Langkisau Bagian 2

Liar pikiran tetap kubiarkan. Ayah? Apa, siapa, bagaimana Ayah selalu menghantui hari-hariku.

Ayah tiap detik selalu kurindu. Selalu kunantikan jawaban kepastian. Dan… Ibu jelas-jelas kunci utama akan kematiannya. Sekaligus Ibu selalu menyisakkan berjuta-juta keheranan!

Kenapa Ibu tak pernah membuka hati agak sekali saja tentang kematian Ayah! Bahkan Ibu seperti merestui! Terbukti, aku berbapak baru lagi untuk kesekian kali.

“Sayang, air mataku tak pernah terbuang untuk sebuah kesia-siaan!” cibir Ibu kaku.

Lama aku mematung. Ibu kurasakan menjelma batu. Batu pualam yang sungguh sangat sulit untukku sentuh!

Sedang aku adalah anaknya. Anak kandung yang dikandung, dilahirkan lalu dibesarkannya! Tapi, kenapa setelah aku ingin tahu siapa sebenarnya Ayahku, Ibu menebas batas-batas! Menjaga jarak! Mengulur waktu!

Teringat beberapa waktu lalu. Aku meniti hari. Bolak-balik. Hilir mudik. Turun naik jenjang rumah orang. Sekedar mencari tambahan informasi. Bagaimana Ayah mati?

Aku tak mau kehadiran Ayah dalam hidupku hanya menyisakan pertanyaan demi pertanyaan. Pertanyaann ini takkan pernah lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan! Kecuali, badai kehidupan memisahkan.

Sedangkan kematian adalah hal wajar hidup setiap manusia. Tapi untuk kematian Ayah? Menyisakan gurat kepedihan! Menyisakan bergulung penyesalan. Menembah hari-hariku kelabu. Hari-hariku hitam.

Ayahmu pemalas! Ayahmu pendusta! Ayahmu pencuri! Ayahmu doyan kawin! Ayahmu mempermainkan Tuhan! Semua hamburan kata-kata Ibu kembali menebas uratku satu-satu.

Ibu kembali mendudukkan Ayah sebagai terdakwa. Kembali menjadikan Ayah sebagai icon black list yang harus di delete dalam hidupnya.

Hingga tak ada kata-kata yang paling tepat untuk menghentikan kayuh biduk bahtera ia berumah tangga. Kecuali kata-kata cerai!

“Ibu berdosa! Kalau Ibu benci, Ibu tak suka! Harusnya bukan Ibu yang meminta cerai! Tapi Ayah, dari pihak laki-laki, Bu!”
“Tahu apa kamu tentang Ayahmu?” mata Ibu hendak melumatku mentah-mentah.
“Masak Ibu percaya saja pada kata orang-orang!” nyali laki-lakiki sedang diuji Ibu.
“Heh, kamu sebagai anak jangan ajarkan pula orang tua makan kerak!” sindir Ibu lembut. Lembut tapi sungguh tajam! Menebas kesadaran akan seorang anak merindukan kebenaran kematian seorang Ayah.
“Bu, Ibu dosa!” ulangku tak ragu.
“Apa? Dosa katamu? Harusnya kamu jangan memebela-bela orang yang telah mati. Kamu membela-bela Ayahmu? Tidak cukupkah saya hidup susah, berpayah-payah seperti ini, semua karena Ayahmu berulah? Ayahmu pe…”
“Bu, tak baik menyebut-nyebut keburukan orang yang telah meninggal!” potongku.
“Memang itu kenyataan! Memang Ayahmu begitu! Apa kamu mau membela orang yang salah?”
“Untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi di bagian hukum segala, kalau mana yang benar mana yang salah saja kamu tak bisa memutuskan? Saya memang tak sampai sekolah tinggi, tapi saya kenyang hidup!” Ibu berapi-api. Ibu memang wanita percaya diri.

Aku tersudut. Ibu sedari dulu memang lihai bersilat kata. Setiap bersilat, selalu menang.
Hingga pengalamanku sebagai Hakim Lembaga Peradilan, ia abaikan begitu saja.
Sesungguhnya, kalau ibu tahu. Ini bukan masalah siapa yang salah, siapa yang benar. Tapi masalah Ayah! Masalah seorang anak manusia yang ingin tahu apa, siapa dan bagaimana Ayahnya sesungguhnya.
Apapun Ayah, ia tetap Ayahku. Takkan mampu Ibu abaikan bagai angin lalu! Tak akan, Bu!

“Ooo… anak si… yang memberikan ceramah!” seru orang-orang kampung. Eru bukan karena kagum. Seru itu seru cibiran.

Itu kualami berulang kali. Di setiap memberikan kultum bad’ha magrib. Setiap menyampaikan khutbah jumat. Setiap mengisi ceramah taraweh. Dari surau ke surau. Dari masjid ke masjid.