Petani Adalah Kehidupan Bagian 11

Minggu Pertama, Bulan November
Benih padi tumbuh cepat. Belum puas kami berlarian di atas tanah hitam gembur, menanggapi belalang yang banyak berkeliaran, batang padi sudah tumbuh beberapa jengkal. Giliran Amel yang sekarang senang bermain di ladang, tertawa riang merasakan ujung-ujung daun padi menyentuh betisnya. Embun pagi yang tersisa membuat roknya basah. Dan entah dari Mana datangnya, capung warna-warni memenuhi ladang padi.
Hampir setiap pulang sekolah, Mamak menyuruh kami menyusul ke ladang, menyerahkan sengkuit. Kecepatan tumbuh rumput Dan ilalang sama cepatnya. Mamak sibuk membersihkan gulma pengganggu, sementara kami sibuk bermain-main, duduk jongkok di balik rimbun batang padi. Sekali-dua Mamak meneriaki, kami pura-pura menebas rumput dengan benar.
Bapak dibantu tetangga kampung menebar pupuk dari obrolan yang terdengar aku tahu kalau pupuk-pupuk Itu semakin mahal. Bapak bilang semoga tidak Ada Hama yang menyerang, Akan berat biayanya kalau harus menyemprot seluruh ladang. Bapak juga membuat pagar di sekeliling ladang, menggunakan ratusan potongan kayu kecil. Pagar rapat seperti ini penting untuk mencegah binatang liar masuk Dan merusak batang padi.
Minggu-minggu ini juga Ada menu istimewa terhidang di dapur. Dari batang kayu yang tidak habis terbakar, bergelimpangan di tengah ladang, tumbuh subur beraneka macam jamur. Amel riang menuruti perintah Mamak memetiknya, sementara aku Dan Ismail riang menuruti Mamak menghabiskan piring makanan kami. Ada banyak variasi sayur jamur yang Mamak masak, disantan, digoreng, dibening, disambal, Ismail suatu ketika pernah mengusulkan agar di sate, “Mhungkhin rhashanya lwebih enhakg lhagi, Mhak.” Belepotan mulutnya yang penuh dengan sambal jamur.
“Oi, kau tidak tahu, jamur yang paling enak Itu jika dimakan langsung selepas dipetik.” Bapak tertawa, sambil menghirup kopi luwak.
Nahas bagi Ismail, esoknya dia menuruti komentat Bapak, tanpa mengerti Mana yang bisa dimakan, Mana yang tidak, dia jahil memetik jamur yang tidak dikenali. Semalam penuh Ismail muntah sekaligus mencret. Sampai terkuras habis isi perutnya, tidur terlentang tanpa tenaga. Mamak mengomel panjang, “Apa susahnya bertanya. Kalau sudah begini repot semua urusan.” Bapak yang merasa telah salah berkelakar Itu menjelaskan kepada Ismail kalau tidak semua benda di hutan sana bisa bebas dimakan. Satu-dua amat beracun.
Ismail mengangguk pelan, semua badannya lemas.
Minggu Pertama, Bulan Desember
Dua bulan berlalu sejak benih ditebar, tinggi batang padi sudah sepinggangku. Sudah tidak bebas lagi berlarian. Kami hanya bisa menuju tepi-tepi ladang melalui jalan setapak yang sengaja today ditaburi benih. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hijau batang padi. Di tengah ladang sudah berdiri kokoh sebuah dangau. Atapnya dari rumbia, dindingnya dari papan, berjendela Dua, cukup Besar untuk tempat bermalam. Kami sering membakar jagung di kolong dangau, beristirahat sejenak dari menyiangi rumput Dan ilalang.
Saat batang padi semakin tinggi, Bapak mengajak memasang kaleng-kaleng berisi Batu kotal di setiap sudut ladang.
“Persiapan. Kau tidak mau ladang padi Kita dihabisi burung pipit, bukan?” Bapak santai menjawab pertanyaan Ismail.
“Memangnya kapan padi ini berbuah, Pak?”
“Masih lama. Paling cepat Satu bulan lagi.” Bapak menjawab sambil menyuruhku mengikat salah satu kaleng di sisi barat dengan Tali rafia.
Seperti jaring laba-laba, semua kaleng Itu terhubungkan ke dangau dengan Tali rafia. Ada sekitar Dua puluh kaleng dengan Batu koral di dalamnya. Ismail mendapatkan kehormatan menguji apakah kaleng-kaleng Itu berfungsi, semangat menarik salah satu rangkaiannya.
KLONTANG! KLONTANG! Suara berisik segera memenuhi ladang, membuat Satu Dua ekor burung yang hinggap di tunggul berterbangan, merasa terganggu.
Ismail tertawa, asyik menatap sekitar ladang dari ketinggian dangau, menarik lebih kencang Tali rafia Itu. Amel juga loncat mendekat, ingin ikutan. Berusaha merebut simpul Tali rafia dari tangan Ismail.
“Oi, ini bukan mainan, Ismail, Amel.” Bapak menyuruh mereka berhenti.
Ismail Dan Amel mendengus (dalam hati) kecewa.
Tetapi kaleng-kaleng Itu bukan hanya untuk mengusir burung pipit. Itu juga berguna mengusir Babi. Pernah di siang yang menyenangkan, saat aku Dan Ismail sedang asyik bermain kartu bergambar, babi-babi Itu terlihat menerobos pagar kayu sisi barat. Amel berseru-seru memberitahu. Maka dengan sigap aku menyambar simpul Tali rafia, menariknya kencang-kencang. Rombongan Babi Itu terkejut, segera balik kanan berlarian. Ismail Dan Amel tertawa melihatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *