Pertengkaran Bagian 6

Jauh panggang dari api, kenyataannya justru sebaliknya.
Sudah tiga Hari berlalu, Malik yang kepalanya dibebat sudah masuk kembali. Tertawa bilang dia baik-baik Saja, malah sambil nyengir bilang, bu bidan sekalian memberikan vitamin agar cepat tinggi. Aku (Dan teman-teman) ikut tertawa mengerubungi, tawaku yang langsung tersumpal saat melihat Rajo masuk ke kelas, melangkah mendekat ke lingkaran. Mual aku melihatnya.
Tetapi kelakuanku Itu cukup Adil, saat Rajo sedang berkelakar atau bermain dengan anak-anak lain, wajahnya juga segera kusam melihatku masuk atau ikut bergabung.
Perkelahian Itu berbuntut panjang. Meski sudah didamaikan Pak Bejo, meski kami tetap dudul sebangku, seminggu terakhir kami sejatinya tidak saling Sapa. Melongos jika berpapasan, mendengus jika nama kami disebut. Menganggap Satu sama lain tidak Ada di atas bumi.
Siang ini, hujan deras membasuh halaman sekolah.
Aku mengembangkan payung, Ismail berlari-lari kecil keluar dari kelasnya. Kami harus bergegas, tadi Mamak menyuruh segera pulang, Ada tumpukan karung jengkol yang harus diurus.
“Kau mau ikut menumpang payung kami, Rajo?” Tentu Saja ini bukan kalimatku, ini kalimat Ismail. Di ujung lorong hanya Rajo yang tersisa, Kali ini dia yang lupa membawa payung.
Rajo menoleh, sudah hendak tersenyum senang, akhirnya Ada teman menumpang pulang, tetapi saat melihatku, senyumnya terlipat, meneguk ludah.
“Ayo Rajo, payungnya besar, Kita bisa must bertiga.” Ismail mengangguk, meyakinkan.
Aku yang berdiri di sebelah Ismail sudah sejak tadi menggerutu dalam hati, kenapa pula Ismail bebaik hati dengan musuh besar kakaknya.
“Oh, Ismail mengerti, Kalian masih musuhan… Begini Saja, Ismail berdiri di tengah, Kak Badim Dan Rajo berdiri di sebelah Kiri kanan, ide bagus bukan? Kalian tetap tidak perlu berdekat-dekatan atau saling senggol badan. Kalau mau bicara titip lewat aku Saja.” Ismail tertawa, memberikan solusi sekaligus sengaja menggoda wajah dingin kami.
“Terima kasih, Ismail. Aku lebih baik menunggu hujan reda.” Setelah terdiam sejenak, melirik benci ke arahku, Rajo menggeleng.
Aku sudah menyeret Ismail agar bergegas. Lupakan, orang sejahat Rajo tidak pantas mendapatkan kebaikan. Air madu akan dibalas tuba. Biarkan dia menunggu di sekolahan, Dan semoga hujan terus turun sampai besok pagi (atau bill perlu sampai tahun depan), aku menyeringai mendesiskan serapah. Aku benar-benar lupa kalimat bijak Pak Bejo seminggu lalu, segeralah berdamai sebelum semua terlambat. Hal sepele Itu sudah terlanjur membesar.
Mandi sore di sungai tidak seru lagi. Sebenarnya dengan hujan turun setiap Hari, penduduk kampung lebih memilih menyuci piring, pakaian Dan Mandi di rumah. Persediaan air sumur kembali melimpah. Kami tetap Mandi di sungai karena sekaligus asyik bermain bola. Dengan jutaan rintik hujan membungkus permukaan air, rasanya permainan bola Dua Kali lebih seru meski lebih melelahkan menjaga tubuh tetap mengambang.
Aku selalu pulang duluan setiap Kali Rajo ikut bergabung. Benci sekali melihat dia tertawa-tawa, apalagi semua orang tahu, Rajo jagonya urusan bermain bola air. Tubuh liatnya begitu tangguh dibanding yang lain. Belum lagi dia suka berseru lantang, “Oi, di sini tidak ada Pak Bejo yang selalu bilang si Itu, si Itu Dan si Itu. Kalian tahu siapa si itu, bukan?” Menyebalkan sekali melihatnya.
Dan aku membalasnya di ruangan kelas. Lebih rajin mengacungkan tangan, menjawab pertanyaan Pak Bejo dengan intonasi suara dilebih-lebihkan, lantas menoleh ke bangku sebelah, memasang wajah, sepertinya kau tidak tahu, bukan. Bersorak senang (dalam hati) setiap Kali melihat raut muka Rajo terlipat mengkal mendengar Pak Bejo memujiku. Mau bilang apa dia? Ini bukan permukaan sungai. Di sini, otak lebih dihargai.
Begitulah, pertengkaran kami soal kambing ayam Itu ternyata berbuntut panjang. Bukannlagi sekedar perkelahian lumrah anak-anak. Walau Malik tidak bosan, setiap Hari berkali-kali membujuk kami bermain bersama lagi, meski Ismail tertawa mengolok-olok agar berbaikan, Satu bulan berlalu, musim penghujan sudah tiba di penghujungnya, kami belum menunjukkan tanda-tanda Akan berdamai. Yang terjadi justru sebaliknya, kebencian Itu semakin menebal.
Seperti terowongan gelap tidak berujung.