Permata Bunda Bagian 2

“Kakak pembohong sejati,” sergah Riza.
Aku tersentak. Adikku ini tak pernah bicara kasar kepadaku. Tapi sekarang?
“Kakak membohongi kami semua. Kakak membohongi diri Kakak sendiri. Sudah puas menyiksa diri? Kakak menolong kami semua, tapi jiwa Kakak perlu pertolongan…”
“Riza!” aku hampir berteriak.
Riza menghela nafas.
“Apa kau tak lihat Kakak sedang apa? Biar Kakak selesaikan dulu pekerjaan ini, baru kita bicara!” mataku terasa basah. Kutatap Riza yang berdiri kokoh, namun pandangan matanya penuh kasih.
“Tak ada waktu lagi. Kakak harus tahu, bukan kita yang seharusnya menanggung semua ini. Bukan pula Kakak. Tapi dia yang di sana, yang sedang leha-leha dengan gundik barunya!”
“Riza!” mataku setajam ucapanku.

Riza mengambil tas sekolahnya. Dengan gontai ia menyalamiku dan mencium punggung tanganku.

Aku diam mematung. Pun sampai Riza hilang dari pandangan.

Banyak hal berkecamuk dalam benakku pagi itu. Dan itu kubawa ke kamar Bunda.

Kuletakkan nampan di meja samping ranjang Bunda. Lalu kutinggalkan kamar tanpa melihat Bunda lagi. Seperti biasa, setengah jam lagi akan kuambil nampan yang sudah kosong. Begitulah ritual yang membuat Bunda mau menyantap makanan yang disediakan. Jika ritual itu terganggu, akan muncul hal-hal yang dikatakan Riza dengan ‘kacau’.

Pagi itu, setelah mengantar sarapan aku langsung masuk kamarku sendiri. Termenung aku duduk di tepi ranjang. Tanpa terasa air mataku menetes, teringat kejadian tiga tahun lalu.

Siang itu, baru saja kubuka pintu pagar ketika terdengar jeritan Bunda. Riza, masih dengan seragam SMP, berlari menghambur keluar rumah, diikuti Bunga yang menangis sesegukan.

“Riza! Bunga! Apa yang terjadi?” kedua adikku berlari mendapatkanku. Kutuntun mereka memasuki rumah, meski lngkah mereka tersendat karena takut. Di depan pintu tiba-tiba kedua adikku berbalik lari ketakutan dan bersembunyi di dekat garasi. Wajah mereka penuh rasa takut. Dan ketakutan pun menulariku ketika sampai di ruang tengah, melihat semua kejadian yang menimpa Bunda.

Bunda tampak bersimpuh di kaki Ayah, menangis memohon ampun. Tapi Ayah dengan penuh umpatan memukuli Bunda dengan gagang sapu ijuk. Aku berteriak histeris dan berlari mencegah Ayah bertindah keras. Tapi Ayah mendorongku hingga jatuh.

“Diam! Ini urusan orang tua!” kata Ayah keras sambil mengacungkan sapu ke arahku.

Astaghfirullah! Belum pernah kulihat Ayah semarah ini pada kami, keluarganya. Bunda menatapku iba di sela isak tangis. Hatiku miris melihat peristiwa itu. Ya Allah… tolong kami… tolong Bunda…

“Sekarang aku Tanya kau! Perempuan tak tahu diuntung! Mau cerai atau tidak?!” Ayah mengangkat lengan Bunda keras-keras.
Bunda merintih dan menangis.

Ayah melepaskan tangannya, membuat Bunda jatuh tak tertahan. Kulihat keningnya mengeluarkan darah. Dan Ayah? Lelaki itu berjalan keluar rumah begitu saja. Masih kudengar dampratannya kepada kedua adikku, sebelum deru mobil kencang meninggalkan rumah kami.

Aku memburu Bunda yang tergeletak di lantai. Kuraba keningnya yang basah darah.
Bunda membuka mata perlahan.

