Pertengkaran Bagian 8

“Selamat sore, Saiful.” Terdengar suara menyapa dari jalan, memotong tawa Bapak.
“Sore, Putin.” Bapak segera balas menyapa.
Aku ikut menoleh, dug! Dadaku seperti Ada yang mengirimkan sinyal siaga Satu, langsung melihat wajah, bergegas menyingkirkan ekspresi riang. Lihatlah, bersama Wak Putin terlihat musuhku Dua bulan terakhir, Rajo.
“Dari Mana, Putin?” Bapak berdiri, mendekati mereka.
“Dari ladang. Tadi seharian menebang pohon kelapa untuk diambil umbutnya.” Wak Putin menunjuk Dua umbut kelapa besar yang tergolek di gerobak kayu. Rajo berdiri di sampingnya, berpeluh, sepertinya ikut membantu mendorong gerobak.
“Umbut kelapa? Buat pernikahan si sulung minggu depan?”
Wak Putin mengangguk, menyeka dahi, sepertinya gerobak kayu Itu terlihat berat. Rajo, musuh besarku, memperhatikan percakapan tanpa sedikit pun menoleh kepadaku.
Di kampung kami ‘umbut’ atau pucuk Bagian paling atas pohon kelapa memang sayur istimewa. Bagaimana tidak, untuk mendapatkannya kami harus mengorbankan Satu pohon penuh. Dipilih benar pohon kelapa yang tidak Berbuah lagi atau kopong dalamnya, lantas ditebang. Batangnya jadi tiang Rumah, daunnya jadi sapu lidi, lantas Bagian putih, lembut di pucuk pohonnya Menjadi sayur. Karena berharganya, umbut kelapa dimasak hanya pada hari-hari spesial, Dan tentulah pernikahan anak sulung Wak Putin minggu depan terhitung spesial. Seluruh kampung diundang.
“Ngomong-ngomong, sepertinya gerobak kayu kau rusak, Putin.” Bapak tiba-tiba memasang wajah serious, memperhatikan seluruh sudut gerobak.
“Oi? Rusak apanya?” Wak Putin ikut memeriksa, “Tadi baik-baik Saja, mulus sekali jalannya sewaktu didorong. Tidak Ada yang rusak.”
“Bukannya rusak, Putin?”
“Tidak mungkin rusak. Roda Dan klaharnya baru ini.” Wak Putin bingung, sekali lagi mengetuk-ngetuk, memeriksa gerobak, juga Rajo yang berdiri di sebelahnya.
“Kalau tidak rusak, kenapa gerobaknya didorong-dorong, Putin?” Bapak menyeringai lebar.
Sejenak diam, Wak Putin lantas terbahak. Tentu Saja Bapak berkelakar, namanya juga gerobak dorong, memang harus didorong.
“Bapak kau selalu pandai bergurau, Badim.” Wak Putin menepuk dahi, “Padahal waktu bujang dulu tidak terbayangkan perangainya seperti seekor ular. Suka menipu, tipu muslihat, licin Dan licik.”
Bapak ikut tertawa, mengabaikan kalimat Wak Putin.
Mereka masih asyik bercakap beberapa saat kemudian, tentang persiapan acara, urusan kampung, soal ladang Dan pupuk, Wak Putin bahkan menyuruh Rajo memotong sedikit umbut kelapa, “Ambillah, buat di rumah, untuk sayur nanti malam.” Bapak segera menggeleng, tidak mau menerima potongan umbut, “Oi, janganlah, nanti mengurangi masakan pas Hari besar. Lagi pula ini terlalu spesial, Putin.” Wak Putin ikut menggeleng, “Tidaklah. Hanya sedikit, masih banyak yang tersisa. Kalau bapaknya tidak mau, tolong berikan ke Badim, Rajo.”
Aku Dan Rajo yang sejak tadi cuma melengos Satu sama lain, bergegas menyeringai. Rajo ragu-ragu melangkah menyerahkan potongan umbut kelapa. Aku menelan ludah, menerimanya. Jemari tangan kami bersentuhan, rasanya ganjil sekali padahal selama ini, kalau sedang bermain bola air, biasanya kami tidak sungkan berpitingan berebut bola plastik.
