Petani Adalah Kehidupan Bagian 5

Seluruh batang kayu, dedaunan Dan semak belukar Akan dibakar.
Pembakaran yang baik Akan membuat tanah matang dengan unsur hara yang Kaya dari Abu. Bagaimana melintangkan pohon-pohon kayu yang ditebang rata ke seluruh bidang tanah, tidak hanya menumpuk di Satu sisi tapi kurang di sisi lainnya Menjadi kunci keberhasilan fase pembakaran. Keliru menyusunnya, maka ladang Akan bopeng, Ada Bagian yang terlalu subur, Ada yang sebaliknya. Itulah kenapa Bapak menyuruhku today langsung menebang putus pohon, sudah Ada rumusnya.
Senja tiba, matahari mulai tumbang di ufuk barat sana.
“Kau siap?” Bapak bertanya kepadaku.
Aku menganngguk, mencengkram belincong erat-erat.
Bapak tersenyum, menyuruhku memulainya. Ini kehormatan bagiku. Sepanjang Hari adalah sekitar Lima belas pohon kayu yang berhasil ditebang tanggung sudah hampir roboh. Aku, Ismail Dan Nur meski banyak istirahat Dan mengeluh, berhasil menebang tanggung Dua pohon. Sudah sore, pekerjaan Hari ini saatnya dirampungkan. Bapak menyuruhku menyelesaikannya.
Aku mulai menghantamkan belincong ke pohon Besar Itu. Serpihan kayunya berjatuhan. Batangnya bergetar. Pohon ini sudah nyaris roboh ditebang Bakwo Jar, aku hanya tinggal melanjutkan sedikit. Ismail Dan Nur berdiri antusias di belakangku, juga Bakwo Jar Dan tetangga yang membantu kami.
Hantaman terakhir belincongku membuat pohon berderak keras. Aku segera loncat mundur. Batang pohon Itu bergetar hebat sebelum berdebam roboh. Persis menimpa pohon sebelahnya yang sudah ditebang tanggung. Seperti kartu-kartu yang berjejer rapi lantas dirobohkan, pohon-pohon Itu susul menyusul tumbang. Berdebam-debam, saling silang sesuai rencana. Ismail Dan Nur berseru kencang untuk setiap pohon yang roboh, sibuk mengacungkan kepal tangan. Aku menyeka debu tanah yang mengenai dahi. Akhirnya Lunas sudah rasa lelah sepanjang Hari. Dua pohon yang kami tebang tanggung juga ikut roboh di urutan terakhir. Melintang sesuai arah tebangannya.
Sayangnya, besok semua kesenangan ini musnah.
“Bangun, Kak.” Amel menggerak-gerakkan tubuhku.
Aduh, aku mengeluh tertahan. Seluruh badanku terasa sakit. Jangankan untuk bangun, digerakkan sedikit Saja rasanya macam Ada ribuan jarum yang menusuk.
“Bangun, Kak. Sudah siang, nanti terlambat ke sekolah.” Amel dengan rambut basah Dan seragam merah putih nya tetap menggerak-gerakkan bahuku.
Aku meringis, berusaha duduk, melihat ke dipan Ismail. Di atasnya, Ismail patah-patah berusaha turun. Mamak di Luar terdengar memanggil, mengomel kenapa belum Ada yang sarapan, aku beranjak mengambil handuk. Meringis lagi, membawa handuk seringan ini Saja rasanya seperti menggendong keranjang penuh kayu bakar.
“Oi, Kalian belum Mandi?” Kepala Mamak muncul dari bingkai pintu.
Ismail menjawab dengan ekspresi wajah nelangsa. Aku tertatih berjalan ke pancuran belakang. Sepertinya kemarin semua baik-baik Saja. Memang melelahkan menebang pohon-pohon Itu, tetapi kupikir hanya Itu. Senalam tertidur lebih cepat, nyenyak tanpa mimpi, tidak disangka pagi ini seluruh badan terasa remuk.
“Habiskan nasinya.” Mamak melotot di meja makan.
Aku menelan ludah, bukan soal menghabiskannya, daripada nanti siang Dan nanti malam mengunyah nasi dingin yang sama, kami pasti habiskan. Masalahnya sekarang, seluruh badan kami terasa sakit. Lihat, Ismail terlihat meringis setiap Kali menyendok nasi, aku tahu, lengannya pasti nyilu digerakkan.
“Mak, Ismail bisa disuapin?” Ismail menyeringai.
Mamak mendelik, memangnya kau bayi.
“Benaran, Mak. Tangan Ismail sakit semua.”
“Tidak mau.” Mamak menggeleng.
“Ya sudah, Ismail makan seperti ini Saja.” Ismail sudah memonyongkan mulutnya ke arah piring. Amel di sebelahnya segera berseru jijik, “Puh, Kak Ismail makan seperti kambing.”
Tetapi derita badan remuk ini bukan cuma soal makan. Di sekolah aku mengeluh panjang saat Pak Bejo menyuruh kami membuat karangan, sepanjang Dua halaman, dengan tulisan tebal halus pula. Kepalaku dipenuhi ide karangan, kalimat-kalimatnya, tetapi jemariku terasa nyilu, sakit saat menuliskannya. Dipaksa-paksa, senakin gemas rasanya. Tulisanku mirip cakar ayam atau malah cacing kepanasan. Tidak jelas Mana huruf vokal Mana konsonan, sambung menyambung menggumpal. Satu paragraf, tanganku berontak, jemarinya bergetar, pulpen Itu jatuh ke bawah meja. Patah-patah mengambil pulpen itu, meringis. Aku tidak Akan bisa menyelesaikan tugas ini.
“Pak, bagaimana kalau karanganku lisan Saja?” Aku berseru kepada Pak Bejo.
Pak Bejo melepas kacamata kusamnya, tidak mengerti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *