Petualangan Sinbad Si Penjelajah Lautan Bagian 8

Sebelumnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 7.

Ia meminta beberapa orang untuk menangkap ikan. Untuk mempertahankan hawa panas badan dalam melawan hawa dingin, orang-orang itu harus banyak  makan ikan.

Dengan cepat semua awak kapal layar Wasiat pun beramai-ramai mengayunkan kapak, linggis, sekop, pahat, untuk menggali laut es yang telah membeku itu. Karena lautan es itu bukan main tebalnya, mereka juga melubanginya dengan menggunakan gasing yang besar, yang diputar lewat busur yang besar. Setelah beberapa saat lamanya, lapisan es itu mulai pecah dan ikan pun berloncatan keluar seperti air mancur.

Di dalam ruangan yang sempit, para awak kapal Wasiat pun  membakar ikan itu dan mereka pun sama-sama menikmatinya dengan roti bakar, sambel padas, dan kecap. Begitu nikmat dan lezatnya sampai-sampai mereka tidak punya kesempatan untuk mengobrol.

Suasana keheningan tidak berlangsung lama ketika suara gemuruh terdengar. Terasa kapal layar Wasiat itu pun bergoyang-goyang  seperti di goyangkan oleh gempa. Sang kapten Sinbad pun berlarian ke luar. Nampak segerombolan besar gajah-gajah purba yang besar-besardengan sepasang gadingnya yang melengkung ke atas berlarian di samping kapal Wasiat itu.

Gajah-gajah purba yang berbulu tebal dan berwarna putih itu menderu berlarian tak menghiraukan kehadiran sebuah kapal layar itu. Mereka mendengus-dengus menyemprotkan udara yang serta merta beku berwarna putih. Kapten Sinbad meminta awak kapalnya untuk tidak bergerak sama sekali supaya tidak menarik perhatian binatang-binatang yang rupanya kebingungan dan ketakutan itu.

Ternyata di sana, di sebelah kanan nun jauh di sana, sebuah gunung api muncul dari permukaan es. Gunung berapi itu semakin lama semakin meninggi, menembus awan es ke angkasa, memuntahkan lahar dan awan panas. Kapal layar Wasiat pun tergoncang seperti perahu mainan anak-anak keci yang bermain di selokan.

“Subhanallah,” seru Sinbad yang menyaksikan gunung berapi yang perkasa itu meninggi dan lalu terpenggal karena meledak. Meninggi lagi dan lalu terpenggal lagi kemudian meledak lagi. Dataran es yang panjang itu pun ikut berledakan ke udara, bekeping-keping dan jatuh kembali, berdentuman bunyinya dan memuncratkan air laut kemana-mana.

“Horee!“ seru si Oddo sambil dia terbang mengelilingi kepala-kepala para awak kapal layar wasiat itu yang terbengong-bengong. “Tidak dingin lagi.  Hangat. Hangat!” seru si Oddo lagi.

Memang lahar dan awan panas itu telah menyebabkan udara di Kutub Selatan yang beku itu berubah menjadi panas. Para awak kapal Wasiat itu bersorak-sorai.

Sang kapten Sinbad pun tidak mengerti akan kelakuan semua awak kapalnya yang mensyukuri kejadian letusan itu. Sebenarnya menyedihkan sekali, mengingat banyak binatang-binatang dan penghuninya yang berlarian menyelamatkan diri.

Tidak disangka, timbunan abu panas itu pun menghujani kapal Wasiat itu. Dengan cepat para awak kapal Wasiat itu menutupi kepalanya dengan tudung atau kain-kain yang ada di sekitarnya

Sang kapten Sinbad pun lalu memerintahkan anak buahnya agar kapal Wasiatnya berlayar pergi menjauh dari letusan gunung berapi itu. Hanya saja laju kapal itu tidak lancar lantaran banyak terbentur-bentur oleh rintangan-rintangan balok es yang besar dan keras. Kapal layar Wasiat lalu bersembunyi di balik bukit es yang menjulang dan berhenti di sebuah gua.

Si Oddo terbang ke luar untuk melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Di susul oleh para awak kapal. Juga sang kapten Sinbad yang naik Tigros dan sudah tidak kedinginan lagi.

“Cepat! Cepat!” teriak si Oddo dari kedalaman gua.

Para awak kapal Wasiat pun lalu mereka menyalakan obor dan di kedalaman gua itu terlihatlah gundukan kuburan gajah. Tulang-tulang rangka dan gading-gading bercuatan memenuhi kawasan itu. Bahkan ada pula bukit intan dan berlian yang bersinar-sinar memenuhi tanah dan dindingnya. Dan si Tigros pun mengaum-ngaum seperti menunjukkan kegembiraannya tapi di cibir oleh si Oddo si burung beo yang kecil itu.

Sang kapten dan para anak buahnya segera mengumpulkan puluhan gading dan ribuan intan berlian yang dimuatkan pada tulang-tulang rangka yang di rangkai menjadi sebuah kereta salju. Si Tigros yang mendapatkan kesempatan dan tugas untuk menarik kereta salju, ia terseok-seok jalannya karena bukan main beratnya barang bawaan itu. Meski pun para awak kapal Wasiat itu membantu menarik dan juga mendorongnya.

Hampir-hampir kapal layar Wasiat itu tidak bisa meninggalkan Laut Antartika. Karena kapal tersebut di bakar oleh debu yang panas, dan hujan dari bongkahan-bongkahan es. Akhirnya si kapal layar Wasiat itu bergerak dalam keadaan yang compang-camping. Ketika mencapai ke lautan yang bebas, si kapal layar itu berlayar dalam keadaan miring.

Sang kapten Sinbad memerintahkan anak buahnya untuk menyusuri kembali pantai Benua Astra-Australios. Di samping itu untuk lebih mudah menyelamatkan diri jika terjadi apa-apa, para awak kapal juga lebih tenang untuk mempebaiki kerusakkan kapal layar Wasiat itu.

Selanjutnya petualangan sinbad si penjelajah lautan bagian 9.