sudah begitu bijak mengajak semua bicara baik-baik. Elizabeth, kelak kalau kau sudah dewasa, kau harus datang ke kampung ini. Mereka tidak hanya memberikan Kita tempat beristirahat. Mereka juga menyediakan makanan, logistik, Dan semua keperluan. Dan Kau, Elizabeth, kau dirawat dengan baik. Aku sungguh buta selama ini, aku pikir saat Kerajaan Belanda mengirisnya ke negeri ini, yang Ada di sini hanya bangsa bar-bar Dan tidak beradab. Dua Hari tinggal di kampung Itu, aku melihat begitu banyak energi kebaikan yang Ada. Mereka hidup sederhana, petani Dan penakluk hutan biasa. Tetapi mereka diberkahi dengan pemahaman hidup yang indah. Elizabeth, kau harus datang…”
Aku memasang seringai, teruskan, Wak, teruskan membacanya.
“24 Desember 1944, tentara Jepang Itu akhirnya juga tiba di lembah kampung. Terjadi pertempuran sengit, tiga prajurit terbaik gugur. Aku tidak bisa melupakan tatapan gentar Andrew mendengar suara granat berdentum. Sementara Anne menangis dalam gendonhan Ibunya. Mereka mengepung kampung, hanya dengan kebaikan Salehuddin Pasai Dan penduduk kampung, kami bisa bertahan. Salehuddin mengajakku bicara, menjelaskan mereka Akan mengorbankan apa Saja Demi melindungi tamunya, tetapi situasinya rumit, mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi, sebelum terlambat, dia memintaku menyelamatkan harta paling berharga milikku. Harus Ada yang dikorbankan, atau tentara Jepang Itu Akan menghabiskan semuanya.
Anne, Elizabeth, Andrew, malam ini adalah malam Natal. Seharusnya kalian berlarian riang di beranda Rumah Kita sambil melihat pohon berhiaskan lampu-lampu. Salju turun memenuhi halaman, Dan sinterklas datang dengan hadiah istimewa. Maafkan, Papa, sungguh maafkan Papa. Satu jam dari sekarang, Papa Akan membawa kotak-kotak koin perak, emas, perhiasan, Dan benda berharga lainnya. Salehuddin berjanjilah menyimpannya dengan baik. Dia benar, aku harus menyelamatkan harta paling berharga keluarga Kita, maafkan Papa jika kalian tumbuh dewasa tanpa pernah mengenal Papa. Salehuddin benar, harus Ada yang mengorbankan diri. Semoga esok lusa Ada di antara kalian yang kembali ke kampung ini. Peluk cium Papa 1000x.”
Wak Yani menghela napas panjang, perlahan menutup buku catatan harian Itu. Kepalaku melongok, masih berusaha mengintip isinya. Bagaimana kelanjutannya? Apa yang terjadi dengan Menner Van Houten? Apa yang terjadi dengan anak-anak Itu? Oi, aku ingin tahu, penasaran. Wak Yani menggelengkan Kepala, sudah selesai, halaman berikutnya kosong. Itu catatan terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *