Langkisau Bagian 1

Mati! Itu pula jawaban yang selalu kuterima. Setiap menanyakan pada Ibu tentang kematian Ayah.
“Ayahmu telat mati!”
Tidakkah ada kata-kata yang lebih halus untuk mengartikan sebuah kematian? Ibu tega nian! Ibu menyamakan Ayah dengan hewan!
“Tega… tega nian, Bu!” suaraku keluar serak ngilu.

Wanita separuh abad itu kulihat menceracau. Muak Ibu menyemak. Setiap perihal kematian Ayah selalu kugugah!

Telah tiga puluh tahun. Ku melihat kehidupan semu! Tak ada tanda-tanda duka menggelayut di wajah Ibu. Apakah memang menjanda memang cita-citanya?

Tidak! Tidak! Aku takkan percaya! Wanita macam apa itu? Bila di muka bumi ini ada yang menginginkan status memalukan itu! Hidup tanpa seorang suami. Hidup menyandang status janda. Janda tua lagi. Kalau janda kembang? Tentunya lain cerita.

“Ah… sudahlah! Masa lalu tak baik untuk kau kenang-kenang sekarang!”
“Saya malu! Malu pada orang-orang kampung, Bu!”
“Malu? Apa yang kamu malukan? Kamu malu dengan Ayahmu? Ibumu ini jauh lebih malu! Kalau kamu tahu!”
“Kematian itu takdir! Memang, kamu hendak menolak takdir? Kamu hendak menentang kehendak Yang di atas, hah?”

Selalu begitu. Aku kalah. Ibu memang sigap berdebat.

Rumah kami tak mampu lagi menahan goncangan. Goncangan kematian. Kematian seorang kepala rumah tangga. Kematian seorang suami bagi seorang isteri. Kematian seorang Ayah bagi seorang anak.

Kini, rumah ini tak lebih kurasakan sebagai sebatas tempat berlindung. Berlindung dari panas dan hujan. Teriknya siang dan dinginnya malam. Makin meniti hari. Nyata sudah, tak bisa lagi kurasakan sebagai tempat yang sejuk!

Baitii Jannati! Sabda Rasulullah.

Ah.. tausyah ustadzku di surau waktu lampau pudar!
Sepudar harapanku untuk sekedar mengetahui kebenaran kematian. Kematian seorang Ayah.

Walau telah tiga puuh tahun berjalan. Tapi, jangan dikira aku sebagai satu-satunya anak lelakinya, akan mengaminkan begitu saja.

Kematian Ayah menyisakan Tanya. Menyisakan syak dan sangka. Ayah mati berbeda dengan kematian manusia sebagaimana layaknya.

Ayah mati karena sakit! Ayah mati karena guna-guna! Ayah mati ulah tukang tenun! Ayah mati karena karma! Ayah mati ulah sumpah! Ayah mati sebab semasa hidup kurang ajar!

Akan selalu kutunggu saat yang tepat. Saat menyibak kematian Ayah.

Hari-hari kulewati dari rumah ke rumah. Terutama silaturrahmi kepada orang-orang terdekat Ayah semasa hidupnya. Teman-temannya. Karib kerabatnya.

Ayah mati biasa! Itu simpul jiwaku sementara.

Namun, kalau kesimpulan itu kuhadapkan pada Ibu, mata tua itu menyisakan tabir. Tabir yang tak terkuak selama ini. Tak jarang mata itu menyirat hendak melumat. Melumat satu-satunya anak laki-laki dari tiga orang Ayah, yang pernah singgah di kehidupannya.

Kalau benar Ayah mati, di mana kubur Ayah? Aku hanya sekedar ziarah ke Ayah?

Ah… Ibu payah! Begitu pandai Ibu menutup satu episode bahtera berumah tangga dalam hidupnya.

Sepengetahuanku, wanita sungguh suka bermain-main dengan hati dan perasaan. Tapi… Ibu? Ternyata tak berlaku buat Ibu!?

“Bu… Ibu tak ingin meminang cucu?” pancingku menggerai sila kaki, bersedekap siku.
“Cucu? Cucu katamu? Beranak saja saya sudah muntah!”
Dua belas orang anak? Ternyata mencipta Ibu murka pada yang berbau anak! Lalu, adakah yang salah dengan Ayah? Adakah yang salah dengan anak Ayah?

“Bu, aku mau menikah!” cetusku mencari sela. Sela Ibu mau buka kartu.
“Menikah? Menikah? Apa saya tak salah dengar?” Ibu menyungging. Sunggingan Ibu selalu maut untukku!
“Iya! Menikah!” anggukku.
“Kalau kamu mau menikah, jangan sampai kaji lama terulang lagi. Kamu bisa lihat sendirikan? Kakak-kakakmu yang telah berkeluarga, tapi tak satupun yang berhasil membinanya. Selalu lari ke saya. Selalu bertengkar. Selalu tak ada yang mau mengalah! Apakah kamu sudah pikirkan semuanya masak-masak!”
“Bu, jangan bandingkan saya dengan kakak-kakak. Apalagi kalau Ibu banding-bandingkan,” cegatku ringan.

Aku benar-benar tak suka. Bila ibu kembali menyamakan tingkah anak-anak. Ukurannya selalu kakak-kakak.

Sebagai seorang ibu yang telah berpengalaman bergelut zaman, Ibu pasti lebih tahu bagaimana anak-anak bertabiat. Bagaimana memperlakukan hak setiap anak! Pasti tak ada yang sama. Apalagilah antara kau dan kakak-kakakku memang tak berasal dari bibit sel yang sama.

“Nanti, begitu telah bulat tekadmu! Jangan mengabarkan hari perhelatan mendadak! Supaya aku tak kalang kabut seperti yang sudah-sudah!”

Simpuh kakiku perlonggar. Ibu hanyut di sulaman baju kurung kesukaan orang sekampung. Namun, di hati kurasakan rumah ini berubah mengekang. Mengekang bimbang. Bimbang akan sebuah kematian. Kematian Ayah!