Petani Adalah Kehidupan Bagian 10

“Kakak di belakang, kalau kau jatuh, kakak bisa menangkapmu.” Aku berkata pelan di telling Ismail, menyakinkan. “Ayo Isnail, larilah secepat kaki kau… Bapak sudah menunggu di ujung batang kayu ini.”
Ismail mengangguk, keberanian Itu akhirnya muncul.
“LARI ISMAIL!!!” Aku berteriak kencang, Dan belum habis suara teriakanku, Ismail sudah melesat ke depan, ikut berteriak. Tubuhnya laksana terbang saat melompat melewati nyala api, lantas jatuh terguling di ujung sana.
Entahlah, aku juga tidak tahu apakah kami jatuh di area yang bersih dari api, sedetik kemudian aku sudah menyusul Ismail. Ujung-ujung nyala api menyentuh tubuhku, panas, perih, aku menggigit bibir, tinggal Dua meter lagi, tidak peduli terus menerobosnya. Kakiku goyah, hampir terjatuh, segera menyeimbangkan, tinghal semeter lagi, lantas loncat sekuat yang aku bisa, melihat ngeri semak belukar di bawah. Melayang. BUK! Tubuhku terguling, segera dikerubuti pemuda yang berjaga. Mereka bergegas menepuk-nepuk api yang membakar pakaianku. Membopong ke garis pembatas, berteriak, menyuruh Itu ini. Aku sudah tidak terlalu mendengarkan.
Malam sudah datang saat aku siuman. Di sekelilingku banyak kerabat dekat, menunggu dengan wajah cemas, berbisik-bisik. Melihat mataku mengerjap-ngerjap terbuka, Mamak sambil menangis, langsung menciumi keningku. Berkata patah-patah tentang ini semua salahnya, menyuruh kami sekecil ini audah bekerja membantu membuka hutan.
“Sudah, Nim. Sudah.” Wak Yani yang juga Ada di sana memeluk bahu Mamak, menenangkan.
Mamak menyeka Mata, tudungnya terjatuh, memperlihatkan beberapa uban di Kepala. Aku menelan ludah, seluruh badanku terasa perih. Di dekatku Isnail Dan Nur juga sudah siuman. Nur tidak terlalu parah, karena loncat saat api belum terlalu Besar. Juga Ismail, dia tidak seperti aku yang sempat terhenti di batang kayu hampir terpeleset, dia berhasil lari dengan cepat tanpa henti, Dan berhasil loncat jauh sekali.
Bu Bidan melumuri Luka bakar kami dengan krim. Berkali-kali menjelaskan ke Mamak kami hanya Luka bakar ringan, “Dua-tiga Hari juga mulai kering, Mamak Nim. Insya Allah… Insya Allah bahkan bekasnya pun tidak Akan tersisa.”
Malam Itu Rumah kami ramai.
Juga di ladang yang siap memulai prosesi tebar benih. Lebih ramai lagi.
“Ooi, tanam sebutir tumbuh Menjadi tujuh
Tujuh batang mekar tujuh tangkai
Tujuh tangkai berbuah tujuh butir
Berlipat-lipat kebaikan dari penguasa Alam
Wak Yani memulai prosesi tebar benih, suara seraknya fasih melantunkan kidung. Terdengar hingga ke ujung-ujung lahan. Tanah hitam, tunggul hangus, Abu sisa-sisa batang kayu berserakan sejauh Mata memandang. Penduduk kampung sudah menghabiskan makanan yang terhidang, anak-anak sudah kenyang, doa-doa sudah dipanjatkan. Penduduk sekarang berjejer rapi Dua baris. Baris terdepan memegang tongkat kayu, yang Akan di pukulkan ke tanah, membuat lubang. Baris dibelakangnya membawa mangkok plastik berisi benih padi, bertugas memasukkan tiga-lima butir ke dalam lubang Itu.
“Ooi, begitulah pula seharusnya Kita hidup berbudi
Satu kebaikan mekar Menjadi tujuh kebaikan
Tujuh kebaikan mekar Menjadi tujuh lagi
Berlipat-lipat tidak terhitung kebaikan
Memenuhi bumi milik yang Maha Pengasih
Aku menatap langit mendung, sepertinya Akan turun hujan. Itu kabar baik, hitungan Bapak tidak keliru. Setelah hampir enak bulan musim kemarau, adalah Hari yang tepat menebar benih saat tetes hujan Pertama menyiram kampung. Ismail Dan Amel berbaris rapi di belakang Mamak, mereka tidak ketinggalan memegang mangkok. Aku menyeringai melihatnya, memperbaiki posisi batang kayu di tangan, semoga Dua begundal nakal ini tidak serampangan berebutan memasukkan benih padi.
“Ooi, begitu pulalah jika hidup tidak berbudi
Satu keburukan mekar Menjadi tujuh keburukan
Tujuh keburukan mekar Menjadi tujuh lagi
Berlipat-lipat tidak terhitung keburukan
Yang setiap butirnya harus dipertanggung jawabkan nanti
Suara serak Wak Yani masih terdengar beberapa menit kemudian. Beberapa orang tua yang mengerti benar arti kidung Itu terlihat menyela ujung Mata. Terharu. Bapak yang berdiri di sebelah, menepuk bahuku, tersenyum Arif. Berbisik lembut, “Kau tahu, Badim… Tidak Ada yang lebih bijak dibandingkan Wawak kau. Tidak Ada.” Aku mengangguk, berpikir Hal lain: beruntung Wak Yani tidak menyanyi dalam bahasa Belanda, kalau tidak, bisa repot yang mendengarkan.
Dan selepas kidung Itu dilantunkannya, barisan terdepan mulai bergerak. Lincah tangan memukulkan batang kayu ke tanah gembur, membentuk lubang dengan jarak tertentu, terus bergerak maju. Barisan di belakang mulai jongkok meletakkan benih, menutupnya dengan tanah, berusaha mengimbangi kecepatan orang di depannya.
Benar, Amel Dan Ismail sudah sibuk bertengkar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *