Petani Adalah Kehidupan Bagian 9

Minggu Pertama, bulan Oktober
Jalan setapak di tengah hutan ramai. Rombongan mengular panjang, saling beriringan. Ibu-ibu Dan anak gadis tanggung menujunjung panci, nampan Dan guci-guci, membawa makanan serta minuman. Sementara lelaki dewasa membawa berkarung-karung benih padi. Anak-anak kecil berlarian, saling ganggu, berkejaran, menyibak rombongan.
Setelah hampir tiga bulan persiapan, mulai dari membersihkan semak belukar, menebang batang pohon, membuat garis pembatas, lantas pembakaran, ladang siap digunakan. Hari ini adalah Hari menebar benih. Mamak mengundang hampir seluruh penduduk kampung, sekaligus syukuran.
“Schat, Kalian bisa tidak berhenti sebentar.” Wak Yani, tertatih-tatih dengan tongkatnya meneriaki Amel Dan Ismail yang asyik hilir-mudik menerobos barisan penduduk di jalan setapak.
“Jewer Saja, Wak.” Ayuk Lia seperti biasa langsung galak dengan ancaman hukuman, Mamak sengaja menebar benih di Hari ahad, agar Ayuk Lia Dan anak-anak kampung yang bersekolah di Kota bisa ikut serta.
Wak Yani tertawa, melambaikan tangan, “Kau ada-ada Saja, Lia. Mendaki bukit ini Saja Wawak tersengal. Bagaimana harus mengejar menjewer mereka?”
Amel menjulurkan lidah ke arah Ayuk Lia, Ismail malah lebih jahil lagi, berbisik kepada Wak Yani, “Wak semalam Isnail menemukan Surat cinta di tas Ayuk Lia. Dia punya pacar di ko…”
“Kau bilang apa, hah?” Ayuk Lia segera memotong.
“Benar, Wak. Warna kertasnya pink, Ada gambar bunga-bunga Dan kupu-kupu. Aduh, Itu anak laki-laki yang mengirimi surat aneh sekali seleranya.” Ismail tidak peduli, tetap berbisik.
Sepertinya Ayuk Lia sudah siap menurunkan panci di atas kepalanya agar dia bisa segera menangkap Ismail, tetapi Wak Yani lagi-lagi melambaikan tangan, tertawa, “Mijn lieve, besok-lusa kau baru tahu, orang terkena panah Asmara Itu lebih aneh lagi kelakuannya.”
“Siapa namanya, Lia?” Bu bidan yang juga ikut dalam rombongan menyela, melibatkan diri dalam percakapan, tertawa kecil menggoda.
Muka Ayuk Lia seketika bersemu merah. Salah tingkah. Amel Dan Ismail sudah sibuk saling jawil, berkejaran lagi. Cahaya matahari pagi lembut menerabas dedaunan, kabut masih mengungkung kanopi hutan. Suara lenguh simpai Dan derik serangga berbaur dengan percakapan penduduk. Isnail sepertinya sudah tidak merasakan sakit Luka bakar di sekujur tubuhnya. Aku juga begitu, meski menjunjung karung berisi butiran benih padi, tidak terlalu terasa. Luka-luka Itu sudah mengering, beberapa sudah terkelupas, mulai digantikan kulit baru.
Kejadian Dua minggu lalu sudah tertinggal.
Beberapa pemuda berteriak panik saat mendengar suara batuk-batuk kami. Bakwo Jar yang sedang berjaga di sisi Itu berseru-seru menyuruh pemuda menyambar dahan pohon lantas memukul-mukul api yang menyala-nyala. Percuma, tidak Alan sempat, API sudah terlanjur membesar.
Aku menggerutukan Gigi, mengambil keputusan yang tidak Akan pernah kusesali. Di depan Ada batang pohon Besar melintang ke arah garis pembatas. Api sedang memakan ujung-ujungnya. Kami tidak Akan bisa menerobos api dengan berlarian di bawah, lebih banyak semak belukar yang terbakar, tetapi melewati batang kayu melintang ini, lantas loncat sejauh mungkin seperti seekor tupai, kesempatannya masih Ada.
“Kau mendengarku, Nur? Nur?” Aku menampar pipi Nur, “Kita Akan menerobos api, lihat, Kau Naik ke atas batang kayu ini. Lari secepat mungkin.”
Nur yang sudag kepayahan, tersengal berlari dari tengah lahan, mengangguk patah-patah. Aku menampat pipinya lagi, berusaha mengembalikan konsentrasinya.
“Kau duluan.” Aku membantu Nur menaiki batang kayu melintang. “Jangan takut… Lari secepat mungkin… Lari seperti kau tidak melihat nyala api… Mengerti?”
Nur mengangguk lagi meski gemetar. Sepuluh detik mengambil ancang-ancang, Nur ternyata tidak kuasa bergerak, gemeletuk suara api mengambil keberaniannya.
“LARI!!!” Aku menghardiknya.
Berhasil, Nur reflek lari secepat kakinya bisa membawa, tiba di ujung batang kayu, lantas loncat, berteriak menerobos nyala api. Aku tidak tahu apakah Nur berhasil melewati semak belukar terbakar Dan terjatuh di areal bersih, pemuda-pemuda Itu berseru mendekat, suara Bakwo Jar, semuanya Samar.
“Ayo, Ismail. Kau bisa melakukannya.” Aku berusaha mengatur nafas, asap membuat sesak.
“Kaakk…” Ismail mencicit, gentar melihat nyala api.
“Ayo… Kau bisa melakukannya.” Aku ikut Naik di atas batang kayu, berdiri di belakang Ismail.
“Apa yang sering dikatakan Bapak?” Aku menyeka ujung Mata yang basah, pedih karena asap, juga pedih karena rasa takut, “Kita anak laki-laki. Di atas dunia ini Kita hanya takut atas Dua Hal. Takut pada Allah Dan merendahkan harga diri dengan berbuat tidak jujur. Kau dengar, Isnail… Kita tidak Akan takut dengan yang lainnya. Kita tidak Akan takut dengan api ini!”
Ismail terbatuk pelan, Lima detik waktu yang amat berharga sudah terbuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *