Petani Adalah Kehidupan Bagian 4

Minggu Pertama, Bulan Juli.
“Apa susahnya nurut? Pakai baju lengan panjangnya! Nanti badan kau terkena duri rotan lagi!” Mamak berseru jengkel.
“Tenang, Mak. Ismail kan sudah berpengalaman. Jadi tidak Akan terulang lagi. Mana boleh keledai terperosok Dua Kali di lubang yang sama.”
“ISMAIL!!! Kau tidak boleh ikut kalau tidak memakai baju ini.” Mamak melotot.
Ismail terlihat kumur-kumur, menurut memakai baju butut dari tangan Mamak. Aku di sebelahnya sudah sejak tadi rapi memakai seragam membuka hutan.
Dua minggu berlalu sejak digendong pulang dari kepungan rotan, semuanya kembali berjalan normal. Kami sempat demam terkena infeksi duri rotan. Mantri kesehatan dari Kota kecamatan datang menyuntikkan antibiotic. Dan syukurlah, lepas dari demam, kondisi kami berangsur membaik. Bengkak bekas parutan duri mengempis, lebam birunya berangsur meredup, Mata sudah bisa melihat normal kembali, juga mulut sudah bisa mengunyah dengan enak.
Seminggu berlalu, luka-luka di lengan, betis, paha, Dan tengkuk berangsur mengering, mengelupas, bergantian dengan kulit baru. Mamak seperti tahu benar kalau kami harus makan banyak untuk proses penyembuhan, hari-hari terakhir menu Besar selalu tersedia di dapur. Membuat betah di rumah, hanya tidur-tiduran sambil membaca buku dari perpustakaan sekolah. Seminggu terakhir kami juga bisa masuk sekolah, tubuhku semakin kuat, Dan aku merasa semua baik-baik Saja.
Kami melangkah gagah mengikuti langkah Bapak menelusuri jalan setapak. Hari ini kami diijinkan lagi ikut membantu membuka hutan. Menyenangkan mendengar berisik suara burung, lenguh simpai Dan derik serangga di sepanjang jalan. Kabut putih masih membungkus pucuk-pucuk pohon, cahaya matahari pagi menerabas indah.
Hampir tiga minggu kami tidak melihat ‘hutan’ yang sedang dibuka. Saat tiba, aku tercengang juga Ismail Dan Nur yang berdiri di sebelahku. Tidak Ada lagi semak belukar yang memenuhi dasar hutan. Semua sudah berserakan terpangkas, yang tersisa hanya ratusan batang pohon Besar. Saling tatap Satu sama lain, oi, kami bisa berlarian bebas diantara batang-batang pohon ini.
Bapak melemparkan belincong ke arah kami, “Kalian bertiga pagi ini bertugas memotong pohon Itu, Itu Dan Itu.” Bapak menunjuk beberapa pohon Besar.
“Kenapa belincongnya hanya Satu?” Ismail protes.
“Biar Kalian bisa bergantian memakainya.” Bapak menyeringai. Belincong Itu semacam kapak bermata satu, dengan tungkai kayu sepanjang Satu meter. Peralatan lazim untuk menebang pohon Besar. Kalian harus mencengkram kokoh tungkainya dengan kedua tangan, lantas menghantamkan Mata kapaknya.
“Tidak mau. Ismail tidak mau bergantian. Ismail mau sendirian.” Ismail tetap protes, mengambil belincong Itu duluan, seperti yakin sekali dengan ucapannya.
Bapak tertawa, melambaikan tangan, “Baiklah, belincong Itu buat kau… Badim, Nur, Kalian duduk-duduk Saja dulu, kalau Ismail sudah lelah bisa bergantian dengannya.”
Hanya setengah jam Ismail gagah menghantamkan belincong ke batang pohon. Lewat dari Itu, dia mulai sibuk menoleh, menyeka dahi mengucurkan peluh. Tidak mudah menebang pohon, butuh tenaga Dan kesabaran, Dua Hal yang tidak dimiliki oleh Ismail sekarang, padahal jatah pohon yang harus kami tebang kecil Saja dibanding yang sedang di belincong Bapak Dan Bakwo Jar.
Lima menit berlalu lagi, Ismail akhirnya menyerah. Dia menjulurkan belincong ke Nur. Aku tertawa melihat tampang payahnya, melemparkan botol air minum. Tangan Ismail terlihat gemetar memegang botol kecil Itu. Lengan hingga bahunya senut-senut sakit.
Nur sama Saja, dia hanya bertahan setengah jam, sebelum akhirnya ikut duduk menjeplak di dekat Ismail. Giliranku, aku mencengkram tungkai belincong erat-erat. Mulai bekerja. Awalnya memang seru, melihat serpihan batang kayu yang jatuh setiap Kali Mata belincong mengenai pohon, lubang tebangan yang semakin menganga. Tetapi, lama-lama getaran belincong menghantam pohon mulai mempengaruhi tangan, berhenti sejenak, menyeka peluh, memperbaiki posisi cengkraman.
“Sudah mau gantian, Kak?” Ismail menggodaku.
Aku mendengus, enak Saja, aku bisa tahan lebih lama dibanding dia. Melanjutkan menghantamkan Mata kapak ke batang kayu.
“Cukup, Badim.” Setengah jam berkutat dengan pohon Itu, Bapak menyuruhku berhenti, dia sedang istirahat dari belincongnya, memperhatikan.
“Tanggung, Pak. Sebentar lagi juga roboh.” Aku menjawab tanpa menoleh.
“Justru itulah makanya cukup.” Bapak tertawa.
Aku menurunkan tungkai belincong, tersengal, peluh menetes, menatap Bapak today mengerti.
“Nah, kalau kau masih may melanjutkan, tebang pohon yang Itu.” Bapak menunjuk pohon di sebelahnya, “Kau tenang dari sisi kanannya. Agar kalau dia roboh, menghadap ke Kiri.”
Aku menggaruk kepala, belum paham benar apa maksud Bapak. Membuka hutan memang tidak pernah sesederhana yang kami bayangkan. Urusan menebang pohon ini saja ternyata harus dikerjakan sedemikian rapi Dan terencana. Setelah semua semak belukar dipangkas, pohon-pohon ditebang, lantas lahan dibiarkan mengering selama tiga minggu, maka Ada fase berikutnya yang amat penting, yang Akan menentukan berhasil atau tidak ladang kami, yaitu pembakaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *