Petani Adalah Kehidupan Bagian 6

Minggu Pertama, Bulan Agustus
Butuh waktu seminggu hingga semuanya kembali pulih. “Kalau Kalian ingin pegal-pegalnya cepat hilang, Kalian harus memegang belincong secepat mungkin. Ayo, ikut ke hutan lagi.” Itu kelakar Bapak saat melihat kami tidur-tiduran di rumah. Aku Dan Ismail menjawab dengan mengernyit.
Rasanya sakit di badan Itu baru pulih ketika aku Dan Ismail coba-coba ikutan bermain bola air. Awalnya nyeri dipaksa berenang Dan mengambang, lama-lama terasa menyenangkan.
Seminggu berlalu, saat kami kembali ikut membantu Bapak, hutan seluas Satu hektar Itu Sunday separuh terpangkas. Batang pohon bergelimpangan, semak belukar yang dipotong sebulan lalu mulai layu. Aku, Ismail Dan Nur tertawa melihatnya, asyik berkejaran di atas batang pohon yang saling melintang. Naik turun, lompat kiri-kanan. Seru sekali. Batang-batang pohonnya Besar, lebih dari cukup untuk jadi Titian berlari.
“Oi, ini belincong Kalian.” Bapak meneriaki menyuruh berhenti.
Kami tertawa-tawa mendekati Bapak, dengan tubuh yang lebih kuat, lebih Segar, asyik sekali bermain di hutan. Sudah tidak tersisa rasa nyilu sepanjang minggu lalu.
“Eh, belincongnya masing-masing, Pak?” Ismail menelan ludah, bingung melihat Ada tiga belincong yang tergeletak di depan kami.
“Tentu saja. Masih banyak yang harus dikerjakan, nanti terlanjur musim penghujan. Kalau kita terlambat melakukan pembakaran, ladang Kita bisa gagal semuanya. Lagipula, bukannya Kalian lebih bersemangat sekarang?” Bapak mengedipkan Mata.
Kami tertawa, beranjak meraih belincong. Bapak, Bakwo Jar Dan beberapa tetangga yang membantu sudah mengambil posisinya, mulai menghantamkan Mata belincong ke batang pohon. Suaranya terdengar nyaring, ditingkahi berisik kicau burung, lenguh simpai Dan dengung nyamuk. Kabut masih membungkus hutan, cahaya matahari lembut menerpa wajah.
Hari Itu, kami masing-masing berhasil menebang Dua pohon. Melihat pohon-pohon Itu tumbang susul-menyusul membuat rasa lelah hilang. Nur Dan Ismail malah sibuk berbantah soal batang pohon siapa yang lebih Besar. Saling menyombong, tidak mau mengalah. Aku menggerak-gerakkan bahu, punggungku terasa pegal, jangan-jangan pas bangun besok terasa sakit seperti minggu lalu. Bapak memasukkan belincong ke dalam keranjang rotan, meneriaki Nur Dan Ismail yang sedang mengukur batang kayu masing-masing agar bergegas pulang. Hutan mulai gelap.
Esok pagi, ternyata aku bangun dengan kondisi Segar bugar. Mandi di sungai belakang kampung, menyelamkan Kepala di antara kepulan uap, dinginnya air sungai tidak terasa. Aku sarapan dengan lahap, berangkat sekolah dengan semangat. Sepertinya semua pekerjaan di hutan membuat badanku lebih kuat. Dan hari-hari berjalan cepat, pertengahan Agustus, Satu setengah bulan lagi sebelum musim penghujan, kecuali Lima batang yang sengaja disisakan, seluruh pohon di sepotong hutan Itu sudah selesai ditebang. Lima yang tersisa tiga di antaranya pohon durian, Dua pohon manggis.
Pekerjaan berikutnya jauh lebih ringan Dan mengasyikkan. Bapak menyuruh kami membersihkan tepi-tepi lahan bakal ladang. Semak belukar, dedaunan, potongan ranting, apa Saja, semuanya dibersihkan selebar tiga meter. Itu Menjadi garis pemisah antara lahan yang Akan dibakar dengan hutan sebelahnya.
“Kau tidak mau seluruh hutan ikut terbakat, bukan?” Bapak santai, balik bertanya ketika Ismail bertanya kenapa kami harus melakukannya. Maka, tanpa bertanya lagi, kami mulai membuat garis pemisah. Dengan luas lahan Satu hektar, Itu berarti hampir empat ratus meter garis pemisah, membutuhkan waktu Dua minggu.
Selepas pulang sekolah, melemoar tas, mengganti seragam, makan sianh dengan cepat, aku Dan Ismail kemudian menyusul Bapak Dan Mamak ke ladang. Dengan ‘senjata’ sengkuit, duduk jongkok melanjutkan pekerjaan. Setengah jam pegal duduk, berdiri, melemaskan badan, menatap sekitar, daun batang pohon yang tumbang sudah mulai mengering, aroma ladang tercium khas, rombongan kupu-kupu hutan yang terbang terlihat indah. Aku menyeka peluh di dahi, mungkin kupu-kupu ini sudah kehilangan rumahnya, hutan yang kami babat.
“Itu tidak tercegahkan, Badim.” Pak Bejo beberapa Hari lalu menjelaskan di kelas, “Seluruh penduduk kampung ini menggantungkan hidup dari Alam. Tetapi ingat, leluhur Kita mengajarkan keseimbangan Dan saling menghargai Satu sama lain. Kita tidak mengambil berlebihan, merusak berlebihan. Hutan disekitar adalah Bagian kehidupan. Kita membuka hutan dengan proses penuh penghargaan kepada Alam yang telah memberikan number makanan. Asal kau tahu, berpuluh tahun Bapak tinggal di kampung ini, luas seluruh ladang tidak pernah bertambah, Kita tidak pernah merambah hutan perawan. Hanya mendaur ulang kebun-kebun lama.”
“Apakah dengan melakukan Itu merusak hutan? Mengusir binatang yang hidup di sana? Iya. Tetapi Itu tidak tercegahkan. Kau tahu apa bedanya Kita yang hidup berdampingan dengan hutan dibandingkan perusal, pengusaha tambang, pembalak liar atau pemburu? Bedanya Kita melakukan semua proses Itu dengan menghormati hutan, menghormati binatang Dan tumbuhan yang hidup di dalamnya. Dulu, biasanya saat mulai menebang kayu, membakar hutan, menebar benih, leluhur Kita Akan bernyanyi, melantunkan kidung, berteriak kasih kepada Tuhan atas semuanya. Kita mengerti, sekali hutan binasa, maka Kehidupan Kita juga binasa. Apakah para perusak hutan dari Kota punya pemahaman Itu? Inilah bedanya Kita dengan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *