Petani Adalah Kehidupan Bagian 1

Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah.
“Habiskan nasinya, Ismail!”
“Ismail sudah kenyang, Mak.”
“Oi, kau baru makan Dua sendok sudah hilang kenyang?”
Ismail mengangguk, memasang wajah ‘tidak berdosanya’. Semoga dengan begitu Mamak tidak memaksanya menghabiskan sarapan. Aku di sebelahnya juga berharap Hal yang sama. Dengan begitu, aku juga tidak perlu menelan nasi dengan kecap Asin ini.
“Baiklah. Kau boleh berangkat sekolah.” Mamak menghela nafas pelan.
Aku Dan Ismail sudah bersorak senang dalam hati. Bergegas menyambar tas, takut Mamak berubah pikirab, mengucap Salam, langsung berlarian ke halaman. Hanya Amel yang doyan sarapan meski cuma berlauk kecap, bertahan dengan piringnya.
Siang-siang sepulang sekolah.
“Mak, bukannya ini piring nasi Ismail tadi pagi, ya?” Ismail yang semangat ke dapur, membuka tudung makanan, protes saat Mamak menyerahkan piring besides jatah nasinya.
“Memang. Kau pikir piring Mana lagi?” Mamak menjawab santai.
Aku ikut mengeluh. Sudah berlari-lari pulang dari sekolah, lapar (karena tidak sarapan), terbayang Mamak masak spesial, dengan cepat mengganti seragam sekolah, segera ke dapur, Mamak memberikan piring nasi kami tadi pagi. Amel sudah lahap makan dengan piring nasi mengepul, baru diambil dari periuk. Meski dengan Paul seadanya, terlihat nikmat sekali.
“Ismail mau nasi yang hangat, Mak?”
“Kau habiskan dulu yang Itu, baru boleh ambil dari periuk.”
Aku Dan Ismail saling tatap, mulai mengerti maksud Mamak. Menelan ludah, kalau Mamak sudah memasang wajah galak seperti ini, hanya Ada Satu jalan keluar, menurut. Ragu-ragu menyendok nasi dingin bercampur kecap Asin. Hanya karena perut lapar, kami memaksakan mulut mengunyah, sambil melirik Amel.
Sepuluh menit berlalu, “Habiskan.” Mamak berkata pelan-pelan meski tajam.
Aku Dan Ismail menggeleng, meski sudah dipaksa tetap Saja piring nasi kami tidak habis. Nasi kecap-ku masih tersisa sepertiga. Ismail lebih banyak lagi. Hening sejenak, hanya suara sendok Amel yang asyik makan, aku memberanikan diri mengangkat Kepala, melihat Mamak yang masih menatap kami.
“Baiklah. Kalian boleh main sekarang.”
Aku Dan Ismail segera loncat dari kursi.”
Malam-malam selepas shalat isya.
“Mak, ini kan piring nasi Ismail tadi siang?” Ismail mengeluh, menatap nelangsa ke piring yang diserahkan Mamak.
“Memang. Kau pikir piring nasi Mana lagi?” Mamak melotot, tudung rambutnya jatuh ke pundak.
Aku yang hendak membantu Ismail protes langsung terdiam. Meneguk ludah, Mamak terlihat amat serious dengan kalimatnya, jangan coba-coba menawar. Padahal tadi lepas isya di masjid, berlari-lari pulang, tidak sabaran menuju dapur, perut lapar (karena tidak sarapan, lantas makan siang seadanya), Mamak justru memberikan piring tadi siang. Amel di sebelah kami asyik meniup-niup nasi hangat mengepul.
“Mak, Ismail mau nasi hangat seperti Itu.” Ismail takut-takut menunjuk.
“Kalian habiskan dulu nasi ini, baru boleh ambil yang hangat di periuk.”
“Tapi, Mak, kenapa Amel boleh langsung mengambil dari periuk?”
“Karena Amel menghabiskan nasinya.” Mamak mendesis.
Aku Dan Ismail saling tatap sejenak, daripada Mamak malah melarang makan sepenuhnya, kami memutuskan menerima piring tadi siang. Rasanya sudah tidak karuan, nasi dingin bercampur kecap Asin.
Lima menit berlalu, Ismail patah-patah membawa piringnya, “Sudah habis, Mak. Boleh Ismail ambil nasi di periuk.”
Mata Mamak menyapu piring Ismail, “Belum. Kai habiskan remah-remahnya. Kau makan setiap butir nasi yang tersisa.”
Ismail tertunduk, jemari tangannya menjumput ujung-ujung piring, menelannya. Aku juga ikut menjumput setiap butir nasi yang tersisa, mengunyahnya dengan segenap perasaan.
“Kalian pikir Satu butir nasi Itu tidak berharga, hah? Enak Saja Kalian makan lantas menyisakan nasi di piring. Bilang Sunday kenyanglah. Bilang tidak enaklah. Satu butir nasi ini butuh berbulan-bulan. Dan semua proses Itu tidak mudah. Itu yang jatuh di meja, Kau makan, Badim.” Mamak mengomel, sementara aku tetap tertunduk, mengais remah-remah di meja.
“Jangan mentang-mentang Kalian beruntung setiap Kali ke dapur, sudah tersedia makanan. Setiap Kali hendak makan sudah Ada nasi, Kalian jadi meremehkan setiap butirnya. Di Luar sana, banyak orang-orang yang harus bekerja keras untuk mendapatkan sepiring nasi. Banyak yang kurus kering bermimpi makan teratur Dan cukup.” Mamak terus mengomel, membuat kami tertunduk semakin dalam. Aku mengunyah remah nasi dengan sejuta perasaan bercampur aduk.
“Baiklah. Kalian sepertinya harus tahu bagaimana rasanya memperoleh sebutir nasi.” Mamak akhirnya mengetuk ujung meja. Kami belum tahu apa Itu, tetapi Mamak memutuskan sesuatu yang Akan membuat hidupku Dan Ismail berubah total setahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *