Pelangi di Hatiku Bagian 1

“AWAAAAS!”
BUUMM!
“AWAAAAS!”
BUUMM!
Kilau petir menyambar Samar, disusul gemerutuk panjang suara guntur, langit dipenuhi awan hitam, angin kencang menerpa wajah, membuat anak rambut beriap-riap. Minggu-minggu ini seharusnya sudah masuk musim penghujan, boleh jadi sore ini akhirnya hujan turun lebat setelah berbulan-bulan kemarau mengungkung kampung. Kabar baik bagi selirih penduduk, Itu artinya benih padi sudah bisa mulai ditabur.
Kami tidak terlalu memperhatikan kesibukan di atas langit sana, kami sedang asyik melompati cadas sungai. Kadang bergantian, lebih sering lompat serempak. Mandi sore yang menyenangkan.
“Kau lihat gayaku tadi, heh? Hebat, bukan? Itu namanya Gaya ‘elang terbang’.” Malik teman sekelasku muncul dari permukaan air. Tertawa, seolah yakin benar kalau kami akan terpesona dengan lompatan terakhirnya.
“Ah, tidak Ada apa-apanya Itu. Apanya yang elang, menurutku lebih patut disebut kodok bunting lompat.”
Nur, teman sekelas Ismail, mencibirkan mulut memanaskan situasi, yang lain tertawa.
Muka Malik menggelembung, nampaknya dia sedikit tersinggung, “Oi, dibanding lompatan Kau, lompatanku jauh lebih baik. Lompatan Kau macam nenek-nenek sakit pinggang disuruh loncat.”
“Kata siapa, heh? Jelas jauh lebih baik lompatanku.”
“Oi, Kai berano tanding?”
“Kenapa tidak. Ayo Kita ulangi. Biar Badim Dan Ismail jadi jurinya.”
Malik Dan Nur serempak menoleh kepadaku Dan Ismail, meminta kesepakatan sebagai juri. Aku mengangkat bahu, Ismail juga. Maka mereka bergegas berenang ke tepi sungai. Berebutan menaiki cadas setinggi tiga meter Itu dengan berpegangan pada akar pohon yang menjuntai. Lantas mengambil ancang-ancang belasan meter dari bibir sungai, berlari sambil berteriak kencang.
“AWAAAAS!”
BUUMM!
“AWAAAAS!”
BUUMM!
Aku Dan Ismail yang berenang mengambang di permukaan sungai menyeka wajah dari cipratan air. Kencang sekali debum mereka Kali ini, sengaja benar menghantamkan badan ke permukaan air, ingin terlihat paling hebat. Nur Dan Malik berenang mendekat.
“Bagaimana, lebih baik lompatan siapa?” Malik bertanya.
“Malik.” Aku menjawab mantap.
“Nur.” Jawab Ismail tidak kalah mantap.
Tentu Saja urusan ini tidak pernah mudah diputuskan. Mau berapa kalipun kami ber-awas-awas bum-bum saling memamerkan teknik lompatan terbaik, penilaian kami tetap Saja subyektif, membelah teman masing-masing. Saat Nur Dan Malik sudah saling memukul air, bertengkar tidak Mau mengalah, saat aku berusaha memisahkan tangan-tangan mereka, terdengar teriakan kencang dari atas cadas.
“AWAAAASSS!”
BUUMM!
Rajo teman sekelasku lainnya yang bercita-cita Menjadi penerbang Serta pandai tipu-tipu sudah berdebum menghantam permukaan air sungai sebelum kami sempat menghindari posisi mendaratnya. Aku memakinya pelan, dia hampir Saja menghantam Kepala kami. Rajo hanya tertawa lebar, sama sekali tidak merasa berdosa. Berenang mengambang di dekatku.
“Kau kalau loncat bilang-bilanglah.” Aku bersungut-sungut.
“Oi, bukankah sudah kubilang? Aku tadi malah berteriak kencang sekali, bukan? Awaaaasss!” Rajo nyengir. Memukulkan air ke wajah Malik Dan Nur yang masih saling melotot.
“Bukannya Kau tadi pagi absent sekolah karena sakit?” Aku menatap Rajo.
“Kata siapa aku sakit?”
“Surat ijin yang diberikan ke Pak Bejo isinya begitu.”
Rajo menyemburkan air dari mulutnya, tertawa santai, “Surat Itu aku yang buat, kutiru-tiru Saja tulisanna ibuku, juga tanda tangannya. Sama seperti kukarang-karang Saja kalau aku lagi sakit.”
Aku Dan Ismail saling bertatapan, andai kami bisa semudah Rajo memalsukan Surat ijin. Segera mengusir pikiran Itu jauh-jauh, ide yang berbahaya. Kalau sampai Mamak tahu, hukumannya berat sekali.
“Kalau aku jadi Kau, aku pasti menyesal tidal masuk sekolah tadi pagi.” Malik yang sepertinya sudah melupakan pertengkaran dengan Nur, menyeringai menatap Rajo.
“Apa pula serunya di sekolah? Hanya celoteh Pak Bejo yang Kau dengar setiap Hari.” Rajo menyelam sebentar, tidak peduli. Tubuhnya terlihat meliuk cepat di dalam beningnya air.
“Kau keliru. Tadi pagi sekolah benar-benar berbeda. Lebih dari biasanya.” Malik langsung berkata saat Kepala Rajo kembali muncul di permukaan sungai.
“Maksudnya Kau lebih membosankan?” Rajo menyeka air di dahi.
“Tadi pagi Ada anak baru.” Malik memasang wajah serius.
“Itu Saja?” Rajo mengangkat bahu, tidak tertarik..
“Oi, kamu seharusnya melihat anak baru Itu. Pindahan dari Kota. Kata Pak Bejo, anak bidan yang baru bertugas di kampung Kita. Anak -”
“Perempuan atau laki-laki?” Rajo memotong.
“Perempuan.”
“Puuuhh!” Rajo menyemburkan air dari mulutnya, sama sekali tidak tertarik. “Apa serunya anak perempuan. Mereka cuma bisa berteriak-teriak Saja di halaman sekolah. Lantas menangis mengadu kalau diganggu. Cengeng. Tukang lapor.”
Malik ikut menyemburkan air dari mulutnya, sebal melihat yang diajak bicara sedikit pun tidak peduli, malah sekarang kembali meluncur menyelam. Aku menggaruk Kepala, sebenarnya tadi pagi memang berbeda. Saat anak baru Itu masuk kelas, seluruh mata menatap Tak berkedip, terpesona setengah mati. Hanya Saja, kalau urusan sekolah Saja tidak pernah penting bagi Rajo, apalagi urusan lain.
Rajo yang kembali muncul ke permukaan sungai, dengan santai berseru kepada Nur, “Kau membawa bola plastik, kawan?”
Nur menunjuk bola merah yang disangkutkan di akar pohon.
“Nah, Kau tunggu apa lagi?” Rajo menyuruh Nur mengambil bola Itu.