Petani Adalah Kehidupan Bagian 3

Matahari beranjak semakin tinggi. Ismail mulai mengeluh, ternyata cepat sekali menguap antusiasme tadi pagi, kesenangan-kesenangan melihat Hal baru. Aduh, pissy semakin berat untuk diayunkan, batang pohon-pohon kecil ini semakin susah saja rasanya dipotong. Belum lagi gerah mulai terasa. Panas, Ismail melepas kaos panjangnya, mengikatnya di pinggang, melemparkan topi ke dalam keranjang. Mengusap leher, keringat mengalir deras. Sekali menebas, Lima menit istirahat duduk-duduk di tunggul kayu. Sekali menebas, lebih lama lagi istirahat duduk-duduk menonton yang lain. Dan nyamuk seperti menemukan sasaran empuk, mengerubung dari atas, bawah, Kiri, kanan, depan, belakang.
“Kau lagi apa?” Salah Satu pemuda tetangga yang membantu Bapak menegur Ismail.
Ismail menjawabnya dengan memukulkan ranting kayu ke semua arah, mengusir nyamuk. Pemuda Itu tertawa, melanjutkan pekerjaan.
Sebenarnya rasa bosanku mulai meninggi seperti Ismail, beruntung Nur yang tetap berdiri di garis terdepan memotong belukar tiba-tiba memanggil. Aku Dan Ismail mendekat, tertarik. Nur menunjuk, aku menjulurkan Kepala, mataku segera membesar. Tempat yang aneh. Jika setiap jengkal dasar hutan lainnya dipenuhi tumbuhan perdu, semak belukar, pohon-pohon kecil seukuran jari, di depan Sana kosong, melompong. Hanya Ada Dua batang pohon raksasa, sisanya relatif kosong. Tumpukan daun terlihat menebal di dasar hutan yang luasnya paling sebesar kelas di sekolahan.
Kami melangkah masuk, Ismail mengikuti dari belakang. Menebas beberapa batang rotan yang melintang menghalangi, merunduk-runduk, berusaha menghindari duri-durinya yang tajam. Terus maju, lebih banyak lagi batang rotan kecil-kecil yang melintang di mana-mana. Sepotong dasar hutan ini ternyata dipenuhi batang rotan yang silang menyilang. Kepala tanggung, kami berusaha menyingkirkan juluran batang rotan yang semakin banyak, merangsek maju, ingin tahu, tetapi tiba-tiba langkah Nur di depanku terhenti membuatku hampir menabrak punggungnya.
Akar rotan? Aku menelan ludah, setelah persis berada di tengah Bagian hutan yang terlihat seperti kosong Itu barulah Kami menyadari kalau di sekeliling kami berseliweran ratusan akar rotan kecil-kecil yang melintang di atas kepala, depan, belakang, kanan, Kiri kami. Seperti jaring laba-laba, tidak terlihat dari kejauhan, tetapi saat berada di dalamnya baru mengerti ini daerah berbahaya. Duri-durinya seperti ranjau yang siap menerkam siapa Saja. Kami saling bersitatap, Nur setelah menggaruk rambutnya yang tidak gatal membalik badannya, berusaha kembali ke tempat masuk tadi. Celaka, ternyata untuk keluar dari kepungan rotan-rotan Itu sepuluh Kali lebih sulit dibandingkan masuknya. Seperti perangkat ikan, Ada jalan masuk, tidak Ada jalan keluar.
Semakin berusaha menebas batang rotan yang menjulur, semakin banyak Saja batang rotan lain yang mengepung. Sudah sifatnya begitu, seperti benang kusut, jika mengurainya tidak hati-hati, maka Akan semakin rungsing hasilnya. Kami yang mulai panik jauh dari berpengalaman menaklukkan jebakan rotan-rotan ini, maka hasilnya gampang diduga, kami semakin terjebak.
Duri-duri Itu mulai beraksi, splash! Salah Satu julur batang rotan tidak berhasil kuhindari, menghantam lenganku yang tidak berpenutup, seperti diparut rasa sakitnya, aku mengeluh. Dan hanya hitungan detik, menyusul batang rotan yang lain. Ismail di belakangku berkali-kali mengaduh. Setengah jam lebih kami berkutat berusaha keluar, Dan hasilnya sia-sia. Mataku mulai berair, lihatlah, bekas duri-duri Itu Ada di lengan, betis, tengkuk, wajah, bercampur keringat, amat perih rasanya. Ismail sudah menangis, lengan, leher, Dan betisnya yang tidak terlindungi terlihat merah Dan mulai bengkak. Nur terduduk di sebelahku, dia beruntung, tetap mengenakan baju lengan panjang Dan topi pelindung, tidak terlalu parah.
Aku menyerah, tenagaku habis, berteriak-teriak memanggil Bapak Dan Bakwo Jar.
Kami membuat pekerjaan terhenti hampir Dua jam. Bapak, Bakwo Dan tetangga kampung terpaksa ‘menyelamatkan’ kami terlebih dahulu. Hati-hati mengurai rotan-rotan Itu dari luar. Dan saat juluran rotan terakhir di tarik dari atas kepala kami, aku gemetar berusaha berdiri, mataku berkaca-kaca menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tubuhku seperti habis dicambuk. Lebam merah bekas tusukan during mulai membengkak. Berdiri gemetar.
“Hentikan tangisan kau!” Bapak menghardik Ismail, matanya melotot, “Tidak Ada lelaki di keluarga Kita yang menangis hanya gara-gara ditusuk during rotan.”
Aku meneguk ludah, buru-buru menyeka ujung Mata.
Yang menangis justru Mamak.
Siang Itu juga beberapa tetangga menggendong Ismail pulang. Aku Dan Nur masih kuat berjalan sendiri. Mamak yang sedang mencuci tikar daun pandan di sungai bergegas pulang. Dan saat melihat tubuh Ismail terlentang tanpa daya di kamar, Mamak berseru tertahan. Lihatlah, Ismail sudah seperti habis digebuki gerombolan maling.
Mata, bibir, hidungnya bengkak, membuat wajahnya terlihat aneh, tidak dikenali, Amel tertawa cekikikan melihatnya, tetapi segera menutup mulutnya saat mendengar Ismail merintih menahan rasa sakit. Mamak dengan Mata berkaca-kaca, mengambil baskom berisi air hangat, lantas dengan handuk bersih mulai membersihkan tubuh Ismail yang lebam. “Bukankah Mamak sudah bilang… Pakai baju lengan panjang… Pakai topi… Bukankah Mamak sudah bilang…”
Meski selama ini kami pandai sekali menjawab omelan siapa Saja, tapi sekarang, bagaimanalah aku Dan Ismail bisa menjawab. Bibirku juga bengkak, susah untuk bicara. Apalagi Demi melihat Mamak yang lembut mencabut duri-duri rotan yang masih menancap di badan, aku tidak kuasa menahan tangis.
Malam Itu badanku panas, seluruh tubuhku menggigil, demam, jangan Tanya apa yang dialami Ismail, dia lebih parah. Dan sepanjang malam Itu juga Mamak berjaga menunggui, tidak pergi walau selangkah pun dari pinggir dipan. Telaten mengganti kompres dahi Dan tidak henti membisikkan doa ke langit-langit kamar agar kami baik-baik Saja.
Padahal pekerjaan membuka ladang baru dimulai. Kisah sebutir nasi Itu masih panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *