Permata Bunda Bagian 1

Aku memasuki kamar Bunda hampir tanpa bersuara. Saat seperti ini biasanya Bunda masih tidur, dengan tarikan nafas terdengar berat. Perlahan sekali kusingkap tirai, kutahan agar tak menghalangi nampan yang kubawa. Segelas air putih hampir tersenggol, membuatku sedetik menahan nafas. Untung tidak jatuh, batinku senang.

Kuletakkan nampan berisi makan pagi di meja samping tempat tidur Bunda. Obat-obatan dan buah-buahan kuatur rapi. Sampah-sampah pembungkus makanan kupungut satu persatu, lalu dengan sapu mini kubersihkan lantai di sekitar ranjang Bunda. Kenapa harus dengan sapu kecil itu? Pernah adikku Riza bertanya. Lalu sambungnya, bukankah kakak lebih mudah menyapu dengan sapu besar? Aku jelaskan alasanku dengan bijak, sapu mini itu tidak akan menggaanggu Bunda yang tengah tidur. Dan ia mengangguk meski tak setuju. Begitu pula dengan adikku yang lain, Bunga, malah dengan argumentasi yang meledak-ledak. Tapi argumennya mentah dengan jawabanku yang singkat. Aku tersenyum perih mengingatnya. Kejadian masa lalu sangat melukai perasaan Bunda, membuatnya dapat berteriak histeris saat melihat sapu ijuk. Ya, hanya untuk sebuah sapu kami harus hati-hati agar benda itu tak terlihat Bunda.

Kuperhatikan wajah BUnda yang masih terlelap. Betapa Maya sayang padamu, BUnda, bisikku. Segala yang utama kini adalah Bunda, Maya di sini untuk Bunda seorang. Tak terasa air mataku menetes, cepat-cepat kuhapus demi melihat geliat Bunda.

“Uuuh… uuuuh… uh… uh… uuuh…,” BUnda mengusap mata dan terpengarah melihatku tengah berdiri memandangnya. Keningnya berkerut menandakan ketidaksetujuan. Aku mendekatinya dengan senyum.

“Selamat pagi, Bunda…,” sapaku ramah. Bunda tetap diam. Bunda hanya memperhatikanku saat kuganti selimut dan alas tidurnya yang basah kena air kencing. Sambil bercerita tentang kegiatan kami, anak-anaknya di hari kemarin dan yang akan kami kerjakan hari ini, aku menyeka Bunda dengan air hangat, member bedak dan minyak kayu putih agar terasa hangat, lalu mengganti kebaya, kain dan baju dalamnya dengan yang bersih. Setelah selesai kubantu Bunda bersandar di tembok dengan ditumpu dua bantal berbau apek karena jarang dijemur. Kututup badan Bunda dengan selimut kain. Setelah membereskan ranjang, aku mengangkuti baju-baju kotor dan beranjak ke belakang. Belum sampai di pintu kamar, Bunda memanggilku.

“Uuuuuh! Uh! Uh!” tegasnya.
Aku menoleh. “Sebentar Bunda. Maya simpan baju-baju ini ke belakang,” kataku sambil berjalan cepat. Hampir saja aku menabrak Riza yang hendak berangkat sekolah. “Maaf, Za.”
“Ada apa, Kak?” Tanya Riza bingung.

Aku masih sibuk menumpukkan baju Bunda di tempat cucian. Belum sempat kujawab ketika terdengar suara piring jatuh.
PRANG! PYAR!
Aku dan Riza bersitatap, dan seperti berlomba kami segera mendapati Bunda. Bunda! Aku takut sekali kalau Bunda terjatuh atau kena celaka. Tapi ternyata… Bunda masih duduk bersandar di ranjang. Di lantai tampak berserakan piring dan gelas pecah bercampur dengan sarapan pagi Bunda. Nampannya sendiri jatuh agak jauh. Sementara tutup gelas masih erputar seperti gangsing.

“Bunda?” tanyaku was-was. “Bunda hendak mengambil sarapan pagi sendiri?” aku memunguti pecahan piring dan gelas, diikuti Riza. Adikku itu menyenggol lenganku sambil mengerutkan kening. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku tahu pasti Riza tidak nyaman dengan situasi saat ini. Begitu pula denganku, sarapan pagi buat BUnda yang sudah kumasak susah payah, jadi sia-sia. Ingin rasanya aku menangis, tapi kutahan sekuat tenaga.

“Kamu sudah sarapan?” tanyaku.
Riza mengangguk sambil terus memunguti beling kecil-kecil.
“Kalau begitu, cepatlah berangkat! Nanti ketinggalan bus!” kataku lagi.
“Ya, saya akan berangkat selesai membereskan ini,” jawab Riza dingin. Ia pergi sebentar ke belakang mengambil kain pel dan seember kecil air.
Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir kami hingga lantai di bawah ranjang Bunda bersih kembali.

Beriringan kami keluar kamar tanpa melihat pada Bunda. Jangan katakana kami anak durhaka, tapi kami sudah terbiasa dengan reaksi Bunda. Ini kali kesekian belas tiba-tiba Bunda membuang sarapannya. Jika setelah membersihkan bekas tumpahan nasi lantas kami melihat pada Bunda, beliau akan membuang lagi apa yang ada di dekatnya. Jadi, lebih aman jika kami menganggap apa yang Bunda lakukan adalah wajar. Aku sendiri sudah terbiasa dengan sikap acuh Bunda, tapi tidak dengan adik-adikku. Seperti pagi ini. Riza kutemui sedang merenung di kursi belakang. Aku hendak menyiapkan sarapan baru buat Bunda saat itu.

“Sedang apa kau, Za? Tak sekolah kau?” tanyaku. “Dan… mana Bunga?” mataku mencari adik bungsuku.
“Sudah berangkat,” jawab Riza lesu.
“Tanpa sarapan?”
“Mana mau Bunga sarapan kalau ada yang kacau di rumah ini,” suara Riza parau.
“Astaghfirullah, Riza!” tegurku. “Apa yang kacau?”
Riza berdiri tepat di depanku. Matanya berbicara banyak, tapi aku tak sanggup menerjemahkan. Aku pura-pura sibuk mengambil nasi.
“Apa kakak tak pernah merasa lelah dengan rutinitas ini?” tanyanya tajam.

Aku berhenti mengaduk nasi. Tenggorokanku tercekat. Sanggupkah aku menghadapinya sekarang? Aku meradang dalam hati. Jangan, jangan sekarang. Bunda belum makan pula. Biar aku sediakan sarapan Bunda, mengantar ke kamarnya, lalu mulailah menggugat kakakmu ini. Tapi, bila saat itu tiba, sanggupkah aku menghadapinya?