Langkisau Bagian 3

Sejak semula. Aku memang berniat membalikkan jalan pikiran, anggapan perasaan orang-orang kampung tentang Ayah. Begitu aku tahu, bagaimana orang-orang kampung menilai siapa Ayah!

“Air titian tentulah jatuhnya ke pelimbahannya juga!”
“Gajah di seberang lautan tampak, sedang tungau di pelupuk mata tak tampak!”
Lain hari sindiran-sindiran berisi kiasan itu kuakrabkan di pendengaran.
“Bu, benarkah Ayah telah…?”
“Sudahlah…! Kamu selalu mencari-cari cara, bagaimana supaya sakit hatiku ini!” elak Ibu masih menyisakan kebencian.
“Sayakan anaknya, Bu! Anak laki-laki satu-satunya! Sebentar lagi saya mau menikah! Anak-anak saya nanti tentu akan bertanya, di mana kubur kakeknya! Saya harap Ibu membuka hati!”
“Kudengar kau telah berkunjung dari rumah ke rumah. Kamu telah menghabiskan hari, hanya untuk mengetahui apa, siapa, bagaimana, Ayahmu bukan?”
“Saya pikir ibu lebih bisa merasakan apa yang saya rasakan!”

Sunyi menari. Antara aku dan Ibu merenda rasa. Rasa rindu dendam. Rindu yang tak pernah senada. Dendam yang tak pernah seirama.

Aku takkan menyesali apa yang ada. Takkan kusesali keadaan. Tak kusesali waktu yang merentang sekian lama. Takkan kupersalahkan zaman yang terus berbeda.

Hasratku hanya satu. Bagaimana kematian Ayah yang sebenarnya. Dan… di mana kuburnya? Telah kucoba mengubur hasrat itu. Tapi kenyataannya. Rindu anak pada seorang Ayah yang berpuluh tahun telah meninggalkannya tak terbatas ruang dan waktu. Dan… ruang waktu itu adalah Ibu!
Kini, saatnya aku menyibak ruang dan waktu itu.

“Bu! Ibu tak perlu datang saat pernikahan saya nanti!” lari ke dalam suaraku.
“Ooo begitu? Begitu caramu membalas sakit hatimu padaku?” Ibu secepat kilat menebak gelut pikiranku padanya.
“Dari mengandung, melahirkan, serta membesarkan kamu. Telah besar kamu akan diambil orang begitu saja! Apa itu caramu berbakti padaku? Apa itu tiada berdosa, hah?” mata tua itu menderas. Gurat luka menggenang nyata.
“Bu! Ampunkan…!”
“Tidak! Asal kau tahu, sejak kecil hingga kau sekarang jadi orang, agak sekali saja kau tak pernah bisa menyelami hati dan jiwaku sebagai seorang Ibu! Ingat, kalau bukan karena sikap dan perangai Ayahmu, takkan sampai saya bersuami untuk kesekian dan kesekiannya lagi!” isak Ibu tercekat hebat.
“Ampunkan saya, Bu!”
“Tak ada asap, tentu tak ada api! Pergilah kau ke Bukit Langkisau. Cari rumah bercat putih. Satu-satunya rumah dekat pekuburan masal di bukit itu. Seisi rumah itu tahu pasti, bagaimana kematian Ayahmu!” sengguk Ibu beberapa kali.

Di musim hujan penghujung tahun. Jalan berliku. Jalan berkelok menuju Bukit Langkisau. Aku menapak di bawah siraman hujan kian menderas. Beradu deras dengan kencangnya badai. Berpacu dengan detak jantungku. Beradu dengan limbubu. Bercengkrama ke pangkuan senja.

“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!” seisi rumah sontak tersentak.

Berpuluh tahun aku terpisah. Terpisah dengan adik-adik. Terpisah dengan satu ukhuwah yang tercabik ulah hati ibu yang tak ubahnya bak langkisau.

Rasa-rasanya ibu tak perlu takut! Tak perlu cemburu! Tak perlu khawatir kehilangan anak-anakmu! Tak perlu malu sebagai madu. Madu Ayah untuk kesekian kali.
Senja memanjakan kelam. Kakiku melangkah peri.

“Ini kubur Ayah!” tunjuk salah seorang adikku di situ.

Langit gelap kutatap. Sekujur badanku kaku. Mana kubur Ayah? Kenapa rata dengan tanah?

Desau angin di bukit Langkisau kian parau!

TAMAT