Petani Adalah Kehidupan Bagian 14

Minggu ke-4, bulan January
Gerimis membungkus ladang. Gemeretuk guntur memecah suara tetes air Dan derik jangkrik. Sekali Dua kilat menggurat langit gelap. Aku melemparkan lagi potongan kayu bakar, membuat nyala apinya lebih hangat. Bapak di depanku santai menghirup kopi dari gelas kaleng, berselimutkan sarung. Senter Dan pisau Besar Bapak tergeletak di sebelahnya.
Dua minggu terakhir, hampir tiap malam Bapak mengajakku menunggui ladang. Buah padi sudah ranum, hanya bilangan Hari lagi panen Besar. Ladang tidak bisa ditinggalin terlalu lama, malam Hari pun harus dijaga. Kami berangkat lepas magrib, membawa ransum makanan, gula, kopi Dan keperluan lain. Baru kembali saat semburat cahaya matahari terlihat. Malam ini giliranku menemani Bapak, Ismail tinggal di rumah.
Gemeretuk guntur terdengar. Aku menusuk-nusukan bilah bambu ke dalam tanah, persis di bawah perapian yang menyala-nyala, aku memasukkan beberapa potong Ubi. Memeriksanya, apakah sudah lembut atau belum. Angin lembah membuat udara terasa dingin, mengunyah ubi bakar Akan membuatnya terasa lebih hangat.
“Bagaimana sekolah kau?” Bapak bertanya, meletakkan gelas kaleng, menyeka ujung bibir.
“Buruk.” Aku tertawa, “Pak Bejo memaksa kami latihan ujian terus-menerus. Setiap Hari mengerjakan ratusan soal, sejak lonceng masuk hingga lonceng pulang.”
Bapak ikut tertawa. “Pak Bejo Itu sangat peduli dengan Kalian.”
Aku mengangguk, Itu tidak salah lagi. Ujian kelulusa. SD masih tiga bulan lagi, tapi kalau melihat Pak Bejo yang setiap Hari mengingatkan kami agar belajar, belajar Dan belajar, sepertinya ujian Itu bisa dimajukan kapan Saja.
“Kau ingin melanjutkan sekolah kemana, Badim?”
Aku mendongak, menatap wajah Bapak. Selama ini tidak pernah Bapak mengajakku bicara soap ini, menggaruk kepala, “Eh, ke Kota kabupaten… Seperti Ayuk Lia?” Aku menjawab ragu-ragu.
Bapak terdiam sejenak, menghela nafas pelan, “Andaikata Bapak punya kelapangan rezeki, kau seharusnya bisa sekolah di tempat yang lebih baik. Bukankah kau ingin sekali sekolah di Kota provinsi atau bahkan seberang pulau Sana?”
Aku mengangguk Samar, kembali menusukkan bilah bambu ke dalam tanah, “Tidak masalah Badim sekolah di Kota kabupaten, Pak. Itu lebih dari cukup. Bukankah Bapak selalu bilang, suatu saat kesempatan pasti datang. Tidak sekarang, mungkin Esok-lusa.”
Bapak menyeringai, “Kau sudah seperti Ismail… Semakin bijak Saja.”
Aku ikut tertawa mendengar kelakar Bapak.
“Kau punya cita-cita apa, Badim?” Bapak bertanya lagi.
“Pe-ne-li-ti.” Aku menjawab malu-malu.
“Oi, binatang apa pula Itu?”
“Kata Pak Bejo, Itu orang yang tahu jawaban semua pertanyaan.”
Bapak menepuk dahinya, “Kalau begitu cocok sekali dengan kau, Badim. Kau memang selalu tahu jawaban semua pertanyaan. Apa Pak Bejo juga bilang masih berapa tahun lagi harus sekolah agar bisa Menjadi peneliti yang hebat?”
Aku mengangguk, “Pak Bejo bilang, sekolahnya lama sekali… SD, SMP, SMA, universitas, kuliah lagi, kuliah lagi. Sekolah terakhirnya belum Ada di sini. Harus pergi ke negara jauh Sana.”
“Kalau begitu, semoga kami masih hidup saat kau sudah Menjadi peneliti yang hebat, Badim… Wak Yani, Bakwo Jar, Pak Bejo, terlebih-lebih Mamak kau, ingin sekali melihat Kalian Menjadi orang.”
Aku menelan ludah, memikirkan kalimat Bapak terasa ganjil mendengar Bapak menyebutkan ‘kalau kami masih hidup’. Apalah rasanya jika salah satu dari orang yang kami sayangi meninggal. Pasti sedih. Aku bergegas mengusir pikiran Itu. Suara jangkrik Dan gemeletuk api di perapian memenuhi kolong dangau.
“Mau ikut berkeliling memeriksa lampu canting?”
Aku menunjuk perapian.
“Ubi kayu kau paling juga baru matang sejam lagi.” Bapak tertawa, beranjak berdiri, meraih terpal yang dijahit seperti jaket hujan.
Aku mengangguk, bergegas ikut berdiri, meraih jaket hujanku.
Kilat menyambar terang, gemeretuk guntur memenuhi langit-langit ladang. Bapak memasang topi anyaman rotan, menyelempangkan pisau, meraih senter. Lantas menyibak batang padi, menuju tepi-tepi ladang. Aku sigap memasang peralatanku, bergegas mengikuti dari belakang. Ikut memeriksa seluruh ladang. Lupakan dulu soap cita-cita hebat Itu, malam ini aku adalah anak seorang petani tangguh. Kami mewarisi teladan hidup yang baik.
Karena petani Adalah Kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *