Misteri Terowongan Kereta Bagian 1

“Kalian tahu kenapa binatang ini disebut ‘kereta api’?” Bapak bertanya sambil takjim menatap langit-langit gerbong, ke sebuah kipas angin karatan yang tidak berfungsi lagi.
Kami yang duduk rapi di sebelah Bapak, antusias ikut mengamati seluruh gerbong. Celingukan ke depan belakang, menatap keluar Jendela, melihat batang pohon berpilin seperti berlari. Hutan pedalaman Sumatera yang selalu berkabut di pagi Hari.
Bapak tersenyum, dia sudah menduga kalau kami jangankan menjawab pertanyaan, mendengar kalimatnya barusan pun tidak. Dia paham, ini perjalanan Pertama kalinya aku dan Ismail dengan kereta api. Meski si ular besi ini sudah Menjadi Bagian kehidupan kampung, dengan suara klaksonnya yang tidak pernah alpa, melenguh nyaring setiap shubuh buta Dan tengah malam, sejatinya kami Dan boleh jadi anak-anak lain belum banyak yang menaiki kereta api dalam sebuah perjalanan sungguhan.
Asyik bermain di person, saling adu menjaga keseimbangan di atas batangan rel, meletakkan paku Dan tutup botol untuk membuat pisau kecil Dan mainan gasing, jahil menaiki gerbong yang terparkir di perlintasan langsir, Itu semua tetap tidak Ada apa-apanya dibandingkan pengalaman langsung menaiki kereta. Apalagi dengan karcis tersimpan rapi di saku, tidak akan Ada anak buah Lik Nur kepala stasiun kampung yang sibuk meneriaki Dan mengejar kami agar berhenti bermain di wilayah kekuasaannya.
“Eh, memangnya karena apa, Pak?” Lima menit berlalu dari pertanyaan yang menguap, Lima menit sibuk mengamati kesibukan gerbong penumpang, tiba-tiba Ismail seperti teringat kembali, menoleh kepada Bapak, berseru malah balik bertanya.
Bapak yang sedang memperbaiki bungkusan bubuk kopi, oleh-oleh untuk Koh Alim tertawa, “Kau pikir sendiri dulu lah apa jawabannya… Oi, Tak Ada pertanyaan dijawab pertanyaan.”
Ismail menyeringai, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menoleh kepadaku. Aku yang sedang lamat-lamat memperhatikan penumpang di seberang bangku tidak terlalu memperhatikan wajah sebal Ismail. Gerbong penumpang jaman Itu hanya memiliki Dua lajur tempat duduk, memanjang saling berhadap-hadapan dari ujung ke ujung. Lantas lorong di tengahnya dipenuhi dengan barang bawaan. Seperti sekarang, bertumpuk-tumpuk karung goni, kotak kardus, tandan buah segar, bahkan di dekat kami Ada penumpang yang membawa seekor ayam jago hutan. Bulu hitam, jengger merah Dan surai emasnya terlihat menawan. Sayangnya, jago tangguh ini terkurung murung di dalam sangkar.
“Sejak kapan Ada kereta di kampung Kita, Pak?” Ismail bertanya, melupakan percakapan sebelumnya.
“Hmm… Sudah lama sekali. Jaman kakek-nenek kau masih kecil.”
Ismail manggut-manggut Sok serius.
“Lebih dulu Mana, jalan kereta atau jalan Mobil, Pak?”
“Tentu Saja jalan Mobil. Tetapi tidak seperti yang kau lihat sekarang, jalan Mobil yang lebar-lebar. Dahulu, muasal jalan Itu adalah jalan setapak yang dibuat penduduk kampung untuk melintasi hutan. Dilewati gerobak kerbau, gelondongan kayu Dan alat lain yang dibuat agar memudahkan membawa hasil bumi. Lama-kelamaan jalan Itu membesar, diaspal, dibuat parit kanan-kirinya, jadilah jalan Raya. Berbeda halnya dengan jalur kereta yang dibangun dari nol. Saat Itu penjajah Jepang mengirimkan ribuan tenaga kasar dari pulau Jawa untuk membuatnya. Mereka disebut romusha, mereka -”
“Romusha Itu apa, Pak?” Ismail memotong.
“Kerja paksa.”
“Kerja paksa Itu apa, Pak?”
Bapak Kali ini terdiam sebentar, nyengir, “Kau memang berbeda, Ismail… Kau selalu Saja banyak bertanya, sampai kau malas berpikir sendiri. Coba kau pikit dululah. ‘kerja’ Dan ‘paksa’, oi, kalau digabungkan jadi apa? Kau pasti tahu sendiri artinya.”
Ismail yang duduk di sebelahku hanya balas nyengir.
POOONG!
Tangkainya gerbong kereta semakin dalam membelah belantara hutan. Atap-atap Rumah yang terlihat kecoklatan dari kejauhan mulai menghilang, digantikan hamparan hijau yang dibungkus kabut pagi, seperti buntalan kapas putih, menyenangkan melihatnya. Satu Dua burung elang terbang tinggi, mendengking nyaring. Indah diintip dari balik kaca Jendela kereta yang retak Dan kusam.
“Waktu Bapak seusia kalian, lokomotif kereta warnanya masih hitam pekat, sederhana sekali, tidak berwarna-warni seperti sekarang. Gerbongnya tidak panjang, hanya berbilang tiga empat,” Bapak santai bercerita, “Waktu Itu lokomotif juga tidak menggunakan mesin diesel”
“Ah iya, Badim tahu.” Aku tiba-tiba terpikirkan sesuatu, memotong kalimatnya Bapak.
Bapak Dan Ismail menoleh kepadaku, tahu apa?
“Badim tahu kenapa binatang ini disebut ‘kereta api’.” Aku tertawa senang, penjelasan Bapak barusan mengingatkanku pada pelajaran ilmu Alam, memberikan ide jawaban, “Karena waktu Itu lokomotifnya masih menggunakan tenaga uap. Ada tungku batubara untuk memanaskan ketel air besar. Makanya disebut ‘kereta api’, karena lokomotif keretanya seperti tungku masak di rumah, berapi, mengeluarkan asap hitam tebal. Benar, bukan?”
Bapak tersenyum, “Kau benar, Badim. Memang seharfiah itulah muasal nama ‘kereta api’. Sama seperti ketika orang-orang menamai ‘rumah sakit’, ‘sepak bola’, Dan juga yang tadi, ‘kerja paksa’. Jaman Itu, kalau kalian berdiri di puncak bukit malam-malam gelap, lantas melihat kereta yang sedang meliuk melintasi lembah, maka kalian laksana melihat seekor Naga menyala dari kejauhan. Begitu memesona. Kereta yang ber-api.”
Sekarang Bapak menoleh ke arah Ismail. “Nah, kau seharusnya seperti kakakmu. Selalu pandai mencari sendiri jawabannya. Tidak sedikit-sedikit bertanya, atau malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kau janganlah malas berpikir.
Ismail hanya memonyongkan bibir, pura-pura tidak mendengarkan. Sementara Aku sudah terlanjur senang dipuji Bapak. Rasanya senang yang membuatku abai memperhatikan kalau baru Saja di depan kami lewat empat pemuda dengan gerak-gerik mencurigakan. Tampilan mereka tidak berbeda dengan penumpang lain, tapi mereka sepertinya menyembunyikan sesuatu di balik baju, sepertinya tengah berhitung dengan situasi gerbong, mengamat-ngamati penumpang yang memadati lorong kereta. Dan salah seorang diantaranya tiba-tiba mengangkat tangannya.
Itu bukan lambaian biasa, Itu sungguh sebuah kode rahasia.