Harta Karun Kampung Bagian 5

Penduduk kampung yang memenuhi kolong masjid terdiam sejenak. Empat kotak harta Karun ini ternyata bertuan. Bisik-bisik terdengar, saling bertanya Satu sama lain, kemana pula harus mencari alamat keluarga Meener van Houten Itu?
“Setidaknya Kita Akan menunggu petugas dari Kota. Terserah mereka mau diapakan kotak-kotak ini.” Mang Dullah memutuskan, menyuruh beberapa orang membawa kotak Itu ke balai-balai kampung.
Aku, Ismail Dan Amel berjalan beriringan dengan Wak Yani, kembali ke Rumah panggung.
“Kakek kau Itu punya pengalaman luas tidak terbilang. Kupikir perjalanan lautnya ke Malaka adalah rahasia terbesarnya, ternyata tidak.” Wak Yani melangkah pelan, tongkatnya mengetuk berirama aspal jalanan.
“Kira-kira kalau seluruh perhiasan tadi dijual, dapat berapa ratus ekor sapi, Wak?” Ismail nyeletuk seperti biasa penuh dengan pertanyaan.
“Tidak tahu, yang pasti bisa penuh seluruh kampung ini dengan tahi sapi.” Wak Yani terkekeh seperti biasa menjawab Apa adanya, membuat Ismail merengut sebal.
“Kotak-kotak Itu bukan hanya berisi koin perak emas, kotak-kotak Itu juga berisi buku Dan lembaran syair tua Melayu, gurindam Dua belas. Juga Ada cerita-cerita lama, menilik kondisinya, bisa jadi Itu kumpulan naskah sastra Melayu paling tua, ditulis dengan tangan untuk Pertama kalinya oleh pujangga Besar jaman Itu. Schat, Dua kotak yang berisi koin perak emas tidak akan bisa membeli Dua kotak lainnya. Itu harta karun paling berharga seluruh kebudayaan Melayu.” Wak Yani menjelaskan, Ismail manggut-manggut sok mengerti.
“Wak, Badim tahu jawabannya.” Aku mensejajari langkah Wak Yani, tersenyum senang. Sejak di halaman masjid tadi, sudah tidak berbilang orang menyebutkan ‘harta karun’, termasuk Wak Yani.
“Jawaban apa?”
“Harta Karun paling berharga kampung Kita. Jawabannya adalah empat kotak di loteng masjid. Benar, bukan?”
Wak Yani menghentikan langkah, menoleh kepadaku, debu berterbangan di tiup angin lembah, ” Mijn lieve, kau jangan membuat Wawak kecewa.”
“Eh?” Aku menggaruk kepala.
“Wawak pikir jawaban kau Akan lebih berkelas dibanding ini. Wawak pikir kau adalah anak terpandai yang pernah kukenal.”
“Bukankah Meener van Houten sendiri menulis dia menyelamatkan harta paling berharganya, Itu saran kakek Salehuddin.” Aku berusaha membela logika jawabanku.
“Kalau begitu, kau tidak mendengarkan catatan Itu baik-baik, Badim.” Wak Yani mengetukkan tongkat, “Bukan Itu jawabannya. Sama sekali bukan empat kotak Itu.”
“Lantas apa?” Aku bertanya gemas.
“Gosh, kau Cari tahu sendirilah.” Wak Yani tertawa kecil, melanjutkan langkah. “Tebakan adalah tebakan. Semakin seru tanpa jawaban.”
Garis bibirku tertarik, sebal. Amel Dan Ismail sudah berlarian menaiki anak tangga, berebut saling duluan bercerita ke Ayuk Lia. Wak Yani entah apa yang dilantunkannya, bersyair pelan.
Itu untuk Pertama Dan terkhir kalinya aku menebak teka-teki Wak Yani. Bertahun-tahun berlalu, terkadang terlintas ide jawaban seperti celengan Naga Dan peri-peri milik Nek Kiba, namun aku selalu urung bilang ke Wak Yani, jawaban-jawabab Itu meyakinkanku sendiri pun tidak, apalagi meyakinkan Wak Yani.
Seminggu kemudian datang rombongan berpakaian rapi dari Kita. Mereka menaikkan empat kotak Itu ke Mobil Besar. Bapak sempat bersikukuh melarang mereka membawanya pergi, mengusulkan mereka bisa tinghal di kampung meneliti kotak-kotak Itu. Usul Itu ditolak mentah-mentah, rombongan Itu menyerahkan Surat perintah agar kotak Itu diamankan ke Kota atau Bapak Akan diancam menghalangi tugas pemerintah. Bapak kalah posisi, Mang Dullah Dan Pak Bejo juga kehilangan argumen. Sejak saat Itu, tidak Ada lagi yang datang membawa kabar kemana kotak-kotak Itu pergi.
Sama halnya dengan kami tidak tahu apa nasih Menner Van Houten Dan anak-anaknya. Apakah mereka berhasil melarikan diri ke Amsterdam. Entahlah. Apakah Meener van Houten malam Itu menyerahkan diri Demi anak-anaknya? Entahlah pula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *