Petani Adalah Kehidupan Bagian 12

“Ada apa, Badim?” Mamak Dan Ayuk Lia yang sedang memasak di kolong bertanya.
“Babi, Mak. Besar-besar.” Amel yang menjawab.
“Itu bukan bahan tertawaan, Amel. Ayo Kalian Kalian bergegas turun, nasi lemangnya hampir matang.”
Tanpa disuruh Dua Kali, kami segera meluncur. Hari Ahad, Mamak mengajak kami ke ladang sejak pagi. Membawa beras, bumbu-bumbu. Mamak tidak menggunakan panci, Mamak terampil memasak dengan potongan bambu. Beras dimasukkan ke dalam bambu, diberi air, diletakkan di atas perapian. Juga sayur Dan pindang ikan, semuanya dimasak dengan batang bambu.
Aroma lezat masakan mengepul dari batang bambu yang gosong. Mamak hati-hati membelahnya, menumpahkan ke atas piring-piring. Meski luarnya menghitam, Bagian dalam bambu terlihat utuh, pindang ikan Segar membuat air ludah menetes, Ismail beneran menyela bibirnya.
“Kau tidak bisa sabar sedikit, hah?” Ayuk Lia memelototi Ismail yang merangkak meraih piring. “Tunggu Bapak dulu. Baru Kita boleh makan.”
Wajah Isnail terlipat, kecewa. Berusaha membujuk Ayuk Lia dengan wajah tidak berdosanya. Sia-sia, Ayuk Lia justru mengamankan piring-piring dari jangkauan kami. Beruntung, Bapak segera kembali dari mengambil rotan. Tertawa lebar melihat masakan sudah terhidang. Kali ini Ayuk Lia tidak bisa mencegah tangan-tangan kami. Saling sikut menyendok nasi mengepul.
“Kalian tahu, setiap butir nasi ini berharga.” Bapak memecah suara sendok, “Ismail, Badim Kalian sudah membantu banyak membuka hutan. Tahu prosesnya mengerti kalau setiap Bagian tidak mudah dilaksanakan.”
Aku Dan Ismail mengangguk-angguk, antara Samar mendengarkan kalimat Bapak serta merasakan nikmatnya nasi lemang Dan ikan pindang buatan Mamak.
“Bagi Kita, petani Adalah Kehidupan. Proses panjang menghargai kasih sayang Alam Dan lingkungan sekitar. Proses panjang dari rasa syukur kepada yang Maha kuasa. Lihat, padi-padi ini tumbuh subur, tapi hanya dengan kebaikan tuhan-lah, esok-lusa Alan muncul bilur-bilur padi yang banyak. Kita tidak pernah bisa menumbuhkan padi, membuatnya berbuah, Kita hanya bisa membantu prosesnya.” Bapak tersenyum melihat aku Dan Isnail ber-hah kepedasan. Bapak menjulurkan gelas air.
“Boleh jadi semua padi-padi ini tidak berbuah. Boleh jadi Ada Hama menyerangnya. Boleh jadi seluruh kerja keras Kita, Kalian yang pernah terperangkap rotan setan, Ismail yang pernah berhari-hari minta disuapi makan karena nyeri pegal, terjebak di dalam nyala api, boleh jadi semuanya sia-sia.”
Kali ini aku Dan Ismail sungguh-sungguh memperhatikan kalimat Bapak. Sia-sia? Oi, kalau ladang ini gagal panen, nahas sekali nasib kami.
“Boleh jadi, Badim, Ismail… Boleh jadi semuanya gagal.” Bapak mengangguk, “Tetapi apapun yang terjadi, Kita sudah melaksanakan prosesnya dengan baik. Sekarang tinggal menunggu Dan berharap. Itulah kebijaksanaan tertua yang dimiliki leluhur Kita. Menunggu Dan berharap. Selalulah meminta pertolongan dengan Dua Hal Itu. Menunggu Itu berarti sabar. Berharap Itu berarti doa.”
Aku menelan tegukan air terakhir. Aku tiba-tiba teringat Nek Kiba, beberapa bulan lalu juga pernah menjelaskan soal ini. Dalam kitab suci Kita, kata Nek Kiba, orang-orang yang beriman disuruh meminta pertolongan dengan Dua Hal. Sabar Dan shalat. Sepertinya kebijaksanaan yang dibilang Bapak mirip sekali dengan penjelasan Nek Kiba.
Makan sing Itu usai saat Amel Dan Isnail rebutan potongan terakhir ikan pindang. Angin lembah terasa menyenangkan, membuat terkantuk-kantuk. Mamak Dan Ayuk Lia membereskan piring-piring. “Daripada Kalian tidur tidak jelas, Sana ambil air di sungai.” Ayuk Lia melemparkan Dua ember kepada kami. Aku Dan Isnail menurut, memunguti ember. Musim penghujan, anak sungai kecil yang banyak terdapat di hutan kembali berair. Kesanalah aku Dan Ismail melangkah, melewati jalan setapak ladang, melompati pagar kayu.
“Lihat, lihat!” Ismail menunjuk udang kecil di dasar sungai.
Aku lebih asyik memperhatikan burung meninting yang sedang loncat-loncat di bebatuan. Anak sungai ini hanya belasan meter dari pagar kayu ladang. Airnya jernih, bersumber dari banyak Mata air yang terdapat di hutan.
Aku asyik membasuk betis saat tiba-tiba Ismail menyikut bahuku.
“Ada apa?” Aku menatap wajah panik Ismail.
Tanpa sempat menjelaskan, Ismail sudah lintang-pukang lari ke pagar ladang. Wajah bingungku terlipat saat gerungan suara Itu terdengar. Rrrrr… Astaga? Aku menoleh ke seberang sungai, di lereng bukit, tiga ekor Babi Besar dengan wajah buas, siap menerjang. Aku melemparkan ember di tangan, bergegas menyusul Ismail.
Babi-babi Itu melenguh, tanpa ba-bi-bu sudah loncat menyebrangi sungai, mengejat kami.
“Bergegas, Kak!” Ismail yang sudah berhasil melompati pagar ladang berteriak.
Aku mendengus sebal, enak Saja dia bilang begitu, dia jelas-jelas lari lebih dulu, moncong Babi Itu seperti audah terasa di tengkukku. Aku gesit berusaha meloncati pagar.
Ismail tertawa-tawa, dia sudah di atas tunggul tinggi, melihatku jatuh bangun menerabas batang padi. Babi-babi Itu melenguh-lenguh.
KLONTANG!! KLONTANG!!
Kaleng-kaleng yang berada di dekat kami berbunyi lantang. Bapak di dangau Sana, yang bisa melihat apa yang terjadi di bawah telah menarik simpul Tali rafia. Tawa Ismail terputus, dia hampir jatuh dari atas tunggul karena kaget. Babi-babi Itu lebih kaget lagi, reflek balik kanan, kembali ke anak sungai.
Aku tersengal menyela peluh di dahi. Astaga, Itu benar-benar pengalaman tidak terlupakan. Tidak banyak anak-anak kampung yang pernah dikejar Babi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *