Perpisahan Bagian 2

Makan malam selepas shalat isya.
“Kudengar Juleha akan rujuk dengan suaminya.” Mamak menumpahkan udang goreng ke piring besar. Aroma lezatnya memenuhi dapur.
Amel, Ismail sudah berebutan, saling sikut. Sementara gerakan tanganku terhenti. Menoleh kepadaku Mamak yang sedang masak sambil bercakap dengan Bapak. Kalimat Mamak menarik minatku.
“Oi, kau menumpahkan bumbunya terlalu banyak, Lia.” Sebelum Bapak menjawab, Mamak sudah meneriaki Lia yang sedang duduk di tungku api Mamak memang canggih, bisa bekerja sekaligus bicara simultan dengan tiga empat lawan bicara Dan itupun dengan berbeda-beda topik. “Susah sekali mengajari kau masak, hah. Anak gadis Itu harus pandai di dapur, biar Suami Dan anak-anak betah di rumah.”
Amel Dan Ismail yang asyik mengunyah udang goreng menyeringai senang. Bukan karena udang gorenh yang lezat, tetapi senang melihat Ayuk Lia yang biasanya mengomeli mereka, sekarang sedang diceramahi Mamak.
Bapak tertawa, “Esok Lusa dia tidak Alan sekadar Menjadi ibu rumah tangga, Mak. Lia, anakmu Itu akan jadi gadis yang pemberani.”
“Oi, meaning kau jadi menteri sekalipun, tetap Saja kau harus mengurus suami Dan anak-anak kau. Makanan yang kau berika boleh jadi menentukan perangai mereka kelak.” Mamak mengambil alih centong dari tangan Ayuk Lia, mengaduk-ngaduk panci.
Amel Dan Ismail saling tatap lagi, kali ini menggaruk kepala, tidak mengerti benar app maksud kalimat Mamak barusan.
“Juleha Itu ibunya Rajo kan, Mak?” Aku bertanya pelan, lebih tertarik dengan topik awal.
“It’s, Juleha Mana lagi.” Mamak sibuk mengaduk sayur rebung.
Ayuk Lia duduk di sebelahku, wajahnya terlipat, sebal karena Mamak meremehkan Cara memasaknya barusan. Amel Dan Ismail memutuskan sibuk dengan piring masing-masing. Jangan mencari Bala, bisa-bisa Kepala mereka kena jitak tanpa alasan. Di Luar gerimis berubah Menjadi hujan deras. Aku teringat Rajo, pastilah dia sekarang sudah duduk sendirian di bawah dangau kayu. Sibuk dengan bekal makanan atau jagung bakar di depannya. pastilah dingin di sana. Gelap, bertemankan api unggun.
“Kapan Suami Juleha datang dari Kota seberang?” Mamak menumpahkan sayur rebung ke mangkok besar. Sudah matang, uapnya mengepul, tidak kalah lezat dibanding udang goreng.
“Baru minggu depan.” Bapak menjawab pendek, menyeruput kopi luwaknya, nikmat, “Tetapi urusan ini tidak Akan mudah. Mereka sudah bercerai lebih dari enam tahun. Kata Dullah sudah jatuh talaq Dua, mereka harus mengucapkan ijab-kabul nikah baru.”
“Oi, Itu gampanglah. Tinggal panggil penghulu Dan saksi, bust sedikit acara syukuran, beres urusan.” Mamak menyeringai, menyuruh Amel berpindah kursi, yang disuruh segera pindah ke dekatku. Itu memang kurai Mamak, Amel Saja yang tadi maksa duduk di sana.
“Kalau yang Itu memang mudah. Maksudku mereka sudah enam tahun tidak bertemu, anak-anak mereka juga sudah enam tahun berpisah. Semua butuh proses penyesuaian.”
“Oi, Itu juga gampang. Apa susahnya berkenalan lagi. Bahkan, jangan-jangan Juleha Dan suaminya merasa seperti pengantin baru.” Mamak tertawa kecil. Bapak ingin ikut tertawa, tapi karena Amel Dan Ismail menatap bingung mengikuti alur percakapan, Bapak hanya melambaikan tangan pelan. Menyuruh Mamak bergantian topik pembicaraan.
“Mereka dulu bercerai karena apa, Mak?” Sayangnya Ada yang masih tertarik dengan topik Itu, Ayuk Lia bertanya dengan ekspresi wajah ingin tahu.
“Bukan urusan kau, Lia.” Mamak mendelik, “Kau tidak mau jadi penggunjing seperti tetangga, hah? Yang penting sekarang mereka hendak rujuk kembali. Soal Masa lalunya tidak penting lagi.”
Ayuk Lia menelan ludah, tertunduk. Aku yang sebenarnya mendukung pertanyaan Ayuk Lia, ingin tahu cerita Itu ikutan menelan ludah. Kecewa.
“Itu benar, Lia. Lupakan kenapa mereka dulu bercerai. Setidaknya esok Lusa adik-adik Rajo yang masih kecil Ada yang membantu mengurus. Kasihan rasanya melihat Juleha harus membesarkan mereka sendirian. Apalagi Raji, anak Itu tidak perlu lagi kerja keras membantu ibunya, bisa bersekolah lebih baik. Waktu enam tahun boleh jadi membuat keras Kepala mereka jadi melunak. Di atas segalanya, anak-anak adalah prioritas Pertama.” Bapak tersenyum.
Aku mengangguk dalam hati. Bapak benar, jika kabar rujuk Itu terjadi, setidaknya Rajo tidak perlu duduk sendirian bertemankan jagung bakar di tengah Delta sungai sana, sementara hujan turun seakan-akan lupa berhenti. Teramat deras, rasanya ganjil.
Kami melanjutkan makan malam dengan membahas soal lain. Ismail Dan Amel berebut cerita soal kejadian di sekolah tadi sing Nur Dan Munip ketahuan meletakkan kotoran ayam di kelas tiga, mereka sedang bertengkar antar kelas.