“Bunda…” panggilku haru. Kuambil bantal kursi terdekat dan menaruhnya di bawah kepala Bunda. “Maya panggilkan dokter, ya…”

Tangan Bunda erat mencekal lenganku. Aku terkejut. Bibir Bunda bergerak-gerak hendak berbicara. Kudekatkan telingaku pada Bunda. Suaranya sangat lirih, membuatku harus cermat mendengarkan.

“Bunda… ingin… m…ma…ti… saja…”
“Bunda!” aku terpekik. “Istighfar, Bunda! Istighfar! Allah akan menolong kita, Bunda…”
“Kak!” teriak Riza dan Bunga bersamaan. Kulihat kedua adikku tampak berdiri mematung di depan pintu dengan mata tertuju pada Bunda. Kasihan kalian, adik-adikku, masih terlalu kecil untuk menghadapi semua ini.

Dari tetangga kiri kanan aku mengetahui yang selama ini terjadi dan tersembunyi dari kami. Minggu-minggu terakhir sebelum Ayah pergi, sering terjadi cekcok besar. Ayah memberitahu Bunda bahwa ua akan menikahi sekretaris di kantornya. Merasa kenal dekat dengan gadis itu, Bunda sakit hati dan mencecar Ayah dengan pertanyaan-pertanyaan. Ayah tak bisa menerima sikap Bunda, sampai mengancam hendak membunuh. Bunda lari ke rumah tetangga, hingga Ayah pergi. Jabatan tinggi di kantornya membuat Ayah dikelilingi godaan, dan tak kuasa menghadapinya.

Sejak itulah kehidupan keluarga morat-marit. Ayah tak pernah datang lagi, lebih memilih tinggal di rumah istri barunya. Tunjangan bagi kami pun makin seret, hingga terhenti sama sekali. Sanak saudara di kampung tak dapat dimintai banyak pertolongan, sehingga praktis kami menanggung segalanya. Sementara Bunda terbaring lemah di ranjang, tak mau makan dan bicara. Lambat laun kesehatan Bunda menurun, tubuhnya begitu ringkih, perasaannya sangat sensitive. Shock berat telah mengguncang jiwa Bunda.

Untunglah ada Dia, Yang Maha Penyayang, membantuku menangani sakit Bunda. Selama bertahun-tahun dia member motivasi kami untuk tetap tegar, mengingatkan kami bahwa masih ada harapan, dan selalu ada untuk menjadi tempat kami bersandar ketika jiwa ini lelah.

Bagaimana tidak lelah jiwa ini, menghadapi Bunda tak kunjung pulih. Untuk merawat dan menjaga BUnda, aku memilih berhenti sekolah hingga kelas dua SMU, sebuah pilihan yang amat disayangkan oleh guru-guru dan ditentang adik-adikku. Tapi keputusanku sudah bulat, untuk Bunda aku bersedia berjaga, dan bekerja asal halal meski hasil yang diperolah tak seberapa. Perlahan, harta benda kami habis untuk biaya pengobatan Bunda, makan, sekolah adik-adik dan… sebagian rusak atau hancur kena amuk Bunda. Sampai hari ini kami bertahan dengan kondisi yang terbilang miskin.

Aku mengusap sisa-sisa air mata, lalu menarik nafas dalam-dalam. Kuambil air wudlu untuk sholat Dhuha.

Subhanallah! Maha Suci Engkau ya Allah, yang telah memberiku kekuatan menghadapi semua ini. Jauh dilubuh hatiku, aku amat percaya Allah akan menghitung setiap tetes keringat dan tiap jengkal rasa lelah ketika merawat BUnda, dan menggantinya dengan keridhaan-Nya. Dan aku ingin Allah berkenan menyembuhkan Bunda.

Suara denting sendok dari kamar Bunda menyadarkanku untuk bergegas.