Misteri Terowongan Kereta Bagian 2

“Aduh, karcis Ismail Mana, ya?” Ismail memeriksa saku baju, kosong. Kantong celana panjangnya, juga kosong. Jatuh? Mengulurkan kepala ke bawah, di kolong tempat duduk hanya Ada geletak sampah kantong plastik Dan potongan kardus.
“Aduh bagaimana ini, karcis Ismail tidak Ada, Pak.” Suara Ismail mulai mengeras, cemas.
“Kau Cari dululah.” Bapak menoleh sekilas.
Aku ikut menatap Ismail yang sibuk. Sudah biasa pemandangan seperti ini, sama biasanya saat di stasiun kampung tadi ketika Ismail memaksa menyimpan sendiri karcis keretanya. Dia selalu Saja sok tahu Dan seperti biasa, ujung-ujungnya justru mengacaukan semuanya.
“Karcisnya benaran tidak Ada, Pak. Aduh-” suara Ismail mulai mencicit. Berhenti sejenak, menoleh ke ujung gerbong, Dua petugas terlihat bergerak mantap memeriksa karcis-karcis penumpang. Wajah mereka sebenarnya ramah Dan sopan, tapi bagi Ismail yang rusuh mencari karcisnya, melihat seragam mereka Saja sudah menimbulkan masalah.
“Sudah kau periksa semua sakumu?”
“Sudah berkali-kali, Pak.” Meski bilang ‘sudah berkali-kali’, seperti kebanyakan orang yang sedang kehilangan, Ismail tetap memeriksanya lagi.
“Mungkin terselip di lipatan baju.”
“Tidak Ada, Pak. Tidak Ada ini.”
Aku yang meski sering sebal dengan tingkah Ismail karena dia memang terbiasa menghilangkan sesuatu ikut membantu mencari. Kasihan juga lama-lama melihat tampangnya.
“Karcis Ismail sungguhan hilang. Bagaimana Pak?” Ismail memegang lengan Bapak, menoleh kecut ke arah petugas kereta di ujung lorong.
“Wah, bagaimana, ya… Kau bisa diturunkan di jalan kalau tidak punya karcis.” Sayangnya, Bapak malah berkelakar ringan.
Ismail meneguk ludah. Satu bulir peluhnya menetes di dahi. Tertegun. Bapak tidak bohong, kan? Bertanya lewat ekspresi wajah yang tegang.
“Iya, Itu hukuman lumrah untuk penumpang yang tidak punya karcis. Setahun Bapak, sudah banyak yang diturunkan di jalan.” Bapak pura-pura melongok keluar Jendela, hutan lebat terlihat menyeramkan.
Demi kesadaran Itu, Ismail seketika kembali memeriksa semua sudut pakaian Dan tubuhnya. Dua Kali lebih rusuh dibanding sebelumnya.
“Mungkin masuk kantong oleh-oleh.” Aku meraih bungkusan plastik di pangkuan Bapak, bergegas ikut memeriksa bubuk kopi until Koh Alim. Kondektur pemeriksa karcis sudah semakin dekat, repot urusan kalau Ismail sungguhan diturunkan di tengah jalan. Meski kami sering bertengkar, dia satu-satunya adik lelakiku.
“Aduh, tidak Ada, Pak… Bagaimana ini?” Ismail berseru-seru panik. Membuat penumpang di sebelah kami ikut menoleh. Juga penumpang yang duduk di depan, ingin tahu app yang hilang.
Kondektur tinggal beberapa langkah lagi.
Entah apa yang Ada di kepala Ismail, dia sekarang nekad membuka bajunya. Berusaha mengibaskan, siapa tahu kertas bertuah Itu keluar dari persembunyian, kosong. Meloloskan celana panjangnya ke bawah, menyisakan sepotong kancut, mengibaskan celananya, juga tidak Ada terlontar jatuh.
“P-a-k…” Ismail mencicit tertahan.
Salah Satu kondektur dengan tubuh tinggi besar Itu persis udah berdiri di depan Ismail. Kumis lebatnya melintang. Tangannya yang memegang alat pembolong kertas terjulur. Dia mengernyit melihat kami mungkin heran menatap Ismail yang telanjang.
Ismail membeku, tampangnya Pias.
“Wah, Pak Saiful… Apa kabar?”
Bapak menatap lamat-lamat kondektur Itu. Berusaha mengingat.
“Pak Saiful lupa… Says dulu yang sering menggantikan Bapak menjaga tungku lokomotif.” Wajah kondektur Itu terlihat riang, seperti melihat seseorang yang amat dihargainya.
Sejurus setelah ingatan pulih, Bapak tertawa lepas, berdiri. Kondektur itu memeluk Bapak erat-erat. Dua sahabat lama sepertinya baru Saja berjumpa kembali.
“Sodikun? Kau sodikun?”
“Benar, Pak… Saya.”
“Astaga, hampir Lima belas tahun lalu… Bukan main.”
Bapak Dan kondektur itu akrab saling menepuk bahu.
“Bapak hendak kemana? Palembang?”
“Tidak, kami hanya ke Kota kabupaten. Bertandang ke salah Satu kenalan.”
“Ka-mi? Bapak tidak sendirian? Pergi dengan siapa?” Kondektur itu menyeka matanya. Tawa Dan kesenangan barusan membuatnya sedikit berkaca-kaca.
“Anak-anakku… Ya, meski mau dibilang apa, yang Satu in again Malu aku mengakuinya.” Bapak tertawa, bergurau menunjuk Ismail yang masih telanjang, baju Dan celananya tersampir di bahu, dengan wajah Pias, takut benar diturunkan di tengah jalan. “Ini Badim, sembilan tahun, anak nomor duaku, si anak pandai. Itu yang telanjang, tujuh tahun, Ismail, anak nomor tigaku…, Si anak spesial.
“Bah, putranya sekarang berapa, Pak Saiful?”
“Empat.. Dua lagi yang perempuan, si sulung Lia Dan si bungsu Amel tinggal di rumah. Menemani Mamaknya mengurus ladang.”
Kami saling berkenalan, kondektur berkumis melintang Itu menyapa, mengusap lembut rambutku. Lantas tertawa mengacak-acak rambutnya Ismail. “Kenapa kau hanya memakai kancut di tengah gerbong, Nak? Kau gerah?”
“Dia telanjang karena takut melihat kau, Sodikun.”
“Karena aku?” kumis lebat kondektur itu sedikit bergerak-gerak, tidak mengerti. Bapak tertawa, melambaikan tangan, lupakan Saja, dia hanya bergurau.
Adalah Lima belas menit Bapak Dan kondektur itu berbincang. Sementara temannya meneruskan memeriksa karcis penumpang. Aku berkali-kali mendongak ikut mendengarkan percakapan, namun lebih berkali-kali lagi menoleh kepada Ismail yang perlahan-lahan kikuk duduk kembali, patah-patah berusaha mengenakan baju Dan celananya. Wajah Pias Ismail mulai berubah, Menjadi merah. APalagi dengan separuh gerbong menatap ke tempat duduk kami. Ismail bersungguh-sungguh menyeka peluh di dahi, menghela napas panjang.
Setelah untuk terakhir kakinya memeluk erat Bapak, Sodikun melangkah santai melankutkan tugas. Sama sekali tidak perlu memeriksa karcis kami.