Kaleng Kejujuran Bagian 3

Soal ulangan matematika tidak sesulit yang kubayangkan. Waktu masih tersisa lima Belas menit saat aku berhasil mengerjakan semuanya. Aku menatap keluar jendela, cahaya matahari yang menerpa seng bangunan sebelah sekolah terlihat berpendar-pendar. Terik. Angin lembah berhembus melintasi jendela kelas, membuatkanku ruangan terasa menyenangkan. Aku memainkan pulpen, ctak-ctek pelan.
“Kau bisa diam tidak?” Malik mendesis di sebelahku menggantikan posisi Rajo selama ini.
Aku mengangkat bahu, tidak mengerti.
“Kau jangan tambahi masalahku sekarang dengan bunyi pulpenmu Itu. Cukup perut lapar Dan soap matematika susah ini Saja.” Malik melotot.
Aku tertawa, tidak peduli, malah jahil pura-pura hendak mengetuk-ngetuk meja.
Pak Bejo yang lebih dulu mengetukkan belakang jari ke meja, matanya tajam menatap kami. Malik buru-buru kembali ke kertas ulangannya. Aku juga berhenti memainkan pulpen. Memeriksa kembali jawabab. Tidak Ada masalah, semua sudah kujawab dengan lengkap.
Baiklah, kepalaku sekarang memikirkan Hal lain, Warung Ibu Rohmat. Kalau Warung itu masih terkunci, berarti Maya masih sakit. Kasihan mereka. Bukankah kata Mamak suatu ketika, Ibu Rohmat tidak punya ladang, tidak punya kebun, hidupnya tergantung dari membantu tetangga. Mencuci pakaian Dan berjualan makanan kecil. Kalau Warung itu tutup dari Mana Ibu Rohmat akan punya uang. Jangan-jangan buat makan Saja susah, apalagi untuk biaya berobat Maya.
Lonceng berdentang, memutua lamunanku. Waktu ujian matematika habis. Pak Bejo di depan kelas berkata tegas, selesai tidak selesai dikumpulkan, menarik paksa kertas jawaban Malik, yang sebaliknya bersikukuh mencari-cari alasan “Sebentar, Pak. Sebentar… Saya lupa menulis nama.”
“Kudengar Maya, anaknya Ibu Rohmat sakit.” Mamak yang sedang membuka kulit jengkol bertanya. Memecah kesibukan suara ptak-ptok di beranda Rumah.
Kami sedang duduk di tenga buah jengkol yang menggunung. Menggenggam Batu di tangan, menutuskannya ke kulit jengkol, kulit kerasnya merekah, getahnya terciprat, mengeluarkan isinya, kemudian memasukkan isinya kedalam karung. Sejak pulang sekolah, Dua jam berlalu, sepertinya sudah tidak terhitung buah jengkol yang kami tutusi. Tanganku sudah menghitam terkena getah.
“Sudah Lima hari, Mak.” Aku menjawab.
Mamak menoleh kepadaku, dahinya berkerut.
“Warungnya tutup, Mak. Jadi aku tahu.” Aku menjelaskan.
“Oi, kalau begitu repot sekali Ibu nya Rohmat sekarang.” Mamak menghela napas prihatin.
“Yang repot Itu kami, Mak.” Ismail yang sekarang berkomentar. “Jajan tidak bisa lagi, beli buku tulis tidak bisa lagi. Warungnya tutup terus.”
“Kau cuma kehilangan tempat jajan Saja mengaku repot. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mengurus orang sakit.” Mamak melambaikan tangan.
“Seharusnya si kecil Itu dibawa ke Rumah sakit ibu Kota. Dia harus dirawat. Jika hanya diurus di rumah dengan bantuan bidan kampung, sembuhnya Akan butuh waktu lebih lama.” Bapak berdiri, menumpahkan biji jengkol dari karung berikutnya. Aku Dan Ismail saling tatap melihat tumpukan baru, mengeluh, yang ini Saja tidak akan selesai hingga sore, ditambahin lagi karung baru?
“Bagaimanalah dia akan Membawa Maya ke Rumah sakit,” Mamak menghela nafas prihatin, “buat makan sehari-hari Saja mereka susah, apalagi dengan si buyung sakit. Ibu Rohmat pasti tidak bisa leluasa meninggalkan anaknya kemana-mana.”
PTAK!
“Aduh”
Kepala kami segera tertoleh. Pembicaraan Mamak Dan Bapak terputus. Wajah Ismail meringis, menunjukkan jempol kirinya yang terkena Batu. Aku tertawa kecil, sudah biasa, dari ribuan buah jengkol yang harus dikupas kulitnya, pastilah kemungkinan salah tutus terjadi. Tadi Saja aku sudah Dua Kali.
“Kau, tidak apa-apa?” Mamak bertanya.
Ismail menggeleng. Meniup-niup jempolnya, hanya sakit sebentar.
“Makanya bekerja Itu hati-hati.” Mamak menatap tajam.
Ismail terdiam, mengambil buah jengkol berikutnya. Aku menyeringai, menggodanya dengan pura-pura menutus jempol sendiri. Ismail mendengus.
“Pak, Mang Ali kenapa sekarang jarang sekali bertandang ke Rumah Kita?” Ismail memecah suara tutus-menutus Lima menit kemudian, bertanya kepada Bapak.
“Mamang Kau Itu sedang sibuk-sibuknya. Dia punya proyek membangun sekolah di Kota kecamatan. Kau berhenti bertanya-tanya, Ismail. Jengkolnya masih banyak, nanti Kau menutus tangan sendiri lagi.” Mamak yang menjawab, Mang Ali adalah adik kandung Mamak, tinggal di Kota kecamatan.
“Yaaa, padahal dia sudah janji membuatkan Ismail layang-layang.”
Aku juga ber-yaaa kecewa dalam hati. Musim kemarau, musimnya anak-anak kampung bermain layang-layang. Menerbangkan layang-layang terbaik, dengan benang paling kuat Dan paling tajam, lantas mengadunya di langit biru kampung. Setiap sore lapangan stasiun ramai oleh anak-anak Dan pemuda tanggung bermain layang-layang. Berseru-seru setiap Kali Ada duel, berlarian mengejar layangan putus. Mang Ali adalah pembuat layang-layang terbaik. Setiap musim kemarau dia selalu membuatkan kami layangan hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *