Petualangan Sinbad Si Penjelajah Lautan Bagian 6

Sebelumnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 5.

Lalu Sang Kapten Sinbad pun memerintahkan agar kapal layar Wasiatnya bisa menyandar disebuah pulau yang pertama ditemuinya untuk beristirahat. Kebetulan dapat dijumpai gugusan pulau kecil-kecil yang memanjang, sangat subur dan sejuk serta tenteram.

Karena seharian tak ditemui seorang pun penghuni pulau itu, dan merasa menjadi orang yang pertama menemukan pulau itu, sang kapten Sinbad pun memberi nama pulau itu Gugusan Jubati Khuldi. Nama itu untuk mengenang kedua awak kapal yang hilang ditelan laut itu. Jubati dan Khuldi. Sindbad merasakan tak enak makan, tak enak tidur, memikirkan kedua sahabat kentalnya yang  naas itu.

Beberapa orang awak kapal muncul dari hutan di siang itu, mereka membawa binatang buruan liar. Mereka beramai-ramai menikmati daging sapi bakar dan roti bakar bekalnya. Ikan laut? Alhamdullilah bahkan saking suburnya Samudera Pasifik itu, mereka menggaet berbagai ikan laut dengan tangan telanjang

Pulau yang indah itu ternyata juga menjadi kerajaan nyamuk yang jahat. Malam hari bagi mereka berubah menjadi malam perjuangan melawan ribuan nyamuk-nyamuk yang ingin dan bernafsu mengerogoti darah mereka. Dengan obor yang terus dinyalakan dan dengan berbagai ramuan dari tumbuh-tumbuhan yang dibakar, nyamuk-nyamuk itu terusir. Hanya saja. Beberapa korban yang berjatuhan. Mereka dicaplok malaria. Demam dan menggigil sepanjang hari, itu merupakan suatu gejala dari penyakit aneh yang tidak bisa mereka mengerti.

Hari-hari berikutnya, mereka mengenal berbagai jenis buah yang lezat tak berbanding. Kelapa dengan airnya yang manis, duren, nangka, mangga, pisang, rambutan, pepaya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Juga umbi-umbian serta berbagai jenis sayuran-sayuran, yang diantaranya ada tomat, mentimun, bayam, kangkung, kacang panjang, kol, salad, dan masih banyak lagi yang menjadi kewajiban ahli bangsa-bangsa atau antropolog untuk mencatatnya. Pakar yang ada dalam rombongan pelayaran kapten Sinbad itu mencatatnya dan menggambar jenis buah-buahan dan sayuran itu, disamping melukis peri laut, naga langit, dan raksasa laut, nyamuk, sapi liar, kijang, kebau liar, banteng, harimau, ular, kelinci dan tikus.

“Inilah surga!” teriak si Oddo kegirangan sambil terbang ke sana, ke mari sambil menenteng cuwilan pepaya. Para awak kapal wasiat pun tertawa melihat cara terbang si Oddo sambil menikmati buah duren yang bukan main lezatnya itu.

Si Oddo juga punya kebiasaan menirukan gaya orang-orang. Gaya berjalan, gaya makan, dan juga gaya ketika ngobrol.

“Tuan-tuan. Ini dia Pak Astronom!” teriak si Oddo memberikan pengumuman yang maksudnya mau menirukan gaya Astronom yang ikut dalam pelayaran itu. Si Oddo lalu berjalan di atas kayu dayung sekoci yang tergeletak di atas pasir di tengah lingkaran para awak kapal yang sedang makan dan minum. Si Oddo pun menirukan cara  berjalan sang Astronom yang membuat para awak kapal itu tertawa terbahak-bahak. Lalu gaya makannya yang disusul dengan gayanya berkata-kata. Bukan main.

Orang-orang itu terpingkal-pingkal menyaksikan kebolehan si Oddo. Para awak kapal itu sungguh merasa sangat terhibur dan penuh kekaguman, bagaimana mungkin binatang sekecil  si Oddo burung beo Sinbad bisa-bisanya dia menirukan tingkah laku manusia, ini adalah binatang yang jenius, kata mereka.

“Saya dengar kamu menginginkan bola api, ya?” tukas Kapten Sinbad tiba-tiba. Ketika terjadi perkelahian antara naga langit melawan raksasa laut untuk memperebutkan mutiara langit. Si Oddo terpikat juga untuk memiliki benda indah, yang melintas di atas kepalanya.

“Ah, itu fitnah!” jawab si Oddo cemberut, yang seketika itu pula mendapat sorak-sorai dari semua awak kapal pesiar Wasiat itu.

“Lho, kalau kamu benar-benar menginginkannya , seluruh awak kapal layar Wasiat akan berjuang untuk memburunya,” lanjut sang kapten Sinbad, “Hanya saja, kalau kamu nanti ingin memegangnya dan tiba-tiba bola api itu menggelinding lantas menggilas kamu, bagaimana?”

Mendengar sindiran ini, seluruh awak kapal Wasiat pun semakin menyoraki si Oddo.

“Sinbad ! kamu jangan ngaco! Biar aku kecil, aku bisa tendang bola yang segede rumah itu ke angkasa raya!” jawab si Oddo berkacak pinggang dengan sayapnya.

“Bola itu memang terpental ke udara, tapi sayapmu nyangkut, membuat kamu juga ikut terseret ke angkasa. Apa tidak megap-megap kamu?”

Kembali semua awak kapal Wasiat itu tertawa riuh.

Dengan cemberutnya si Oddo pun menjawab, “Tidak usah banyak cing-cong, coba bawa kemari bola apinya, biar kuringkus!”

“Tidak usah pakai bola api, bagaimana kalau dengan yang ini saja?” kata seorang awak kapal yang diam-diam mendekati si Oddo dari belakang.

Begitu menoleh kebelakang si Oddo pun terkejut setengah mati karena kepalanya itu beradu dengan kepala seekor macan yang menggeram. Seketika itu juga si Oddo menjerit-jerit terbang menjauh, yang di ikuti dengan sorak-sorai Kapten Sinbad dan seluruh awak kapal layar Wasiat yang melihat kejadian itu.

Selanjutnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 7.