Petualangan Sinbad Si Penjelajah Lautan Bagian 13

Selanjutnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 12.

Si Oddo tertawa-tawa dan berteriak, “Rasain! Rasain!” sambil terbang rendah mengitari mereka.

Tak ketinggalan si Tigros menyelam dan menyembul sambil memperlihatkan gigi-giginya. Mereka berenang-renang seharian. Bahkan ada yang tertidur. Mereka ingin terbebas dari perasaan kalah dalam melawan si Gotham.

Untuk beberapa hari mereka memperbaiki kapal layar Wasiat itu dengan barang-barang seadanya. Mereka menjahit layar dan menambal geladak, menyambung tiang –tiang yang patah, dan menambal kebocoran.

Pengaruh air asin dari  Laut Mati itu sangatlah ampuh. Luka-luka yang diderita semua para awak kapal Wasiat itu pun cepat sembuh sehingga semangat untuk melanjutkan mengembaraannya berkobar kembali. Tak terkira dari hari ke hari penantian, si Oddo dan si Tigros telah berubah menjadi binatang raksasa. Mereka sepuluh kali  lipat lebih besarnya dari kapal layar Wasiat itu. Allahu Akbar. Sang kapten Sinbad dan para awak kapal Wasiat itu pun terkagum-kagum kepada kedua binatang tersebut. Apakah ini ada pengaruhnya dari air asin Laut Mati? Hanya Allah SWT yang tahu.

Sambil berkacak pinggang si Oddo pun berseru ke udara, “Aku harus membalas dendam pada si Gotham!”

“Jangan! Nanti dulu,” sergah sang kapten Sinbad.

“Tidak! Aku minta dua restu untuk menghancurkan si Gotham.”

“Jangan, Oddo sebesar apa pun kamu, kamu hanya seekor beo. Kamu tidak punya gigi dan taring. Tidak akan mungkin dapat mengalahkan si Gotham.”

“Aku bisa bisa bikin dia keok!”

“Aku bisa menerkam dia!” timpal si Tigros membantu si Oddo.

“Kalian berdua akan dikalahkan dengan mudah oleh si Gotham. Ia burung pencabut nyawa.”

Tetapi sang kapten Sinbad dan para awak kapalnya tetap tak bisa mencegah si Oddo dan si Tigros. Kedua binatang yang berjalan itu menimbulkan gempa dan terbang menimbulkan angin ribut lalu berangkat untuk mencari si Gotham dan membalaskan dendam tuannya.

Malam harinya sang kapten Sinbad dan para awak kapalnya berdoa bagi keselamatan kedua binatang-binatang itu. Mereka lalu kemudian menepikan kapal layar Wasiat dan berlabuh dipantai yang berpasir itu.

Setelah selesai berpetualang di tujuh Samudera, sekarang kapten Sinbad dan teman-temannya harus putar otak seribu kali untuk mengangkut kapal daripada mencari musuh. Lebih baik menarik kapal layar Wasiat untuk kembali ke negeri Irak. Alangkah jauhnya jarak antara Laut Mati dengan Baghdad.

Mengingat Laut Mati merupakan danau yang tak berhubungan dengan laut atau sungai ke tempat lain, sang kapten Sinbad pun harus memasangkan kayu-kayu sepanjang ratusan kilometer supaya kapal layar Wasiat itu bisa dengan mulusnya ditarik ke negeri Irak.

Subhanallah. Darimana bisa didapatkan kayu-kayu sebanyak itu? Dan darimana bisa didapatkan tenaga yang begitu banyak untuk cukup kuat menarik kapal layar Wasiat itu?

Sang kapten Sinbad dan teman-temannya pun bertahajud untuk memohon berkah kepada Allah SWT supaya mampu mengatasi persoalan yang rumit ini. tak terasa sedikit pun, ketika sang kapten dan awak kapalnya mentas dari mandi dan berenang pagi itu, badan mereka pun telah berkembang menjadi raksasa. Sama raksasanya dengan si Oddo dan si Tigros. Subhanallah.

Mereka saling keheranan dan tertawa. Mereka saling tunjuk. Mereka meraba-raba tubuh mereka masing-masing. Mereka tertegun. Lalu mereka melakukan sujud syukur atas karunia yang tak terkira ini. sekarang tak ada masalah lagi bagi mereka, untuk membawa kapal layar Wasiat itu untuk kembali ke kampung halaman. Siapa pun bisa menentengnya dengan sangat ringan dan mudah menuju Teluk Persia.

“Kita harus cepat-cepat pulang kampung sebelum kita berubah menjadi kecil lagi,” kata sang kapten Sinbad memberikan aba-abanya kepada seluruh awak kapalnya.

Maka mereka berbondong-bondong kembali ke negeri Irak dengan berjalan kaki. Salah seorang dari mereka menenteng kapal layar Wasiat dengan santainya. Sebagai raksasa mereka tidak membutuhkan waktu banyak untuk melangkah di padang pasir.

Dalam langkah-langkahnya yang lebar dan menimbulkan gempa, sang kapten Sinbad mendengar suara mencericit dan auman. Ketika menoleh ke bawah, sang kapten Sinbad menemukan si Tigros sebesar batu genggaman dan Si Oddo sebesar nyamuk yang terluka tercabik-cabik. Sang kapten Sinbad pun memungut kedua binatang itu sambil bertanya.

“Apakah si Gotham sudah bisa kalian binasakan?”

“Jangan menyindir!”  si Oddo berteriak sambil menahan rasa sakitnya.

Mendengar jawaban dari keduanya, sang kapten Sinbad dan teman-temannya pun tertawa terbahak-bahak sambil terus melangkah menuju kampung halaman.”