Perpisahan Bagian 4

Di balai kampung sudah berdiri banyak pria dewasa. Kabar kalau Rajo Ada di ladang Wak Putin sudah didengar banyak orang. Ibu Rajo terlihat menangis. Mang Dullah Kepala kampung berembung cepat mencari jalan keluar.
“It terlalu beresiko, Putin.” Jarwo menghela napas pelan.
“Tapi Kita tidak bisa membiarkan Rajo di sana.” Wak Putin memotong kalimat Jarwo, wajahnya sejak tadi terlihat tegang, “Dia sendirian di sana. Bagaimana mungkin Kita Akan membiarkannya?”
Seruan ramai terdengar di balai kampung. Beberapa mengangguk, lebih banyak yang menggeleng. Ibu Rajo sekarang dipapah, didudukkan di salah Satu kursi. Balai kampung Dan stasiun kereta masih belum tergenang air, letaknya sejajar dengan jalur kereta, lebih tinggi.
“Bagaimana menurut Bang Saiful?” Mang Dullah bertanya getir kepada Bapak. Wajahnya juga terlihat cemas. Apalagi tadi siang, dia baru Saja mengurus kemungkinan rujuk orangtua Rajo. Tidak boleh ini, bagaimana mungkin Hal mencemaskan terjadi di saat kabar bahagia datang. Rajo bahkan belum diberitahu kabar baik soal orangtuanya.
Bapak mengusap rambut, menatap belasan orang dewasa disekitarnya, “Kalau ini siang Hari, Kita bisa Saja mengirimkan wanting bambu dari Hulu, dua-tiga pemuda paling pandai berenang seperti Pendi Dan Juhro bisa mendekati dangau Itu. Tetapi ini malam Hari, Putin. Gelap gulita. Oi, Kita tidak tahu selain arus deras sungai, jangan-jangan Ada batang kayu besar yang ikut hanyut, Itu berbahaya. Belum lagi di tengah gelap kecekatan berenang akan berkurang jauh sekali.”
“Tetapi Kita tidak bisa membiarkan Rajo sendirian di sana!” Kali ini Wak Putin yang memotong kalimat Bapak, akulah yang berteriak dari belakang.
Orang-orang dewasa menoleh.
“D-i-a… Dia sendirian di sana,” aku tersedak, bukan karena seluruh balai kampung menatapku, anak kecil satu-satunya yang Ada di situ, tapi lebih karena menyadari betapa mengerikan Dan dinginnya Rajo sekarang di tengah lautan air.
“Kita hanya bisa berdoa, Badim.” Pak Bejo merengkuhku kepalaku.
“TIDAK BISA!!” Aku menepis tangan Pak Bejo, “Kita harus melakukan sesuatu. Kirimkan lanting-lanting bambu. Kirimkan tali. Kirimkan apa Saja!”
Langit-langit balai kampung terasa sesak. Aku sudah menangis, lompat mencengkram baju Bapak, “Badim mohon, Pak… Badim mohon… Kirimkan apa Saja ke sana.”
Bapak menatapku getting, Wak Putin yang merasa paling bersalah telah menyuruh Rajo menjaga ladang jagungnya mendongak resah menatap langit-langit balai kampung. Ibu Rajo sudah sejak tadi jatuh pingsan. Sedang diurus bidan Desa Dan beberapa ibu lain. Semua orang tahu Dan bisa membayangkan kengerian di tengah Delta sungai Itu sekarang.
“Ba-dim mo-hon… Badim akan melakukan apa Saja sepanjang Bapak mau mengirimkan lanting ke sana… Badim mo-hon…” Aku mencengkram lengan Bapak.
Bapak menatap sekitar, wajah-wajah tertunduk. Senyap.
“Sekarang pukul Dua pagi.” Bapak akhirnya menghela napas, terlihat jam di dinding, “Butuh tiga jam lagi setidaknya agar sekitar terlihat cukup Terang. Pendi, Juhro, Dan yang lain, Kalian keluarkan seluruh lanting bambu kampung, tali-temali, apa Saja. Ya Allah, jika ketinggian air terus bertambah, bahkan meski Terang benderang pun Kita tetap mustahil menggapai dangau Itu. Jangan-jangan dangau Itu sudah hancur lebur. Kalian dengar, bersiap dia ujung kampung. Sekali Kalian bisa melihat lengan masing-masing, saat cahaya matahari Pertama tiba, saat sekitar mulai terlihat, segera luncurkan lanting-lanting bambu ke arah dangau. Lakukan apa Saja untuk menyelamatkan Rajo. MENGERTI!!”
Anak muda yang diperintah Bapak tanpa menunggu sedetik langsung bergegas meninggalkan balai kampung. Berlarian menerobos gerimis. Kentongan bambu dipukul semakin kencang. Bedug bertalu-talu terdengar dari masjid. Aku sudah jatuh terduduk, cengkraman tanganku di lengan Bapak terlepas. Air mataku menetes mengenai lantai balai-balai.
“Berdoalah, Badim. Semoga Rajo bisa bertahan selama tiga jam. Semoga dangau Itu tetap kokoh diterjang air sungai.” Pak Bejo mengelus rambutku.
Aku tidak mendengarkan, kepalaku justru mengingat Dua minggu lalu kami masih sibuk bertengkar. Aku menyebutnya ayam, pengkhianat teman, membanggakan kelebihan fisik, Dan pencemburu kelebihan orang lain. Aku menolak bertegur Sapa hingga Dua bulan.
“Rajo sendirian, Pak. Rajo sendirian di sana.” Aku menyeka ingus.
“Dia tidak pernah sendirian, Badim.” Pak Bejo menghela napas, “Dia selalu memiliki teman yang amat peduli kepadanya, seorang teman sejati. Dia memiliki kau…”
Hanya butuh waktu Lima Belas menit, sembilan lanting bambu siap di ujung sungai. Tinggi air sudah sepinggang anak kecil. Hanya karena Rumah penduduk berbentuk panggung Saja yang membuat perabotan dalam Rumah tetap kering. Pendi dan Juhro menatap ke depan, sungai yang lebarnya hanya Dua puluh meter Itu sekarang Dua ratus meter. Air cokelat sudah menyentuh belakang kampung, Dan boleh jadi sudah menghampar hingga ke ujung lembah. Cahaya senter tidak berhasil menembus ujungnya. Arus air menderu-deru dalam gelap. Gelombang bah banjir membuat miris telinga.
Mereka bersiap dengan Gigi bergemeletuk.
Mereka menunggu cahaya matahari Pertama.
Mereka tahu, menerobos sungai sedang meluap sama Saja mencari mati.
Tiga jam berlalu, remang akhirnya terlihat, Juhro Dan Pendi diikuti oleh delapan lanting lain, berteriak penuh semangat, “Allahuakbar!” Gagah berani meluncurkan lanting ke tengah gejolak air sungai.
Aku tetap kehilangan teman terbaikku.