Hotel Itu Menjadi Kuburannya Bagian 2

Hari ini aku bertemu lagi dengan seorang pemuda yang berpakaian seperti Ja’far. Jenggotnya hitam tipis agak panjang dan mengenakan kopiyah putih. Ia duduk di pendopo masjid sendirian. Entahlah. Pribadiku yang suka mencari teman ngobrol mendorongku untuk melangkah mendekatinya.

“Assalamu’alaikum.”
Sapaku sambil melepas ujung jilbab yang sebelumnya kuikat-ikat.
“Wa’alaikum salam.”
Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Mungkin karena ia sedang serius membaca Koran, atau mungkin karena suaraku terdengar jelas bahwa aku perempuan sehingga ia juga harus ghoddul bashor. Aku segera mengambil posisi yang nyaman menurutku. Duduk bersandar di salah satu tiang pendopo, agak jauh di samping tempat laki-laki itu duduk, tapi memungkinkan bisa mendengar dan menanggapi jikalau sempat berbincang-bincang.

Lama suasana hening. Aku tidak betah untuk segera memecah kesunyian itu.

“Baca berita apa, Mas? Kok kayaknya serius amat!”
Mendengar aku bertanya kepadanya ia bergerak, menoleh ke arahku sambil tersenyum kemudian menyodorkan lembaran Koran yang ada di tangannya.
“Nih! Baca sendiri aja.”
Dengan agak mencondongkan badan ke samping aku menggapai Koran yang disodorkannya. Lama kupandangi judul-judul di halaman depan Koran itu. Aku sudah membaca beberapa isi Koran ini. Lama aku terdiam sambil memandangi huruf-huruf di halaman Koran itu.

“Emmm. Menurut anda, kira-kira kalau tuduhan pengeboman itu diarahkan kepada kelompok Dr. Ibnu Sina bagaimana?” kubuka pembicaraan dengan suara datar dan pelan. Aku harus berhati-hati berbicara dengan orang yang baru pertama kali kukenal.
“Mungkin juga!” jawabnya singkat kemudian diam lagi. Mungkin ia sedang memikirkan kelanjutan jawabannya. Maka aku juga diam menunggunya berbicara lagi.
“Tempat-tempat maksiat seperti itu harus dihancurkan. Jika dibiarkan. Sama saja kita ikut melestarikan dan merajalelakan kebatilan di bumi Allah.” Katanya kemudian.

Mendengar tanggapannya, aku terdiam sejenak. Kupikir aku harus lebih hati-hati berbicara. Sepertinya aku kurang sependapat.

“Ee, maaf. Maksud anda hotel itu tempat maksiat?”
“Ya! Hotel itu tempat maksiat. Kamar-kamarnya adalah tempat berzina yang nyaman. Menu makanannya adalah makanan haram. Kafenya adalah tempat mabuk-mabukkan dan juga tempat judi.” Jawabnya.

Mendengar komentar-komentarnya aku tak berani melanjutkan percakapan itu. Ah. Ia benar-benar dingin. Kaku. Sebenarnya aku ingin bertanya kepadanya, “Apakah anda sering ke sana sehingga anda tahu betul isi dalam-dalamnya?” tapi akal sehatku mengatakan, itu bukan pertanyaan yang bermutu. Itu pertanyaan konyol yang mungkin akan mengundang perdebatan. Sedangkan aku tidak menyukai perdebatan, karena perdebatan bisa berubah menjadi perang. Meskipun hanya perang argumentasi. Bukankah Allah telah berfirman, Ud’uu ilaa sabiili robbika bilkhimati wal mau’idlotil hasanati, wajaadilhum billati hiya ahsan. Serulah ke arah jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.

Berita korban pagi ini mengatakan bahwa tersangka pelaku pengeboman di hotel Broken Hell bernama Muhammad Ja’far.

