Perpisahan Bagian 3

Kami tidur lebih awal.
Buaian suara air hujan menerpa genteng terdengar menyenangkan. Bergelung kemul, sudah nyenyak sejak pukul sembilan. Malam ini television kecil hitam-putih milik Bapak mati, akinya soak. Jadi warga yang awalnya ramai menumpang menonton bergegas pulang. Cahaya lampu canting minyak tanah kerlap-kerlip terkena tiupan angin dari sela-sela dinding papan.
Aku sudah lelap dalam tidur.
Sepertinya aku baru Saja bermimpi Menjadi pangeran lautan, mengendarai seekor paus, berpetualang berusaha mengalahkan monster samudera saat aku mendadak terbangun. Mendengar suara gaduh. Mamak berseru-seru di ruang tengah. Bapak berusaha membangunkan Amel Dan Ismail. Aku mengucek mata, bergegas loncat dari dipan kayu saat Mamak meneriakiku. Tersantuk-santuk berjalan dengan penerangan senter. Lampu canting dimatikan Mamak, Bapak menggendong Amel yang masih menguap tidak mengerti.
“Tinggalkan Saja, Lia. Tinggalkan semuanya. Selamatkan badan lebih penting.” Bapak meneriaki Lia yang sibuk membungkus pakaian Dan benda berharga lainnya.
Ismail memegang erat bajuku, menguap, “A-dha a-pha, Kak?”
Aku menggeleng tidak tahu, mengikuti langkah Bapak keluar Rumah. Oi? Dingin segera mencelup kakiku. Aku mengarahkan senter ke sekelilingku, lihatlah, selirih halaman Rumah sudah dipenuhi air setinggi mata kaki. Dinginnya air membuat kesadarannya pulih, segera menarik tangan Ismail yang justru asyik mengupil memperhatikan sekitar.
“Bergegas, Lia.” Bapak meneriaki Ayuk Lia sekali lagi, yang diteriaki keluar dengan membawa buntalan Kain, menarik roknya lebih tinggi.
Suara bedug dari masjid kampung terdengar bertalu-talu, sahut-menyahut dengan kentongan bambu. Nyala obor terlihat ramai di kejauhan. Hujan deras berkepanjangan sepertinya telah membuat sungai meluap.
“Jika melihat hujannya, jangan-jangan banjir akan lebih besar dibanding sepuluh tahun lalu.” Bapak mendongak, menatap rintik gerimis.
“Bukankah hujannya sudah reda, Pak? Harusnya banjirnya surut, bukan?” Ismail berusaha menjajari langkah Bapak.
“Yang mencemaskan bukan hujan di sini, Ismail. Hulu sungai. Kita tidak tahu beratus-ratus kilometer di Hulu sana, jangan-jangan hujan semakin deras, tanggul-tanggul jebol. Banjir selutut dengan cepat bisa meninggi sepinggang, Dan hanya dalam hitungan menit bisa setinggi orang dewasa.”
“Kita may kemana, Pak?” Amel yang digendong di punggung Bapak bertanya.
“Ke mesjid kampung. Tempatnya lebih tinggi tiga meter dibanding Rumah siapapun. Kita akan Aman di sana. Oi, Lia, kau bawa apa Saja?” Bapak tertawa melihat buntalan besar Ayuk Lia.
“Makanan, Pak. Siapa tahu Kita tidak bisa pulang ke Rumah berhari-hari.” Ayuk Lia menyeringai.
Bapak tertawa lagi, mengacak-acak rambut Ayuk Lia. Penduduk lain juga terlihat keluar dari Rumah masing-masing. Dengan penerangan senter, obor bambu, bergerak ke arah masjid. Anak-anak kecil dibangunkan, orang dewasa sibuk memastikan tidak Ada yang tertinggal. Air sudah setinggi betis di jalanan.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Rajo, Pak! Rajo!” Aku mencengkram lengan Bapak.
“Rajo apa?” Bapak menoleh.
“Rajo Ada di ladang jagung seberang sungai. RAJU DI LADANG JAGUNG WAL PUTIN!!” Aku berteriak panik. Urusan ini serious, ladang jagung Itu persis di Delta sungai, sekali Rajo terlambat menyadari kalau air sudah setinggi lantai dangau punggungnya, maka sama Saja artinya dia berasa persis di tengah deru arus air sungai. Jangan-jangan Rajo tertidur. Banjir besar, jika Rajo masih di sana, dia pasti hanya bisa Naik ke atap dangau saat ini. Menatap ngeri debam air sungai, jerih mendengar suaranya. Gelap. Sendirian. Itupun kalau dangaunya kuat bertahan.
“Kau serius?” Bapak sepersekian detik menyadari situasinya.
Aku sudah menggigit bibir, menahan ngeri. Mengangguk patah-patah.
“Oi, oi… Ini urusan serious sekali.” Bapak berseru, lekas menurunkan Amel, menyuruh Mamak membawa kami bergegas ke masjid, lantas berlari ke arah balai kampung..
“Kau mau kemana?” Ayuk Lia menarik tanganku.
“Aku mau ikut Bapak!”
“Kau tidak boleh kemana-mana.” Ayuk Lia mendelik.
“AKU INGIN IKUT, BAPAK!” Aku mengibaskan tangan Ayuk Lia. Mamak yang sedang repot menggendong Amel terlambat membantu Ayuk Lia mencegahku.
Aku sudah berlarian menerobos gelap, tinggi air terus bertambah.