“Terima kasih.” Aku tersenyum Kaku.
“Sama-sama.” Rajo lebih Kaku lagi.
Setidaknya kami berakting sebaik mungkin di depan Bapak Dan Wak Putin. Mereka tidak perlu tahu kalau kami sedang bertengkar. Wak Putin melanjutkan mendorong gerobak kayunya, punggung mereka Dan suara klahar roda gerobak hilang di kelokan.
“Kau anak laki-laki, Badim. Bapak berkata pelan sambil meneruskan memperbaiki jaring ikan.
Aku yang baru kembali dari meletakkan umbut kelapa di dapur menggaruk kepala, belum mengerti apa maksud kalimat Bapak.
“Di keluarga Kita, anak laki-laki tidak akan pernah membuat masalah jika dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah Itu dengan baik. Dia tidak akan pernah memulai pertengkaran jika dia tidak tahu bagaimana mengakhiri pertengkarannya. Hanya seorang pengecut yang memulai pertengkaran, tapi tidak pernah mau berdamai. Tidak punya Cara untuk mengakhirinya baik-ba-”
“Bukan Badim yang memulainya.” Anu segera memotong kalimat Bapak, meski aku sedikit bingung bagaimana Bapak tahu masalah Itu.
Bapak menghentikan gerakan tangan menjahit jaring, mengangkat kepalanya, ” Sudah berapa lama kau Dan Rajo tidak lagi saling tegur?”
Aku terdiam sebentar, menelan ludah, “Dua bulan.”
“Oi, maka bisa dimengerti. Sungguh bisa dimengerti. Kau bahkan tidak sopan memotong kalimat Bapak tanpa merasa perlu mendengarkan penjelasan lengkapnya.” Bapak menatapku tajam. “Teladan agama Kita melarang tidak bertegur Sapa dengannsaudara sendiri lebih dari tiga Hari. Semakin lama kau mendendam, tidak mau saling memaafkan, maka hating semakin hitam, tidak mau mendengar nasehat, tidak terbuka lagi. Tiga Hari batas maksimal agar hatimu tidak terlanjur tertutup. Dan kau ternyata, astaga, sudah Dua bulan saling mengabaikan membuat masalahnya berlarut-larut.”
Aku tertunduk, menggerutu dalam hati. Nek Kiba guru mengaji kami juga bilang Hal yang sama selama ini. Aku tahu Itu, Bapak terlalu menyederhanakan masalah, enak Saja, jelas-jelas Rajo yang memulai pertengkaran, mengata-ngataiku kambing, dialah yang harus meminta maaf, dialah yang harus memulai menegurku, bukan sebaliknya.
“Kau tahu, Badim. Hampir semua mahkluk hidup pernah bertengkar, termasuk binatang. Entah Itu yang hidup di kutub sana, hingga yang Ada di gurun pasir. Itu kodrat makhluk hidup, karena mereka memiliki sifat berbeda Satu sama lain. Terkadang tidak cocok, terkadang Ada rasa cemburu, terkadang memang sudah ditakdirkan begitu agar bisa bertahan hidup. Manusia berbeda, mereka dibekali dengan aturan Dan teladan kehidupan. Terus Terang, Bapak dulu juga bertengkar, sering malah.”
“Tetapi tidak pernah berkepanjangan, kecuali Itu musuh yang menjajah, menganiaya atau menghina keyakinan. Lewat tiga Hari kau tidak saling bertegur dengan saudara sendiri, maka bukan hanya kau semakin keras Kepala, semakin sulit untuk menerima pendapat orang lain, lebih dari Itu Bapak khawatir, jangan-jangan Malaikat yang menjagamu sudah pergi meninggalkan.”
Langit mulai gelap, hujan sepertinya akan turun. Aku tidak lagi terlalu mendengarkan ujung kalimat Bapak, kepalaku sekarang dipenuhi dengan ratusan bantahan. Lamat-lamat menatap kanopi hutan. Suara elang melenguh di kejauhan. Rombongan sapi melintas di depan Rumah.
Tetap tidak Ada perdamaian di antara kami.