“Muhammad Ja’far. Ja’far. Berumur 25 tahun.” Mulutku terus berkomat-kamit menyebut namanya.
“Mungkin dia Ja’far yang pernah bertemu denganku di sebuah pendopo masjid itu?”

Mungkinkah? Segala pertanyaan tentang sosok Ja’far yang menurutku terlalu pemberani untuk meledakkan bom bunuh diri it uterus membabi buta. Sehingga akhirnya kulihat sebuah sketsa wajah pelaku pengeboman hotel Broken Hell itu. Agak tidak jelas, tapi samar-samar agak mirip dengan Ja’far yang pernah berkenalan denganku. Pening. Pening. Lama-lama kepalaku pening ketika tiba-tiba terbayang sebuah wajah yang berseri dan menebar senyum berubah menjadi ceceran darah dan kepala tanpa tubuh. Seperti yang diberitakan di Koran bahwa tersangka pelaku pengeboman itu adalah pemilik kepala yang ditemukan di lantai dua hotel Broken Hell.

“Semoga saja bukan dia,” kataku lirih dan belum percaya.

Tiba-tiba tubuhku dingin. Ketakutan. Tiba-tiba terpikir olehku, bagaimana jika suatu saat bom meledakkan tempat tinggalku dan juga tempat tinggal orang-orang islam. Jikalau tuduhan pengeboman itu diarahkan pada sekelompok orang islam yang menamakan dirinya mujahid anti maksiat, lalu suatu saat sekelompok orang yang merasa dirugikan akan mengklaim orang islam itu pecundang, suka membuat kerusakan. Lalu bagaimana jika mereka membalas dendam?

Ah. Kenapa berandai-andai? Kenapa menjadi manusia penakut? Mati! Kenapa takut? Toh semuanya pada akhirnya akan binasa! Hanya Tuhan yang kekal. Ah. Lagi-lagi aku berdialog sendiri.

Tapi mati yang tidak wajar itu mengerikan! Mati yang tak bermayat itu menakutkan! Tinggal sebutir kepala berwana merah dengan mata melotot dan mulut menganga, lalu tubuh, tangan dan kakinya entah dimana. Mungkin hancur lebur menjadi cairan merah yang agak gosong. Lalu bagaimana menguburnya? Apakah sebelumnya ia yang mati tak bermayat itu berkeinginan agar jasadnya tidak perlu dimandikan, tidak perlu banyak mengeluarkan uang untuk membeli kain kafan dan mungkin untuk menghemat bumi, mengurangi luas tanah kuburan.

Beberapa orang berpendapat ia syahid dalam jihad fii sabilillah! Menurut desas desus yang kudengar, Hotel broken Hell itu milik orang Amerika non muslim. Makanan yang disediakan banyak makanan haram. Hotel itu juga menyediakan perempuan untuk menemani tidur malam tamu laki-laki. Itu yang mereka sebut sebagai tempat maksiat. Sehingga beberapa orang tidak menyayangkan aksi merusak dan menghancurkan itu.

Mengebom, menghancurkan, emembunuh, apakah itu bukan tufsid atau merusak? Membuat masyarakat panic dan ketakutan. Apakah tidak ada cara lain yang lebih damai? Aslama Yuslimu Islaaman, kuartikan perdamaian. Jika yang mengebom itu orang islam tidak adakah cara lain yang lebih damai. Jikalau beberapa orang mengatakan ia mengalirkan darah orang kafir? Sudah saatnyakah? Bagaimana ia tahu bahwa yang dialirkan darahnya itu orang kafir? Apakah ia diberitahu tuhan untuk segera mengebom hotel itu seperti Khidzir yang harus segera membunuh seorang anak kecil karena bila dibiarkan dewasa anak itu akan menjadi kafir. Apakah ia juga diberitahu Tuhan bahwa Hotel itulah kuburannya sehingga ia meruntuhkannya dan membuatnya menjadi pekuburan.

TAMAT