Kaleng Kejujuran Bagian 2

Aku bergegas ke Rumah Ibu Rohmat. Berkisar enam Rumah dari warungnya. Berlarian di bawah kolong Rumah tetangga. Mengetuk pintu, berteriak memanggil. Kosong. Tidak Ada yang menjawab. Aduh, waktuku semakin sempit. Lebih kencang berteriak Dan mengetuk pintu kayu.
“Ibu Rohmat ke bidan kampung, Badim.” Lagi-lagi tetangga sebelah terlihat melongok dari salah Satu jendela, “Membawa si kecil Maya berobat.”
Oi, aku mengeluh lagi. Menyeka peluh di dahi. Rumah bidan Desa ibunya Bunga Ada di ujung kampung. Bagaimanalah urusan ini. Tidak Ada pilihan, waktuku sempit, aku bergegas berlari. Syukurlah, baru Saja aku lompat dari anak tangga, di gerbang pagar terlihat Ibu Rohmat menggendong Maya.
“Badim mau beli pulpen, Bu.” Aku langsung memberondongnya.
“Warungnya tutup, Badim.” Ibu Rohmat mencoba tersenyum, repot menggendong Maya menaiki tangga.
“Aduh, tidak boleh tutup, Bu.” Aku menggaruk kepala, ikut menaiki anak tangga kembali, “Badim butuh pulpen sekarang.”
“Lantas siapa yang akan menjaga Maya kalau In membuka Warung sekarang?” Ibu Rohmat menghela nafas Lega, meletakkan Maya yang baru empat tahun terlelap di atas dipan kayu. Wajah Maya terlihat pucat, dengus nafasnya cepat.
“Tapi Badim butuh pulpen, Bu. Ulangan PMP. Empat soap lagi. Pulpen Badim habis.” Aku berusaha menjelaskan secepatnya mungkin. “Sebentar Saja, Bu. Dibuka sebentar, nanti tutup lagi.”
Ibu Rohmat menatapku, menggeleng. “Ibu today bisa meninggalkan Maya. Kau pinjam ke teman yang lain Saja, Badim. Pasti mereka punya, kan.”
Aduh, Ibu Rohmat tidak mengerti situasinya. Pak Bejo melarang kami meminjam pulpen saat ulangan umum. Aku butuh sekarang. Kalau nanti-nanti, di rumah juga Ada pulpen milik Ayuk Lia. Wajahku semakin tegang, berhitung dengan sisa waktu.
“Baiklah, begini saja,” Ibu Rohmat berdiri, sepertinya kasihan melihat raut wajahku, “Kau ambil sendiri di Warung ya. Ini kunci warungnya.”
“Eh?” Aku mendongak, ragu-ragu menerima juluran kunci Itu.
“Ambil sendiri Saja, Badim. Tidak apa-apa.”
“Lantas bagaimanalah Badim membayarnya?”
“Itu mudah. Kau Cari kaleng uang di lemari, Kau letakkan uangnya di sana.” Ibu Rohmat menyebut harga, “Ayo, bukankah Kau terlihat terburu-buru. Kunci warungnya bisa Kai kembalikan setelah pulang sekolah. Ibu sekarang harus menyetrika pakaian tetangga, ya. Menumpuk.”
Kunci Warung itu tergeletak di telapak tanganku. Aku menyeringai, menatap punggung Ibu Rohmat yang hilang dibalik pintu dapur. Baiklah, setidaknya aku bisa segera punya pulpen, maka aku balik kanan. Berderak menuruni anak tangga, berlarian ke arah Waring.
Lima belas menit berlalu, aku tersengal sudah kembali masuk kelas. Pak Bejo tertawa melihat tampang kusutku, menunjuk jam di dinding. Aku tahu, dengusku dalam hati, aku tahu kalau waktuku tinggal Lima menit lagi. Dengan cepat menyambar kertas soal ulangan.
Esok harinya. Cahaya matahari lembut membasuh lapangan sekolah.
“Kau tidak jadi sarapan, kawan?”
“Warungnya tutup.” Malik bersungut-sungut.
Aku tertawa melihat raut muka Malik. Aku tahu ekspresi Itu, kecewa, kemarin aku juga repot gara-gara Warung Ibu Rohmat terkunci.
“Oi, Mana nanti ulangan matematika. Dengan perut lapar aku tidak akan bisa berpikir baik.” Malik mengeluh, memasang wajah serius sekali.
Teman-teman kelas Lima sedang berdiri di depan kelas Dan mendengar kalimat Malik serempak memicingkan mata. Bukankah selama ini meski sedang kenyang sekalipun, Malik tetap Saja bebal mengerjakan soal matematika di depan kelas. Sering disetrap Pak Bejo.
“Kau punya mistar Dua, Badim?” Salah seorang teman menjawil lenganku.
Aku menggeleng
“Ayolah, aku pinjam Badim. Pasti nanti Ada soal luas Dan menggambar bidang.”
Aku menggeleng, punyaku cuma satu.
“Aduh, bagaimanalah ini. Warung Ibu Rohmat tutup.” Temanku Itu menepuk jidat.
“Kau kan bisa pakai buku pengganti mistar.” Aku memberikan usul.
“Mana bisa. Tidak Ada senti-sentinya.”
“Sini, kubantu, apa susahnya tinggal Kau tiru Saja mistarnya, Kau beri tanda Senti-senti di pinggiran buku.” Aku gemas menyeret teman Itu duduk, mengeluarkan penggarisnya, lantas membuatkan mistar tiruan. Yang lain menonton terpesona, tidak pernah terpikirkan solusi Itu. Sebenarnya aku hanya mencontoh Ayuk Lia, dia pernah mematahkan mistar panjang milikku, lantas menggantinya dengan karton yang dipotong mirip mistar, kemudian diberikan garis Senti-sentinya.
“Kau memang selalu punya penyelesaian atas setiap masalah, Badim.” Teman Itu menepuk bahuku. Tertawa, mengucapkan terima kasih.
“Oi, tidak juga.” Malik dengan wajah masih terlipat mendekat, menunjuk perutnya, “Memang Badim sekarang tahu apa penyelesaian untuk perut laparku? Bisa dia membuatkanku pisang goreng dari kertas?”
Lonceng masuk berdentang memutus tawa teman-teman, bergegas masuk.
Pak Bejo masuk dengan wajah santai. Several membagikan kertas ulangan. Kami mulai tenggelam dengan angka-angka, perkalian Dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *