Kaleng Kejujuran Bagian 1

“Eh?” Aku memukulkan pelan ujung Pulpen ke meja kayu, menyeringai cemas.
“Eh?” Aku mencoretkannya kembali ke atas kertas, tetap tidak bisa. Lebih keras menekannya, hanya gurat Bekas paksa yang muncul.
Aduh, Pulpen ini ngadat di waktu yang salah, gemas membongkarnya, mengeluarkan isi Pullen. Kosong. Tidak Ada lagi tintanya walau se-mili. Menepuk jidat di Kepala. Teringat kalau tidak membawa cadangan, sedangkan Pullen biruku dipinjam Ismail.
“Ada apa?” Pak Bejo menyipitkan mata, tatapan wajahnya jelas menyuruhku jangan ribut.
“Pulpen Badim habis tintanya, Pak.”
“Kau tidak membawa gantinya?”
Aku menggeleng. Melirik jam di dinding, ulangan tinggal setengah jam lagi, masih Ada Satu halaman soal PMP yang belum kukerjakan. Pak Bejo selalu memberikan soal bertumpuk setiap ulangan.
“Bapak punya pulpen di dalam tas, Dua malah. Bapak lihat Malik di sebelahku juga punya cadangan Dua pulpen… Sayang, aturan adalah aturan, Badim. Kita dihargai bukan karena Kita seram, galak apalagi berkuasa, Kita dihargai karena menegakkan aturan main. Kau sudah tahu sendiri’ resikonya.” Pak Bejo menyeringai tipis, melambaikan tangan.
Aku segera loncat dari bangku kayu. Kejadian ini bukan cuma sekali, setiap Kali ulangan, Ada Saja masalah teknis seperti ketinggalan Pulpen, lupa membawa mistar, penghapus, atau peralatan belajar lainnya. Bedanya, Kali ini aku yang mengalaminya. Teman-teman di kelas mengangkat Kepala sekilas, melihatku berlarian keluar. Ada yang tertawa melihat wajah tegangku, meski tawa mereka tersumpal saat kembali membaca soal, mengeluh.
Di SD kampung kami yang terletak nun jauh di pedalaman, jauh dari Kota besar, jauh dari sambungan listrik, sederhana dan seadanha, urusan pulpen Dan peralatan belajar bisa jadi rumit. Anak-anak mau sekolah Saja sudah istimewa, apalagi soal kelengkapan alat belajar. Pak Bejo menyikapi urusan Itu dengan logika sebaliknya, berdisiplin. Tidak masalah kami datang tanpa beralas kaki, tidak berseragam, Dan keterbatasan lainnya, tapi kami harus membawa alat tulis sendiri. Tidak Ada pinjam-meminjam. Pak Bejo menerima kesederhanaan Dan keterbatasan anak didiknya dalam banyak Hal, tetapi dalam urusan bersungguh-sungguh belajar tidak Ada kesederhanaan.
Aku berlari melintasi lapangan sekolah, minggu-minggu ini sudah masuk musim kemarau. Sejak kejadian banjir besar merendam seluruh kampung sebulan lalu, seksrang setiap siang matahari terik membakar kampung. Rumput lapangan memang masih menghijau, jalanan juga belum terlalu berdebu. Kalau nanti sudah masuk bilan ketiga Dan keempat musim kemarau, melintasi lapangan membuat debu mengepul.
Aku membuka pintu pagar samping sekolah, terus berlari kecil ke arah Warung Ibu Ahmad. Ini satu-satunya penyelesaian tercepat, membeli pulpen baru. Waktuku sedikit, harus segera kembali.
Oi? Langkahku mendadak terhenti. Mengeluh tertahan, meneguk dahi kecewa. Lihatlah, Warung Ibu Ahmad tertutup rapat. Bagaimanalah urusan? Ini satu-satunya Warung yang menjual alat tulis di kampung kami. Aku gregetan mengetuk-ngetuk pintu depan Warung, berteriak memanggil. Menggedor, siapa tahu Ibu Ahmad ketidurab di dalam harapan yang masuk akal untuk orang terdesak sepertiku.
“Ibu Ahmad tidak jualan Hari ini, Badim.” Tetangga sebelah, yang mungkin terganggu, melongokkan Kepala dari bingkai Jendela Rumah panggung, balas meneriakiku.
“Ibu Ahmadnya kemana?”
“Anaknya sakit. Mungkin di rumah.”
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjuy aku sudah berlarian meninggalkan warung. Sejak si Ahmad meninggal di gigit ukar berbisa, ibunya pindah dari bekas pabrik karet ke tengah kampung. Ada tetangga yang berbaik hati meminjamkan separuh rumahhnya.
Sebelum Ahmad meninggal, Ibu Ahmad memang sudah berjualan makanan ringan. Menghamparkan gorengan Dan kue-Kue kecil di atas meja, tempat makan anak-anak biasa jajan. Juga karena rasa sedih, ikut belasungkawa atas meninggalnya so Ahmad, maradona kampung kami, tetangga bergotong royong mendirikan Warung kecil permanen di tempatnya selama ini berjualan, sebagai penghiburan. Mang Dullah juga meminjamkan uang kampung sebagai modal berjualan.