Pertengkaran Bagian 7

“Bapak tahun lahirnya kapan?” Aku bertanya.
Bapak tanpa menoleh, menyebutkan tahun. Tangannya terus terampil memperbaiki jaring ikan. Panjang jaring Itu adalah Dua puluh meter, dengan tinggi berbilang Dua depa. Agar lebih mudah diperbaiki, Bapak mengajakku. Tadi kami bersama-sama membentangkannya di halaman Rumah, Satu ujung dikaitkan di pohon mangga sebelah kanan, Satu ujung dikaitkan lagi di pagar sebelah Kiri. Perbaikan jaring ikan harus rampung saat musim kemarau tiba, Itu saatnya panen ikan di sungai.
“Hmm… Kalau begitu shio Bapak adalah ular.” Aku mengangguk-angguk.
“Darimana kau tahu?” Bapak Kali ini menoleh.
“Badim pinjam buku milik Pak Bejo.” Aku menunjukkan buku yang sedang kubaca.
Aku hanya jadi asisten perbaikan jaring, membantu mengambil Tali pancing, menyiapkan pisau kecil, atau peralatan lainnya yang diminta Bapak. Kalau tidak sedang disuruh-suruh, daripada bosan melihat Bapak menjahit jaring, aku duduk menunggu sambil membaca.
“Itu buku tentang ship China?”
Aku mengangguk, membacakannya sepotong paragraf. “Halaman seratus Dua, shio ular, orang dengan shio ular lazimnya memiliki perangai licik, suka menipu, Dan jago dalam urusan tipu muslihat. Oi?” Aku tersedak, sungguhkah?
Bapak tertawa, melambaikan tangan, “Ada-ada Saja. Kau tidak boleh percaya hal-hal seperti Itu, Badim. Tidak Ada seorang pun yang bisa menebak perangai orang lain hanya dengan simbol-simbol. Kalau hanya begitu yang tertulis, Itu sama Saja dengan bilang, orang yang ber-shio ular memiliki perangai seperti ular. Padahal dia juga tidak tahu di dunia ular sana, jangan-jangan perangainya sama rumit Dan banyaknya seperti manusia.”
“Tetapi buku ini memuat banyak tebakan yang benar, Pak.” Aku membantah.
“Misalnya?”
“Lihat shio ayam, halaman delapan puluh. Orang dengan shio ayam biasanya adalah penghianat teman, membanggakan kelebihan fisik Dan pencemburu kelebihan orang lain.” Aku menyeringai, kepalaku persis membayangkan seseorang. Tidak salah lagi, memang itulah perangainya si ayam.
“Itu juga sama Saja, Badim. Buku Itu hanya menulis tabiat ayam seperti yang dibayangkan manusia, tidak lebih tidak kurang.” Bapak meneruskan menjahit jaring ikan, “Kau sendiri shionya apa?”
“Kam-bing.” Aku menelan ludah, menjawab ragu-ragu dengan suara pelan tetapi Bapak tidak menertawakan, hanya mengangguk.
“Nah, menurut buku sakti Itu seperti apa perangai kau?”
“Suka pamer…” Aku menelan ludah lagi, terdiam sejenak, “Bukan pemaaf yang baik, Dan biasanya seorang pendendam.”
Bapak mengangkat kepalanya, sekarang menatapku lamat-lamat, tersenyum, “Apakah kau suka pamer, Bukan pemaaf yang baik Dan biasanya seorang pendendam, Badim?”
Aku buru-buru menggelengkan Kepala, “Badim pikit Itu tadi hanya menunjukkan perangai kambing seperti dalam bayangan manusia. Karang-karangan buku ini Saja.”
Bapak tertawa lebar, tidak lagi berkomentar, meneruskan mengerjakan perbaikan jaring ikan. Sore ini langit terlihat mendung, gumpalan awan menutup terik matahari, menyenangkan duduk-duduk di halaman Rumah. Beberapa penduduk kampung terlihat melintasi jalan aspal, Satu Dua melambai menyapa. Dibalas dengan lambaian Dan senyuman oleh Bapak.
“Ergh… Menurut Bapak… Apakah Badim suka pamer?” Aku memecah senyap, bertanya ragu-ragu.
“Oi, bukankah kau sendiri tadi bilang tidak?” Bapak tertawa lebih menertawakan aku karena tiba-tiba kembali membahas soal Itu.
Aku hanya diam, menghela napas pelan.
“Bukankah aku sudah bilang, Badim.” Bapak meletakkan benang pancing Dan alat jahitnya, “Tidak Ada yang bisa menebak perangai orang lain hanya dengan simbol-simbol. Perangai, tabiat, sifat atau apalah kau menyebutkan nama binatang ini, sejatinya adalah bawaan hidup, menempel ke Kita karena proses yang panjang. Kau tahu, keluarga, teman Dan lingkungan sekitar memberikan pengaruh besar dalam proses Itu. Jika kau terbiasa memiliki keluarga, teman Dan lingkungan sekitar yang baik, saling mendukung, maka kau Akan tumbuh dengan sifat yang baik Dan elok pula. Tidak jahat, tidak merusak. Siapa yang paling tahu kau memiliki sifat apa? Tentu Saja Kau sendiri.”
“Kitalah yang paling tahu seperti apa Kita, sepanjang Kita jujur terhadap diri sendiri. Sepanjang Kita terbuka dengan pendapat orang lain, mau mendengarkan masukan Dan punya sedikit selera humor, menertawakan diri sendiri. Dengan Itu semua Kita bisa terus memperbaiki perangai. Apakah kau suka pamer? Bukan pemaaf yang baik Dan pendendam seperti pemilik shio ayam? Jawabannya hanya kau yang tahu. Kau punya sepotong benda amat berguna di dalam dadamu untuk menjawabnya. Kau pasti tahulah benda apa itu.” Bapak tersenyum arif, menutup kalimat panjang lebarnya padahal jarang-jarang Bapak menceramahi kami, dia lebih seringnya memberi contoh.
Aku menelan ludah, memainkan ujung kaki.
“Nah, kalau pertanyaannya apakah Bapak Itu licik, suka menipu Dan tipu muslihat seperti pemilik shio ular dalam buku sakti kau Itu? Oi, orang yang suka berkelakar seperti Bapak tidak mungkinlah licik. Kau Tanya ke Jarwo Sana, apa pernah Bapak terlihat jahat seperti Itu.” Bapak tertawa lagi.