Petani Adalah Kehidupan Bagian 7

Aku kembali menyeka peluh, meski matahari mulai tumbang di ufuk barat sana, udara musim kemarau tetap terasa gerah. Bapak berjalan di belakang, memeriksa pekerjaan, seberapa bersih kami membuat batas dengan hutan. Celaka kalau Ada ranting yang bisa menjalarkan api ke hutan saat proses pembakaran dilakukan.
“Oi, oi…” Nur di sebelahku tiba-tiba berseru, menyikut lengan. Aku Dan Ismail menoleh.
“Lihat, Ada ayan jago hutan.” Wajah Nur mendadak cerah, tanpa menunggu sedetik pun dia sudah melempar sengkuit, menyambar keranjang rotan.
Aku Dan Ismail melihat arah yang ditujunya, benar, di atas salah satu batang pohon melintang roboh, bertengger seekor ayam jago. Bulu hitamnya mengkilat ditimpa cahaya senja.
“Kalian Bantu aku menangkapnya.” Nur berseru pelab, menunjuk-nunjuk posisi mengepung.
Aku Dan Ismail tidak perlu diteriaki, juga bergegas mengendap-endap. Selama ini sudah Dua Kali kami mengejar ayam hutan ini, tidak pernah berhasil. Selalu berhasil Kabir di balik batang kayu tumbang. Adalah setengah jam kami mengepungnya. Nur menepuk dahi, kecewa melihat ayam Itu gesit menghindar. Ayam jago ini seperti tahu kalau dia lebih gesit, berlenggak-lenggok menggoda di atas bahan pohon melintang. Lantas lompat tenang saat kami serempak menyergapnya, Ismail Dan Nut mengaduh untuk kesekian Kali, Kepala mereka tidak sengaja berbenturan.
Hingga matahari siap menghilang di balik garis kanopi hutan, hingga Bapak Dan Mamak meneriaki kami agar bergegas pulang, ayam jago Itu tidak berhasil ditangkap. “Besok Kita bawa Jala ikan Saja.” Aku mendesiskan ide. Ismail Dan Nur mengangguk sepakat.
Minggu ke 4, Bulan September
Empat minggu berlalu, akhirnya Hari pembakaran tiba.
Pekerjaan membuat garis pemisah selebar tiga meter antara lahan bakal ladang dengan hutan sebenarnya sudah selesai tiga minggu lalu, tetapi Bapak membiarkan dulu seluruh daun, ranting Dan batang kayu kering ditimpa sinar matahari. Itu syarat penting pembakaran sempurna.
Tadi malam Bapak mengumpulkan belasan tetangga, menyiapkan pembakaran lahan. Mamak dibantu Ayuk Lia menghidangkan minuman Dan kue kecil.
“Kita akan membagi kelompok seperti biasanya.” Bapak menjelaskan, “Pembakaran dimulai lepas Zuhur, pukul Satu persis, saat matahari sedang terik-teriknya. Masing-masing sisi lahan Akan dijaga enam orang, dibantu anak-anak Dan remaja tanggung.”
Tetangga yang berkumpul mengangguk. Proses ini sudah biasa, mereka terlatih melakukannya puluhan tahun. Setiap Kali Ada penduduk yang hendak membakar lahan, mereka berkumpul, bergotong-royong saling membantu. Aku, Ismail Dan Nur mengabaikan rapat, lebih sibuk menonton layar televisi, menyimak aksi jagoan koboi.
Terik matahari membuat gerah, Ismail menyela peluh. Aku Dan Ismail sejak tadi sudah membuka kancing atas, membiarkan angin lembah membasuh badan. Kami datang lebih awal, disuruh menemani Bapak memeriksa garis pembatas untuk terakhir kalinya. Air muka Bapak terlihat serious, Satu lembar daun kering Saja tidak boleh Ada. Dua jam dengan seksama memperhatikan setiap sudut, Bapak menyuruh kami berjaga-jaga di sisi barat lahan. Tetangga baru Akan berdatangan saat pembakaran dimulai mereka menyempatkan diri mengurus ladang masing-masing pagi harinya.
“Sebutkan 100 nama buah yang berakhir huruf K.” Nur memecah suara derik serangga, mengajak bermain tebak-tebakan. Bosan menunggu proses pembakaran dimulai.
“Seratus? Tidak mungkin sebanyak Itu.” Aku membantah pertanyaan tebak-tebakan Nur, tidak masuk akal.
“Mungkin kau Saja yang tidak tahu jawabannya.” Nur menyeringai.
“Jeruk… Salak… Sirsak…” Ismail di sebelah mengabaikan kami, mulai mendaftar jawaban. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terhenti, kehabisan nama buah.
“Nangkak, manggak, Pepayak, semangkak…” Isnail melanjutkan sambil tertawa, menertawakan idenya sendiri.
“Kau ngasal. Bukan Itu jawabannya.” Nur memotong.
“Oi, lantas apa lagi?” Isnail mengangkat bahu.
“Paling juga jawaban kau sama ngasalnya.” Aku melambaikan tangan ke arah Nur, tidak tertarik. Dibanding permainan teka-teki berkelas Wak Yani, tebak-tebakan ini levelnya rendah Saja. Hanya untuk hiburan, bahan tertawaan, tidak Ada filosofi Dan proses berpikirnya.
“Tidak ini. Sungguh Ada seratus nama buah.” Nur bersikukuh.
“Ayam jago!” Ismail tiba-tiba berseru.
“Mana Ada buah namanya ‘ayam jago’?”
“Ayam jago!” Ismail berseru gemas.
“Oi, kalaupun Itu busy, ujungnya bukan K.” Nur membantah bego.
“Itu ayam jagonya.” Isnail menyikut lengan Nur, menunjuk ke depan.
Aku Dan Nur langsung berseru semangat. Sudah berhari-hari kami ke ladang, repot menyiapkan Jala, ayam hutan ini tidak pernah terlihat lagi. Akhirnya, lihat, ayam jago hitam mengkilat Itu asyik loncat-loncat di antara batang kayu roboh. Seperti tidak peduli dengan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *