Petani Adalah Kehidupan Bagian 13

Minggu Pertama, bulan January
Dua bulan berlalu lagi. Tinggi batang padi sudah sepundakku. Kalau Amel Dan Ismail berlarian di antara batang padi, mereka sudah tidak terlihat, jadi, bukan ide yang baik untuk bermain petak umpet di ladang, belum lagi miang daun padi bisa membuat tubuh gatal-gatal.
Pekerjaan kami sekarang setiap Kali ikut Mamak menjaga ladang, hanya berkutat di dangau. Membuat terompet dari batang padi, membawa layang-layang, menerbangkannya di atas dangau. Kabar baiknya, tanaman padi kami berbuah lebat. Tangkai buahnya bersembulan dari pucuk-pucuk, batangnya melengkung macam johar kail, tidak kuat menahan berat.
“Ismail paham sekarang.” Suatu Hari Isnail menganngguk-angguk melihat ke salah satu rumpun padi yang berbuah lebat.
“Kau paham apa?” Bapak yang sedang memasang lampu canting di tepi-tepi ladang bertanya.
Aku juga ikut menoleh ke arah Ismail, intonasi suara dia terdengar serious sekali, apalagi gurat wajahnya, manggut-manggut.
“Benarlah kata Pak Bejo di sekolahan. Batang padi, semakin berisi semakin menunduk.” Ismail menunjuk batang padi.
Bapak tersenyum, menepuk-nepuk bahu Ismail, “Oi, kau sudah semakin bijaksana..m bukan main.”
Isnail nyengir, senang dipuji. Ternyata soal kalimat pepatah yang diajarkan Pak Bejo di sekolahan. Aku tidak tertarik, beranjak memasang tampat lampu di atas tunggul, kaleng biskuit besar. Lampu-lampu ini untuk menakut-nakuti binatang (terutama) Babi yang hendak menerobos ladang di malam Hari. Sumbu Dan tempat minyak tanahnya lebih Besar dibanding lampu canting biasa.
“Memangnya kau beneran paham apa arti pepatah Itu?” Aku jahil bertanya kepada Isnail yang masih asyik memperhatikan batang padi di depannya.
“Tentulah… Semakin berilmu, semakin pandai maka kau Akan semakin rendah hati. Bukan begitu, Pak?” Isnail menyeringai, sengaja menjawabnya dengan intonasi berlebihan.
Bapak tertawa kecil, mengangguk, “Tapi Itu belum lengkap, Ismail. Pepatah Itu masih memiliki arti yang lebih luas.”
“Memangnya masih Ada lagi?” Isnail menoleh.
“Iya,” Bapak menunjuk salah satu batang padi, “Semakin berisi, semakin menunduk, Itu juga berarti kau tidak hanya selalu merasa bisa, bisa Dan bisa. Lebih penting dari Itu adalah kau juga bisa selalu merasa. Besok-lusa kalau Kalian sudah merantau ke kota-kota jauh, pulau-pulau seberang, Kalian akan melihat banyak sekali orang pintar, orang hebat. Mereka selalu bilang, ya, Kita bisa, ya, bersama Kita bisa, Dan kalimat-kalimat canggih lainnya. Sayangnya, diantara begitu banyak orang hebat tersebut, sedikit sekali yang bisa berempati, merasakan, Dan dipenuhi semangat kebaikan tulus.”
Ismail mengangguk-angguk sok tahu.
“Baik, kau bawa lampu canting yang tersisa, Ismail. Kita harus menyelesaikan memasang semuanya sebelum gelap tiba.” Bapak menepuk bahuku Ismail, melangkahkan kaki ke sisi barat ladang.
Bulan-bulan terakhir pekerjaan di ladang jauh lebih ringan. Rumput Dan ilalang sudah tidak perlu disiangi, sudah kalah oleh batang padi. Kami hanya menjaga ladang dari Hama Dan serbuan binatang hutan. Lebih banyak berkeliling memastikan tidak Ada pagar kayu yang goyah, kaleng penghalau burung pipit yang lepas, termasuk sekarang, memasang lampu-lampu canting.
Sambil berkeliling, Bapak menjelaskan banyak Hal, bercerita kalau di pulau Jawa Sana jarang Ada ladang tadah hujan. Di Sana, petani bersawah, memiliki sistem irigasi tetap sepanjang tahun. Mereka tidak membuka hutan lagi, mereka hanya mengolah lahan yang sama, membajaknya.
“Oi, Ada bajak di sawah? Seperti bajak laut, Pak?” Ismail seperti biasa menyela cerita, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan sok tahu.
Bapak tertawa, melambaikan tangan. Lebih sering melanjutkan cerita tanpa membahas pertanyaan aneh Ismail. Aku selalau senang mendengar penjelasan Bapak, bukan soal fakta di pulau jawa siklus tanam padi mereka bisa tiga Kali setahun, dibandingkan dengan ladang kami yang hanya bisa sekali setahun, bukan pula soal fakta hasil panen sawah mereka melimpah Dua Kali lebih banyak dibanding ladang-ladang kami. Aku tertarik, karena dari setiap penjelasannya, Bapak menceritakan dunia Luar.
“Sungguh Bapak pernah keliling pulau Jawa?” Mataku membulat, berseru pelan.
Bapak mengangguk, “Sudah lama sekali, Badim. Waktu Bapak masih bujang. Bapak bahkan pernah pergi ke semenanjung negeri orang.”
“Oi? Tanah Malaka seperti kakek dulu?’
Bapak mengangguk lagi.
“Ceritakan. Ceritakan.” Aku memegang lengan Bapak.
Dan Bapak dengan senang hati menceritakan banyak Hal. Terkadang, tanpa kami sadari seluruh ladang sudah selesai dikelilingi, matahari sudah mulai tumbang di kaki barat sana, Dan cerita Itu harus berlanjut esok Hari. Setiap Kali waktu kami habis, maka Bapak menutupnya dengan tersenyum, menatap kami lamat-lamat, “Esok-lusa, Kalian sendiri Alan berkesempatan ke Sana, Badim, Ismail. Kalian Akan seperti burung yang terbang bebas. Kalian bisa melihat seluruh dunia. Dan ketika waktu Itu tiba, ingatlah selalu kampung Kita. Orang-orang yang telah memberikan teladan baik Dan budi luhur.”
Aku selalu senang mendengar kalimat penutup Itu. Sungguh, Esok-lusa, aku Akan melakukan perjalanan jauh, bahkan lebih jauh lagi dibandingkan tanah Malaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *