Petualangan Sinbad Si Penjelajah Lautan Bagian 5

Sebelumnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 4.

Tampak sinar itu mendekat. Bola api putih itu melintas dengan cepatnya di atas kapal layar Wasiat, menyebabkan keadaan di dekitar kapal itu menjadi terang benderang, bola api itu dikejar-kejar terus oleh batang sinar yang meliuk-liuk secepat kilat. Lalu keduanya menghilang di balik awan. Para awak kapal Wasiat itu cuma bisa terbengong-bengong sambil matanya terus mengikuti kemana bongkahan sinar itu lenyap dan si Oddo pun menjerit ketakutan.

“Naga langit!” teriak si Oddo sambil menyembunyikan tubuhnya ke dalam rompi Sinbad.

“Wah gawat!” teriak para awak kapal itu sambil bersiaga di tempatnya masing-masing.

Tiba-tiba si bola api itu muncul  lagi dari kegelapan malam di langit. Lalu dengan derasnya terjun ke dalam laut di sebelah kapal layar Wasiat, yang menimbulkan suara ledakan yang sangat keras. Kapal layar Wasiat itu terguncang hebat disusul terjunnya batang sinar yang meliuk-liuk yang tak lain dan tak bukan adalah seekor naga langit yang sedang mengejar bola api itu.

Keduanya berlari-lari di dalam laut, menimbulkan terang benderang dan gelombang dari dalam. Kapal layar Wasiat pun di sundul gelombang, terangkat naik  ke atas, dan di jatuhkan kembali, yang menyebabkan semua awak kapal itu serasa di banting-banting. Mereka pun saling bergulingan persis kelereng ke berbagai arah.

“Belok kanan!” seru sang Kapten Sinbad sambil menjenguk ke bawah di samping kapal. Juru kendali membelokkan kapal layar Wasiat itu ke kanan. Si Oddo terbang ke puncak tiang utama. Para awak kapal lainnya menjenguk ke bawah, di bagian sisi kapal yang lain.

Apa yang terjadi?

Gelembung-gelembung air sebesar-besar gunung menggulung ke atas yang kembali mengangkat kapal layar Wasiat seperti menyundul awan-gemawan lalu jatuh kembali berdempyar menghantam air. Dua orang awak kapal wasiat itu terlempar ke laut. Mereka tenggelam digulung gelembung air laut yang meletup-letup. Masya Allah. Boleh jadi ada sesuatu yang bergolak-golak di dasar lautan, karena tidak mungkin laut yang begitu berat dan luas bisa menggelembung seperti itu jika tidak ada sesuatu yang saling telan di dalamnya.

Kapal layar Wasiat yang melaju dan merasa sudah terbebas, tiba-tiba saja kapal itu terbang ke angkasa

“Awas, raksasa laut lagi berantam sama naga langit!” teriak si Oddo menggigil ketakutan di puncak tiang utama.

Memang. Siapa yang dapat mengira, kapal layar Wasiat itu kebetulan bertengger di pundak raksasa laut yang besarnya sebesar gunung Mahameru yang sedang bergelut dengan naga langit. Gulung-menggulung, belit-membelit, kedua makhluk sebesar gunung itu saling mencekik, memperebutkan bola api yang sebenarnya mutiara langit. Siapa saja, makhluk apa pun, sangat menginginkan bola api itu. Sementara itu. Kapal layar Wasiat yang terbanting kembali ke dalam air, basah kuyup layarnya persis kerupuk, mencoba melarikan diri dari pertarungan yang dasyat itu.

Bola api yang menjadi rebutan itu melesat dari dalam laut ke atas, melewati kepala si Oddo, sehingga burung beo itu serta merta menginginkan bola api tersebut agar bisa menjadi miliknya. “Bola api yang elok, aku ingin kamu!” seru si Oddo yang didengar oleh seorang awak kapal yang sedang berjaga-jaga di puncak tiang. Akan tetapi sebelum binatang itu selesai dengan lamunannya, kapal layar Wasiat pun terbanting kembali, yang membuat si Oddo si burung beo itu ikut terbanting membentur tali-temali kapal. Alhamdullilah, hanya terbentur tali-temali.

Kedua raksasa yang berlainan jenisnya itu saling membanting dan saling menerkam, saling bernafsu untuk menenggelamkan. Raksasa laut itu punya dua tangan dan dua kaki, sedangkan si naga laut punya enam kaki yang cengkeramannya bukan main kuatnya. Bahkan air laut pun bisa ia cengkeram. Sedangkan raksasa air laut bisa kuat juga dalam membanting. Bahkan air laut pun bisa ia banting. Seram. Mengerikan.

Raksasa laut menggeram sampai menimbulkan gempa. Kedua makhuk itu saling unjuk kesaktiannya. Tidak ada satu pun yang merasakan kelelahan dalam perkelahian itu. Ketika pertarungan itu berlangsung di dasar laut, kapal layar Wasiat itu pun cepat-cepat melarikan diri lagi.

Tetapi belum sejauh seperti yang di harapkan. Kapal layar wasiat itu kehujanan batu sebesar-besar gajah. Rupanya batu-batu itu dari gempilan bintang-bintang di langit yang gugur ke bumi karena gempa yang melanda langit akibat lengkingan maut naga langit tadi. Alhamdullilah, batu-batu itu tidak ada yang mengenai kapal layar itu karena raksasa laut yang membanting naga langit, sama-sama terlempar ke udara. Persis sebagai tameng yang menutupi badan kapal layar Wasiat dari hujan batu itu.

Mereka sangat tergoncang jiwanya oleh kehilangan dua awak kapal dan melihat pertarungan yang seram antara naga langit dan raksasa laut yang agaknya tak pernah usai. Lalu kapten Sinbad pun memerintahkan.

Selanjutnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 6.