Petani Adalah Kehidupan Bagian 2

Musim kemarau datang lagi. Syukurlah, berlalunya musim penghujan Kali ini tanpa banjir Besar seperti tahun lalu ketika menghanyutkan Rajo di ladang jagung.
Aku lebih suka musim penghujan. Lebih segar saja rasanya menatap sekitar. Dan bagi kami anak-anak yang suka main bola, bermain di lapangan becrk jauh lebih seru dibanding bermain di lapangan berdebu Dan panas. Musim kemarau juga serba tidak konsisten, sing Hari terasa gerah, keringat mengucur deras, malam harinya justru sebaliknya, udara terasa dingin menusuk tulang, apalagi angin yang menembus celah-celah papan, tidak tahan. Musim kemarau juga berarti pekerjaan tambahan. Mamak selalu berseru-seru, “BADIMM, jemur kopi di depan Rumah!” “BADIMM!! Ikut Bapak manjat pohon jengkol!!” Lebih baik musim penghujan, semua pekerjaan terhenti saat hujan turun.
Musim kemarau Kali ini, aku sudah duduk di kelas enam. Ayuk Lia di penghujung SMP, Ismail kelas Lima, sementara Amel kelas empat. Dan benar-benar kabar mengejutkan, saat suatu malam Bapak bilang, “Badim, Ismail, Amel, tahun ini Bapak Dan Mamak mengharapkan lebih banyak bantuan Kalian. Tahun ini Kita Akan ‘membuka hutan’.”
Mataku langsung membulat juga Mata Ismail Dan Amel. Lupakan dulu soal pasti Akan lebih repot sepanjang tahun, lebih banyak waktu di hutan Dan sebagainya, keputusan Bapak untuk membuka hutan benar-benar membuat kami antusias. Enam tahun terakhir Bapak lebih banyak mengurusi kebun karet yang sudah jadi.
Sungguh sebuah kekeliruan jika Ada yang menilai penduduk kampung yang selama ini menyumbang porsi besar kerusakan hutan. Faktanya, sejak berpuluh-puluh tahun silam hingga sekarang luas ladang yang ditanami penduduk kampung hanya itu-itu Saja. Tidak setiap tahun mereka membakar hutan. Lebih banyak yang seperti siklus Alam, hanya membuka ulang ladang lama yang tidak diurus bertahun-tahun.
Hal yang sama juga berlaku saat Bapak ‘membuka hutan’. Kami hanya membakar ladang karet lama yang sudah belasan tahun tidak terawat. Tentu saja setelah sekian lama terabaikan ladang Itu kembali seperti ‘hutan’, dipenuhi pohon-pohon tinggi Dan semak belukar. Apalagi kebanyakan ladang karet produktif di kampung kami memang dibiarkan ‘menghutan’. Penduduk hanya membersihkan jalur ke setiap pohon karet, sisanya dibiarkan ditumbuhi beragam tumbuhan liar.
‘Membuka hutan’ adalah ritual panjang, tidak selesai dalam hitungan bulan. Maka Demi mendengar kabar Itu, kami bersiap atas kesenangan sepanjang musim kemarau Dan musim penghujan. Aku belum pernah mengalaminya langsung selama ini, tetapi aku yakin ini Akan seru.
Oi, kami tidak tahu kalau semua ini dilakukan Bapak (atas usulan Mamak) agar kami menghargai perjalanan panjang kisah sebutir nasi.
Minggu ke-2, Bulan Juni
Hari Pertama membuka hutan dimulai.
Ada sekitar delapan pria dewasa berangkat bersama Bapak Dan Bakwo Jar ke lokasi bekas ladang karet tua Itu. Aku, Ismail Dan Nur ikut rombongan dengan mantap. Masing-masing dibekali pisau besar. Bekal makan siang Ada di keranjang, termasuk tabungan Bambu air minum. Mamak Tadi pagi menyuruh aku Dan Ismail mengenakan kaos polos panjang Dan topi, “Apa susahnya dipakai?” Mamak mengomel, “Banyak nyamuk, Kalian Itu Akan membersihkan semak belukar sepanjang Hari. Belum lagi goresan during pohon, serangga, ulat berbisa.” Kami seperti biasa keberatan (dalam hati), meski akhirnya memakai topi Dan kaos panjang butut Itu sebagai luaran kaos lengan pendek.
Tanpa kata sambutan, upacara Dan sejenisnya, setiba di batas luar bekas ladang karet, Bapak bersama pria dewasa langsung bekerja. Tangan mereka yang menggenggam pisau besar tangkas memotong semak belukar. Ini pekerjaan paling awal dari ‘membuka hutan’. Untuk ukuran ladang Satu hektar, dibutuhkan sekitar Dua minggu mangkas seluruh semak belukar yang memenuhi lokasi. Termasuk memangkas pohon-pohon kecil yang berukuran seibu jari, sekali tebas, langsung tumbang. Rombongan bergerak taktis Dan cepat, dalam hitungan Satu jam, sudah merangsek tiga meter ke dalam hutan.
Aku tidak kalah semangat, ikut memotong apa Saja yang bisa dipotong. Tertawa bersama Ismail Dan Nur setiap menemukan sesuatu yang menarik. Kayu yang saat dipotong mengeluarkan lendir merah seperti darah. Kayu dengan daun bundar-bundar seperti topi. Kayu yang memiliki daun seperti jarum. “Jangan disentuh!” Bakwo Jar berseru cepat saat melihat tanganku hendak memegangnya. “Tangan kau bisa bengkak sebesar bantal semalaman karena getahnya.” Aku berjengit, Sadia sekali, menggaruk hidung yang tidak gatal, segera menghindari kayu aneh itu. Bakwo Jar nyengir, kembali melanjutkan menebas semak belukar di depannya.
Dan Bakwo Jar menunjukkan pengetahuannya yang luas atas kasih sayang Alam. Saat menemukan akar pohon yang menjuntai dari sebuah pohon raksasa, dia berteriak memanggil kami. Aku, Ismail Dan Nur mendekat. Bakwo Jar menunjuk akar-akar Itu. “Kalian Haus?” Kami mengangguk. Bakwo Jar menarik salah satu akar agar lebih dekat, splash! Memotong ya sekali tebas, Dan oi! Air bening mengalir deras dari dalam potongan akar. Bakwo Jar dengan ekspresif meminumnya, Dan kami, tentu saja berebut saat diberi giliran. Rasanya persis seperti air kebanyakan, mungkin again sepat, tapi peduli amat! Ini lebib eksotis dari air minum apapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *