Perpisahan Bagian 1

Dua minggu kemudian.
Rasa-rasanya permainan bola air kami belum pernah seseru Hari ini. Tim kami menang 1-0. Kompak sekali aku Dan Rajo Menjadi penyerang. Gesit berenang, tangkas merebut bola dari tangan lawan, saling mengoper zig-zag, kerjasama yang lincah, menyelam cepat ke dalam sungai membawa kabur bola plastik, lantas tiba-tiba sudah muncul di depan tiang gawang musuh, melemparkan bola sekencang mungkin, membuat Malik yang jadi kiper Tim lawan hanya bisa bengong. Pontang-panting mereka menahan kami.
Aku Dan Rajo loncat memukulkan telapak tangan. Tertawa.
Pertandingan baru selesai saat langit semakin berat, matahari semakin pudar. Anak-anak berlarian, berpisah di ujung jalan setapak menuju kampung. Aku Dan Rajo berjalan bersisian, ujung rumput teki menyelisik celana.
“Kau sudah Dua malam tidak mengaji, Kawan. Wak Putin memintaku menjaga ladang jagung seberang sungai. Lagi banyak Babi menerobos ladang, kalau tidak dijaga, bisa habis seluruh jagung.”
Aku ber-oh pelan, meneruskan langkah kaki. Di langit kilat menggurat serabut magis. Disusul gemerutuk guntur. Ada banyak penduduk kampung yang membuka lahan di Delta sungai seberang, tanahnya subur oleh tumpukan humus yang tertawa banjir besar.
“Tidak bisakah Wak Putin menyuruh orang lain?”
“Justru aku yang memintanya. Wak Putin membayarku Mahal. Dan aku juga bebas membakar jagung di bawah dangau kayu. Sambil sesekali mengarahkan senter ke arah hujan, tidak Ada babi-babi Itu, pekerjaanku mudah Saja. Paling sial aku terkantuk di kelas seperti tadi siang. Aku butuh banyak uang untuk terus sekolah. Kau tahu, agar suatu saat jadi penerbang yang hebat.” Rajo tertawa kecil.
“Kau pasti akan jadi penerbang yang hebat.” Aku nyengir.
“Tentu Saja.” Rajo membalas menepuk bahuku.
“Kau berangkat ke ladang jagung jamm berapa?”
“Lepas maghrib nanti. Wak Putin biasanya memberikan bekal makan malam untukku. Besok pulangnya menjelang shubuh.”
“Kau pergi hujan-hujanan?” Aku menatap langit gelap.
“Dua Hari lalu juga begitu. Tenang, Itu mudah Saja. Aku membawa baju ganti dibungkus kantong plastik, di dangau tinggal bersalin. Oi, kau tidak perlu cemas. Menjaga ladang jagung Wak Putin Itu justru seru, menyenangkan. Kau mau ikut?”
Aku menyeringai tipis, bagi Rajo, pekerjaan seperti ini selalu menyenangkan. Dia tidak pernah menolak disuruh membantu panen apalah, mengambil apalah, menjaga ladang Dan kegiatan orang dewasa kampung lain. Untuk anak kelas Lima SD, Rajo tumbuh lebih cepat dibanding kami, Dan Itu karena situasi keluarganya memaksa demikian. Ayah ibunya bercerai enam tahun silan. Ayahnya pindah ke Pulau seberang, ibunya yang asli penduduk kampung tetap tinggal. Dua Kakak Rajo dibawa ayahnya, sementara Rajo Dan Dua adik perempuannya bersama ibunya. Hidup susah.
Tidak Ada lelaki dirumahnya, Rajo berubah Menjadi ‘kepala keluarga’. Ibunya hanya punya sepetak kecil ladang karet, meski disadap setiap Hari, getah karetnya tidak mencukupi. Maka Rajo ringan tangan ikut bekerja. Wak Putin salah-satu bos Rajo yang paling sering menyuruh-nyuruh.
Kami berpisah ketika tiba di pengkolan jalan setapak. Rajo meneriaki aku agar jangan lupa mengerjakan PR untuknya besok. Aku balas meneriakinya, tidak mau. Rajo tertawa, bergegas pulang.
“Kau Mandi lama sekali, Badim! Hampir maghrib ini.” Ayuk Lia menyergah galak, menyambutku di daun pintu.
Aku tidak menjawab, bergegas menuju pintu belakang nanti malah bertemu Mamak di ruang tengah. Lama-lama Ayuk Lia Itu mirip Mamak. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit ngomel. Melepas baju basah, menyeka rambut, mengambil handuk. Tetes Pertama gerimis akhirnya mengenai genteng rumah. Disusul jutaan yang lain.
Perutku berbunyi, lapar. Semoga Mamak masak istimewa.