Perantauan Aladin Di Jazirah Arab Bagian 4

Sebelumnya perantauan aladin di jazirah arab bagian 3.

Ketika ia terburu-buru mencoba berlari meninggalkan kapal itu, ia merasakan selajur tangan mencekal kerah bajunya yang menariknya untuk kembali ke dek kapal itu. Nah, benar-benar tak berkutik dia. Kapal pun mulai bergerak. Lama-kelamaan merenggang dari balok-balok kayu pelabuhan. Menuju laut lepas, sebuah lautan yang tergelar di dalam perut bumi dengan pemandangan yang tersendiri.

Langit rasanya terang-benderang karena bintang-bintangnya banyak dan besar-besar. Waktu itu malam hari dengan beberapa rembulan yang berbentuk purnama yang tampak seperti bergelayut di cakrawala. Alangkah menakjudkan. Menyaksikan pemandangan ini, Aladin masih terus memandang takjud dan sambil berdecak terkagum-kagum terus memuji kebesaran Allah Azza wa jalla. Ia saksikan juga lautan bening sekali sehingga ikan ikan yang besar maupun yang kecil nampak jelas bermain di buritan kapal.

Namun demikian, hati kecil Aladin sebenarnya tidak karuan rasanya. Ia harus berpisah dengan Galapagut, padahal ia telah berjanji dengannya akan menemantinya di dinding gua di bawah lubang besar itu.

Dengan keadaan sedih begini, si Aladin menuruni tangga mencari kamar mandi untuk berwudhu. Lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat memohon ampun dan memohon kekuatan.

Setelah selesai, ia duduk memojok dan merenungkan segala sesuatunya. Terasa memang ada tangan-tangan yang jauh lebih berkuasa dan tangan-tangannya sendiri dan mengatur jalan hidupnya.

Seperti sekarang ini, ia sama sekali tidak mengetahui mau di bawa kemanakah kapal ini dalam pelayaran yang serba membingungkan ini? mengapa ia tidak bisa mengelak? Dan mengapa kejadian ini begitu cepat?

Nah, sekarang ia hanya memohon kepada Allah SWT supaya segalanya berjalan dengan lancar dan diberikan kemudahan oleh-Nya.

Kapal layar Aladin melaju terus. Dalam keadaan yang gundah gulana Aladin bekerja keras. Ia mengepel geladak dan membantu memasak di dapur, menata barang-barang dan melakukan pike di tengah malam hingga subuh.

Dirasakannya pekerjaan di kapal tersebut sangatlah berat. Sering dalam keadaan lelah, Aladin sering kali terjatuh disembarangan tempat. Dibandingkan pekerjaannya sehari-hari di pasar, pekerjaan di kapal sepuluh kali lipat beratnya di bandingkan dengan di pasar. Masya Allah. Di kapal setiap orang sungguh-sungguh di didik untuk berdislipin tinggi. Makan, minum, dan mandi pun selalu di batas. Hal itu benar adanya karena apa-apa yang ada di kapal semuanya serba terbatas.

Semua awak kapal mendidik orang-orang yang baru dengan keras, jika ada yang terjadi kesalahan, hukumannya mengepel geladak sendirian. Namun, demikian awak kapal yang sudah bekerja bertahun-tahun pun bisa saja berbuat suatu kesalahan. Bagi mereka akan mendapatkan hukumannya lebih berat. Misalnya, dia harus menegepel geladak dua hari berturut-turut.

Dengan apa orang-orang itu mengepel? Dengan air laut yang ditimba ember bertali yang diikatkan pada pagar geladak.

Sewaktu Aladin terjatuh tertidur disaat ia melakukan piket kelima kalinya bersama enam temannya yang kesemuanya orang-orang yang baru, ia pun diadili awak kapal. Namun, ia tidak mendapatkan hukumannya karena ada seorang awak kapal yang tahu bahwa siang harinya Aladin dianggapnya bekerja terlau keras, sehingga di waktu malam harinya sangatlah wajar kalau Aladin kelelahan.

Karena si Aladin di anggapnya orang yang baik dan juga jujur oleh kapten kapal, maka Aladin pun ditugaskan dibagian menyortir harta karun ke dalam karung. Harus seimbang banyaknya emas, intan, berlian dan platina di setiap karung-karungnya itu.

“Apakah barang-barang itu akan dijual atau dibagikan secara gratis, Kapten?”

“Tentu saja dijual,” jawab Kapten kapal yang berewokan sambil mengelus-ngelus janggutnya.

“Kan harta karun itu diambil secara gratis,” sergah Aladin.

“Kamu benar, tetapi kamu jangan lupa, untuk mengambil harta karun itu, kami mengeluarkan biaya,” tangkis Kapten. “Untuk makan kamu saja tiga kali sehari. Belum lagi kalau kamu jatuh sakit, kami pun harus memberikan mengobatan kepada kamu. Nah, berapa puluh orang yang seharusnya kami biayai dan kami beri makan.”

“Tetapi tidak terlalu mahal kan Kapten?”

“Itu tergantung pada roda harga jual beli kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau harga, roti, daging, gula, kain, teh, kopi, rempah-rempah naik misalnya, kami juga akan menaikkan harta karun ini.”

Percakapan dengan kapten kapal tersebut ini membuat Aladin bertambah ilmu pengetahusannya. Aladin bisa memahami persoalan yang kelihatannya sederhana ternyata mengandung persoalan yang begitu rumit sekali. Lagi pula setiap persoalan itu kait mengkait dengan persoalan yang lainnya.

Aladin mendengar musik dari dawai-dawai harpa yang di petik dari dalam sebuah kamar.aladin dan juga teman-temannya tidak mengetahui siapa yang  memainkan harpa tersebut. Hanya saja Aladin saja yang mempunyai naluri musik yang sangat peka dan serta merta Aladin pun mengeluarkan serulingnya dan menyambut lagu dari harpa itu yang sudah lama ia tahu dan mengenal liriknya.

Selanjutnya perantauan aladin di jazirah arab bagian 5.