lelaki Pengganti Bagian 1

23 Des 1999
Abah dan Umi mengenalkanku pada seorang laki-laki yang mereka sebut “calon suami”. Aku hanya menunduk. Sesekali menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku. Calon mertua yang juga datang bertanya padaku perihal sekolah. Aku jawab masih ingin meneruskan kuliahku yang tinggal satu semester lagi. Calon suamiku menanyakan suatu hal yang membuat aku menoleh pada Abah dan Umi, meminta pertimbangan untuk menjawabnya. Orang tuaku hanya tersenyum, lewat pandangan mata mereka mengisyaratkan kebebasan ada padaku untuk menjawab.

Pertanyaan calon suamiku cukup singkat, apakah aku mau menerima cintanya. Aku jawab, jika ia berniat membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah hanya karena Allah, aku bersedia menerimanya. Begitulah pertemuan hari itu.

24 Des 1999
Menjadi kebiasaan di rumahku, untuk bicara blak-blakan. Sekeras apa pun kritik yang dilancarkan asal masih dalam batas kewajaran dan kesopanan, Abah dan Umi akan mendengarkan.

Seperti kerisauan hatiku ketika Abah dan Umi memanggilku begitu saja, mengenalkanku pada Sigit, calon suamiku. Tak ada pembicaraan Abah dan Umi yang menggiring pemberitahuan akan adanya acara itu. Jadi, aku sama sekali tak tahu.

Kukatakan maafku sebelum bicara. Lalu kutumpahkan segalanya dengan perlahan, sopan, meski harus diakhiri dengan air mata. Umi merengkuh tubuhku, aku menangis di pundaknya. Abah, seperti biasa, tampak tenang menunggu suasana reda. Salah satu yang kutakutkan, Abah marah. Tapi itu tak terjadi.

Setelah aku tenang kembali, Abah bicara baik-baik. Satu hal yang menjadi patokannya: khawatir aku terlalu bebas. Usiaku sudah mencukupi untuk berumah tangga. Sementara kebebasanku untuk menjalani hari-hari kuliah tak bisa dipantau Abah secara keseluruhan. Hanya rasa percaya yang membuat Abah berani mengijinkanku aktif di kampus.

Perlahan aku mengerti kerisauan Abah dan Umi jauh melebihhi kerisauan hatiku. Aku memahami maksud mereka. Seperti aku mengerti mengapa Sigit yang dijodohkan denganku, itu karena Abah dan Umi telah tahu siapa Sigit, anak teman baik Abah. Sigit bukan orang asing bagiku. Aku pun mengenalnya sejak kecil, ketika itu aku melihat dia sebagai kakak yang baik bagi anak tunggal seperti aku.

3 Jan 2000
Mas Sigit, begitu aku memanggilnya kini, mengirimku surat. Umi yang menerimanya karena aku sedang ke kampus, mengurus permohonan skripsi. Umi pula yang memintaku membaca segera.

Sore itu, aku membaca surat itu di depan umi.
Mas Sigit mengabarkan ia dalam keadaan baik, sehat wal afiat, dan pekerjaannya di kota Surabaya lancer-lancar saja. Ia menulis berbagai hal, dan aku merasa seperti membaca editorial sebuah surat kabar umi mendengarkan dan sesekali mengengguk.

Mas Sigit mengakhiri suratnya dengan harapan aku tetap bersemangat menyelesaikan kuliah meski hari perkawinan kami semakin dekat.

Ketika umi keluar kamar, aku merasa dijatuhi beban berat. Surat Mas Sigit yang pertama, telah membuatku berpikir banyak hal.

Aku larut dalam air mata dan doa usai sholat maghrib. Ya Allah… Ya Rabbi… berilah ketenangan pada diri ini…

14 Jan 2000
Kedua belah pihak telah mempersiapkan perkawinan ini. Disepakati bukan juni tahun ini, sementara tanggalnya belum ditentukan. Abah dan Umi terlihat gembira dengan persiapan pesta anak tunggalnya, aku. Meski hanya akad nikah dan resepsi sederhana di rumah kami, orang tuaku terlihat hati-hati dan agak perfeksionis kali ini. Aku jadi tak tega menceritakan keresahan hati ini. Hanya tahajud dan tadarus yang membuatku bersemangat menjalani hari.

Aku pernah menanyakan soal Mas Sigit pada Abah, tapi Ayahku itu haqqul yakin, calon suamiku adalah seorang pria baik-baik. Abah ternyata telah ‘menyelidiki’ calom menantunya itu, melalui beberapa rekannya. Sembilan puluh persen mengatakan Mas Sigit adalah laki-laki yang baik.

Ya Allah… jika Mas Sigit baik bagiku, bagi agamaku, bagi masa depanku, dekatkanlah… jika tidak baik bagiku, agamaku, masa depanku, tolong jauhkan ya Allah…

16 Jan 2000
Aku mulai menyibukkan diri dengan pengumpulan data dan bahan untuk skripsi. Setumpuk diktat harus kubaca habis dalam empat hari, lalu mulai menyusun strategi menghadapi calon dosen pembimbing. Pasti aka nada sedikit adu argumentasi. Karena itu aku ingin siap betul menghadapinya.

21 Jan 2000
Baru saja aku keluar dari ruang administrasi universitas, ketika seorang pemuda berjalan tergesa dan bertubrukan denganku. Map yang kupegang terjatuh, beberapa lembar arsip berceceran di lantai. Aku cepat memungutinya, dibantu pemuda itu. Kulirik jaket fakultasnya. Ekonomi. Permohonan maaf berkali-kali terucap, dan aku menjawab tegas, kumaafkan dan lain kali hati-hati.
Aku bergegas pergi.