Petualangan Sinbad Si Penjelajah Lautan Bagian 7

Sebelumnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 6.

Ketika menyusuri kepulauan Indos Nesos yang jumlahnya tidak kurang dari 33.000 pulau besar kecil untuk menuju Samudera India, kapal layar Wasiat terseret oleh hembusan angin barat yang berat. Maunya yang ke barat, malah di sorong ke timur. Layar-layar yang diturunkan tidak dapat menolong. Kapal layar Wasiat itu seolah-olah didorong ke arah timur sampai mentok ke Benua Astra-Australios.

Kapten Sinbad lalu shalat Istikhoroh dua rakaat, memohon petunjuk-Nya kemana arah dan tujuan selanjutnya. Ternyata kapal layar Wasiat itu pun terus saja berlayar menyusuri Benua kangguru itu ke selatan. Ya, ke arah selatan, Kapten Sinbad pun akhirnya pasrah.

“Burung-burung laut dengan sayapnya yang panjang mematuki ikan dari udara. Laut yang dingin, udara yang dingin. Kapal jadi mainan dari orang-orang yang berdiang.”

Begitulah bait dari isi puisi yang ditulis  Sang Kapten Sinbad. Sejak dari kecil ia belajar dan diajarkan oleh ibunya untuk membikin puisi. Sedang dari sang pengamen ia diajarkan dalam meniup seruling sampai piawai. Puisi dan suara seruling itu kata Sinbad, merupakan perpaduan antara bumi dengan langit. Ia mempercayai  perpaduan dari keduanya, sehingga ia pun dapat betah melaut di Samudera lepas.

Ketika ia sudah menginjak usia 15 tahunan, Sinbad muda sering membawa ibu dan ayahnya untuk pergi melaut, ke negeri-ngeri terdekat di lautan Tengah untuk berdagang. Ia bekerja pada seorang saudagar karpet yang dermawan, yang tidak berkeberatan pegawainya untuk membawa serta ayah dan ibunya ke kapal sekedar untuk melancong ke negeri-negeri tetangga. Misalnya mereka diajak ke negeri Prancis yang terkenal itu negeri yang kaya akan anggurnya. Ketika ia berusia 10 tahunan, Sinbad kecil pernah juga bekerja sebagai seorang pemetik buah anggur di Prancis selatan. Ia betul-betul seorang Pengembara dan Pelaut yang tulen.

Anak tunggal yang biasanya manja, tidak demikian dengan Sinbad. Tetapi ia justru yang paling menunjukkan perhatiannya terlebih dahulu kepada ke dua orang tuanya itu. Sebelum kedua orang tuanya itu menunjukkan perhatian terhadap dirinya itu. Sinbad suka dan sering membawakan oleh-oleh kain, perhiasan, dan makanan dari negeri-negeri yang pernah dikunjunginya.

Kepada teman-teman sekampungnya, di dataran sungai Eufrat dn sungai Tigris, di kerajaan seribu satu malam, Sinbad juga pernah mengoleh-olehi manisan-manisan atau buku-buku. Pernah juga ia mengajak teman-temannya untuyk pergi piknik ke Ibukota Baghdad, yang terkenal akan ke indahannya yang kelewat-lewat.

“ Hei. Tuan kapten jangan kamu senyum-senyum sendiri, nanti kamu bisa disambar gudurewo laut,” kata si Oddo yang melihat tuannya berbaring sambil tersenyum-senyum sendirian.

“Saya teringat pada teman-temanku di kampung,” sahut sang kapten Sinbad.

Si Oddo lalu mematuk matuki pintu yang tertutup, ia ingin keluar, akan tetapi petukannya itu sangatlah lemah untuk ukuran pintu geladak yang dari kayu yang cukup tebal dan kuat bagi tenaganya,

Dengan ogah-ogahan kapten Sinbad membukakan pintunya. Begitu pintu tersebut di buka bukan main dinginnya diluar sana. Salju abadi menyelimuti Laut Antartika, dan si Oddo pun lalu menyorongkan tubuhnya kedalam jubah Sang kapten untuk mendapatkan kehangatan. Rupanya kapal layar Wasiat itu berlayar di laut yang telah membeku, sehingga sudah tidak bisa membedakan mana Laut Antartika, dan mana Benua Antartika. Selayang pandang hanya es melulu. Cakrawala memutih.

Rasanya waktu kemarin-waktu kini-waktu nanti, telah menyatu. Tidak dapat dibedakan lagi. Matahari tidak nampak. Bulan tidak nampak. Langit tidak nampak. Orang-orang tidak nampak. Kecuali bongkahan-bongkahan es yang bergerak ke sana-kemari. Kapal layar Wasiat sendiri bak kapal mainan yang meluncur di atas dataran yang sejauh mata memandang hanya warna putih yang tergelar.

Sang kapten Sinbad yang di ikuti si Oddo turun dari geladak ke kandang macan, awak kapal baru yang berkaki empat yang ia bawa dari gugusan jubala khuldi, di samudera pasifik dulu. Sang kapten Sinbad pun memberi nama macan loreng yang telah jinak ini dengan sebutan  si Tigris, yang dulu menakuti si Oddo sehingga si Oddo puun terbang terbirit-birit, yang membuat semua awak kapal itu tetawa terbahak-bahak. Sang kapten Sinbad pun mengelus-elus Tigros, dan macan loreng itu menjilat-jilati jari-jemarinya Sinbad.

“Ngak usah terlalu di sayang. Nanti dia jadi manja,” tukas si Oddo dengan ketus.

“Jadi maksud kamu yang boleh di sayang itu hanya si burung beo, begitu?” sahut sang kapten Sinbad.

“Jelas dong,” kata si Oddo terkekeh-kekeh.

Sinbad lalu menyelimuti Tigros dengan selimut tebal dan memberi daging segar untuk makannya. Si Oddo cemberut menyaksikan kejadian itu.

Sementara itu di geladak nampak kesibukan awak yang lapar. Sang kapten Sinbad memerintahkan kapalnya untuk segera berhenti. Ia meminta beberapa orang untuk menangkap ikan.

Selanjutnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 8.